Perempuan...  

Wednesday, August 15, 2007

Oleh: Aini Aryani M.


“HUH…CUMA PEREMPUAN!!!”
Desau meremehkan yang sering didengarnya dari mulut makhluk jumawa bernama LAKI-LAKI. Underestimate. Ia benci…!!! “Aku bukan perempuan biasa. Aku mampu menyaingi makhluk-makhluk pongah itu,” ikrarnya dalam hati. Kenapa tidak???? Bahkan dirinya pernah menyingkirkan sejumlah laki-laki dalam sebuah olimpiade sains dunia.

Perempuan paro baya itu tersenyum mendapati pernyataan seorang Sosialis hebat, Friedrich Engels yang merujuk pada teori Marxis klasik bahwa perubahan status perempuan hanya dapat terjadi melalui revolusi sosialis, perempuan akan mencapai keadilan sejati jika urusan domestikasi diubah bentuk menjadi industri sosial, dan mendidik anak menjadi urusan publik.

Yeah...konsep ini yang ia cari. Ia tak suka melihat para wanita menjadi abdi suami mereka, menjadikan diri mereka kelas kedua dalam rumah sendiri, dan hanya bisa diam ketika posisinya ditempatkan dibelakang laki-laki. Lihat saja dalam ritual shalat bersama. “Uffhh....budak kontemporer yang tunduk pada si Pemasung kebebasan perempuan” desisnya. Ia heran, mengapa begitu banyak wanita yang malah menikmati itu semua.

Gamang menyelusup di ruang dalam hatinya, lalu bermimpi andai dirinya sehebat Mary Wollstonecraft (Amerika), Helene Cixous (Prancis), Julia Kristeva (Bulgaria), Fatimah Mernissi (Maroko), Taslima Nasreen (Bangladesh), Riffat Hassan (Pakistan), Ashgar Ali Engineer (India), Huda Sya’rawi (Mesir), Aminah Wadud Muhsin (Malaysia), atau Gadis Arivia (Indonesia). Tentulah ia dapat memangkas cara berpikir kaumnya. Paling tidak, agar mereka tak lagi menjadi budak laki-laki. Dirinya sanggup berada di garda terdepan demi mengusung Gender Equality, di segala bidang kalau perlu. Ya...di segala bidang, tanpa diskriminasi...!!

Peristiwa The Love Boat...
Berbagai eksperimen untuk membuktikan bahwa PRIA DAN WANITA SERATUS PERSEN SAMA telah menyebabkan banyak kerugian. Tahun 1997 pemerintah Inggris memberlakukan “Gender Free Approach” dalam merekrut tentaranya dan mengadakan ujian fisik yang sama kepada kadet pria dan wanita. Yang terjadi adalah tingkat cedera yang tinggi di kalangan kadet wanita. Dalam Perang Teluk, satu per 10 kru wanita Kapal Perang Amerika USS Acadia dikembalikan karena hamil di perjalanan menuju atau di medan perang, sementara jumlah tentara pria yang dikembalikan: Nol. Kapal itu kemudian diolok-olok sebagai The Love Boat.

Hiyyy...ia merinding. Ternyata fisik wanita dan pria memang tak sama kuat. Tapi baginya itu bukanlah sebuah excuse untuk menjastifikasi superioritas laki-laki atas kaumnya. Lalu kenapa wanita mau memasung hak dan freedom-nya demi laki-laki??? Apa yang mereka cari??? Mengapa Tuhan menetapkan peraturan yang begitu patriarkal??? Adakah laki-laki lebih mulia dihadapan-Nya karena alasan itu??? Jika ia, sungguh malang dirinya dengan kodrat sebagai wanita. Haruskah dirinya berpaling pada agama lain yang mungkin meninggikan derajad kaumnya???.....Jiwanya merintih. Menggugat Tuhan. Meragukan keyakinan.

Talmud (kitab aturan kehidupan pribadi & peribadatan Yahudi):
“Berbahagialah orang-orang yang mempunyai anak laki-laki, dan celakalah orang-orang yang mempunyai anak perempuan.”

Aristoteles (Filosuf Yunani):
“Kekuasaan orang-orang yang bebas terhadap para budak adalah salah satu bentuk hukum alam; demikian pula kekuasaan kaum lelaki atas kaum perempuan....”

Kitab-kitab landasan perundang-undangan Hindu:
“Budak, istri (wanita) dan hamba sahaya tidak boleh memiliki harta.” (Manu 8:46).
“Wanita dan binatang mesti ditekan dengan kekerasan.” (Ramayana).
“Dengan wanita tidak boleh dilakukan persahabatan, karena hati wanita adalah lubang srigala.” (Regweda).

John Chrysostom (Pendeta Kristiani):
“Karena wanitalah, setan memperoleh kemenangan dan karena itu pula surga menjadi hilang. Dari segala binatang buas, perempuanlah yang paling berbahaya.”

Carl Vogt (Penganut Paham Darwinisme):
“Dimanapun kita merasakan pendekatan terhadap jenis binatang, perempuan lebih dekat dengannya daripada laki-laki...Oleh sebab itu, kita akan menemukan lebih banyak kemiripan (menyerupai kera) jika kita mengambil wanita sebagai patokan.”

Perempuan itu merinding. Jiwanya bergetar. Geram. Hanya satu kata yang dapat mewakili perasaannya; “Biadab!!!”. Baginya, pandangan-pandangan itulah yang berporos budaya patriarki. Bahkan menganggap wanita sederajad dengan binatang. “Benar-benar inhuman,” pikirnya. Ternyata memang hanya agamanyalah yang memuliakan wanita.

Begitu banyak pelanggaran dalam islam yang hukumannya berupa membebaskan budak wanita. Begitu banyak pula adat-adat tak manusiawi yang dihapus oleh Islam, semacam Nikah ad-Dayzan , Nikah as-Syighār , Nikah al-Badal , Zawaj al-Istibdhā‘ , Nikah Mut’ah ,dll. Tidakkah itu artinya Islam datang dengan membawa kemuliaan bagi kaumnya??

Islam tidak memandang bahwa laki-laki lebih tinggi dihadapan Allah hanya karena menjadi kepala rumah tangga, imam atau berdiri di shaf depan wanita. Karena masing-masing tentunya mendapatkan ganjaran yang sama dalam melaksanakan tugas yang sudah dibagi-Nya. Yang menjadi patokan hanyalah satu: “Tingkat Takwa”, dan itu tak ada relasinya dengan gender. Siapapun mampu dan dipersilakan berlomba-lomba mencapainya.

Bagai salju di musim panas. Uraian tersebut sungguh menyejukkan hatinya. Menebas paradigma negatifnya hingga tumbang. Ya…kenapa ia baru menyadari itu semua di usianya yang setua ini. Hampir saja ia tergelincir ke jurang feminisme radikal. Padahal paham itu lahir dalam konteks sosio-historis khas di negara-negara Barat terutama abad XIX–XX M ketika wanita tertindas oleh sistem masyarakat liberal-kapitalistik yang cenderung eksploitatif. Sedangkan dirinya bukan bagian dari mereka.

Ah...sungguh beruntung menjadi seorang muslim/ah, memiliki budaya yang jauh beradab dari mereka yang mengaku beradab, tapi moral terbelakang. Buktinya....mereka menyamakan wanita dengan binatang, sementara mereka tak bisa hidup tanpa wanita.

Dalam remang, ia bersujud. Bersyukur Tuhan masih merengkuh hati dan otaknya. Man izdada ilman wa lam yazdad hudan, lam yazdad minaLLAHi illa bu’dan. Seseorang yang bertambah ilmunya tanpa hidayah, akan membuat jarak semakin jauh antara dirinya dengan Allah. Karena hati yang tak berdzikir adalah mati, sedangkan otak yang tak bertafakkur mendekati kufur. (Nie, Summer 2007))

Notes:
Nikah ad-Dayzan: bentuk nikah dimana anak sulung laki-laki dibolehkan menikahi janda mendiang ayahnya (ibu tiri).

Nikah as-Syighar: bentuk nikah dimana dua orang bapak/saudara laki-laki saling menyerahkan putrinya/saudari perempuannya masing-masing kepada satu sama lain untuk sama-sama dinikahinya tanpa mahar.

Nikah al-Badal: bentuk nikah dengan cara saling bertukar isteri hanya dengan kesepakatan kedua suami tanpa perlu membayar mahar.

Nikah Istibdha’: bentuk nikah dimana seorang suami boleh dengan paksa menyuruh isterinya untuk tidur dengan lelaki lain sampai hamil dan setelah hamil sang isteri dipaksa untuk kembali kepada suaminya semula, semata-mata karena mereka ingin mendapatkan bibit unggul dari orang lain yang dipandang mempunyai keistimewaan tertentu.

Nikah Mut’ah: bentuk nikah dimana masa penikahan hanya berlangsung sesuai perjanjian kedua belah pihak (semacam kawin kontrak)

*Tulisan diatas pernah dimuat di Buletin An-Nahdlah PCI-NU cabang Pakistan edisi Agustus 2007

AddThis Social Bookmark Button

Links to this post Email this post


Menyibak Tabir di Rimbun Jati  

Saturday, August 11, 2007

Oleh: Aini Aryani

Pijar bola api meredup, menyisakan sedikit sinarnya di gumpalan awan barat, hingga senja terlukis dalam jingga yang mengagumkan. Seorang pemuda memandang lukisan alam tersebut penuh takjub, maha karya alam yang tak tertandingi oleh karya lukis manapun, mengingatkannya pada pelukisnya yang Maha Hebat, hingga terluncurlah pujian tulus sebagai ungkapan kekaguman yang sangat, “Subhanallah… Menakjubkan sekali” gumamnya.

Namun sudut matanya menangkap pemandangan yang sangat berbeda. Di lapangan cukup luas, beberapa orang membawa tumpeng serta beberapa makanan khas desa yang dihiasi kembang tujuh rupa. Mereka meletakkan sesajen tersebut di bawah sebuah pohon besar yang akan dipersembahkan untuk makhluk yang mereka percayai sebagai penghuni pohon tersebut. Aroma kemenyan menusuk penciumannya. Ia menatap pemandangan tersebut geram, “Kapankah kemusyrikan berhenti membodohi para penduduk desa ini, sementara mereka mengaku beriman kepadaNya…”
***

“Zim, makan, yuk. Tadi gue liat si Ipul masak cumi goreng sama tumis kangkung tuh di dapur…” ajak Aril. “Mmhh…aromanya menggoda selera, euy..!!!” celetuknya lagi seraya menuju ruang makan. Hazim mengekornya. Selesai menikmati sarapan, Hazim segera menuju surau. Ia diminta pemuda desa untuk mengisi mentor di surau yang berdekatan dengan lapangan. Sementara itu, Aril dan Ipul menuju sawah luas milik Pak Samsul, kepala desa Damar Jati untuk menemani beliau meninjau pekerja disana.

Seperti inilah kegiatan ketiga mahasiswa KKN tersebut di desa Damar Jati, Jawa Tengah yang memiliki panorama alam yang masih alami dan belum banyak tersentuh modernisasi. Tak heran kalau hutan yang berdekatan dengan desa tersebut terlihat begitu rimbun. Tapi, Hazim merasa ada sesuatu yang ganjil disana, hutan jati yang terletak di sebelah barat desa dikenal paling angker dibanding hutan sekitarnya. Usai mengisi mentor, Hazim menyusul kedua temannya. Namun, tiba-tiba ia tertarik untuk melihat sumber mata air di bawah sebuah pohon besar yang terletak di sebelah barat lapangan. Ia melihat mata air itu lebih dekat, kemudian tersenyum penuh arti.

“Eh, men, tadi Pak Samsul minta bantuan kita buat nyariin solusi gimana caranya biar para warga bisa nikmatin air bersih. Soalnya lu tau kan kalo gini hari lagi kemarau.” ujar Aril. Hazim terdiam sejenak lalu tersenyum.
“Kok malah tersenyum tho, Zim. Mbok ya ikut prihatin sama Pak Kades yang mikirin sawah warganya yang kekurangan air.” Ipul sebal melihat tingkah Hazim.
“Aku punya ide biar para penduduk bisa menikmati air bersih. Tadi sepulang dari surau, aku lihat ada mata air jernih di bawah pohon besar dekat lapangan sana. Aku pikir kita bisa membangun sarana air dibawah pohon agar warga bisa menikmati air tersebut.” Hazim tak sabar mengutarakan pendapatnya. Tapi,

“Pohon besar dekat lapangan bola?” tebak Aril. Hazim mengangguk. Aril dan Ipul saling pandang.
“Waduh, Zim. Orang-orang desa ndak akan ngizinin kita. Pohon itu kan pohon keramat. Nanti malah kita yang kena getahnya. Apa kamu ndak takut santetnya Mbah Suro?” ujar Ipul dengan logat jawanya yang medhok.
“Iya, Zim. Apa nggak ada solusi laen? Gue sih setuju aja dengan pendapat tadi. Tapi, tuh tugas cukup berat kayaknya .” Aril menimpali. Hazim mengerutkan dahi, menyisakan garis-garis vertikal diantara kedua alisnya.
“Kalian masih percaya tentang khurafat en tahayul?!” tanya Hazim heran.
“Yaa gue sih nggak percaya-percaya amat. Tapi… kalo boleh jujur, gue keder juga waktu ngeliat tampang Mbah Suro. Tapi, kalo lu emang maunya gitu, gue dukung kok.” jawab Aril mantap.
“Apa? Mbah Suro suka makan bubur kedele?” Penyakit telmi Ipul kumat. Hazim tersenyum geli. Aril menepuk dahinya.
”Oh God…bukan, Puuulll…maksud gue, kalo boleh jujur, gue keder juga…bukan ngomongin bubur kedele. Aduh, kapan sih lu berenti jadi orang TelMi.!!” kata Aril sebal.

Hazim menghela nafas. Ternyata sulit juga nyatuin persepsi dengan kawan yang berbeda karakter, pikirnya. Aril adalah pemuda kota yang jauh dari lingkungan bernuansa tahayyul. Berbeda dengan Ipul yang berasal dari desa semacam Damar Jati yang masih bernuansa kejawen. Mungkin itu sebabnya mengapa Ipul begitu penakut. Tapi Hazim telah membulatkan tekad untuk membangun sarana air di bawah pohon tersebut. Meski resiko yang mungkin akan ditanggungnya tidak gampang. Segera ia menuju rumah Pak Samsul untuk mengutarakan pendapatnya.
***

“Wah, itu tugas cukup berat, Nak Hazim. Pohon itu dianggap keramat oleh orang desa sini karena letaknya berdekatan dengan hutan jati. Apalagi kalo Mbah Suro sampai marah, bisa-bisa…” kalimat Pak Samsul terpotong. Tapi Hazim bisa menebak kalimat selanjutnya,
“Tapi, Pak. Bukankah itu suatu kemusyrikan? Tidak ada yang mampu melindungi manusia dari pengaruh buruk dunia ghaib kecuali Allah. Jika Dia berkehendak, tidak akan ada makhluk ghoib yang mampu mengganggu manusia. Karena manusia lebih mulia dari jin bahkan dari malaikat sekalipun.” ujar Hazim berapi-api.
“Betul, Pak. Saya setuju dengan pendapat Hazim. ” Tiba-tiba Firman, putera Pak Samsul muncul. “Dari dulu saya kurang suka melihat orang desa ini memuja-muja pohon itu, mendewakan Mbah Suro, bahkan tidak berani mendekati hutan jati itu. Sama sekali tidak rasional. “ lanjut Firman.
“Sebenarnya bapak juga sering memikirkan hal itu. Tapi bapak bingung bagaimana caranya menghilangkan ketakutan yang menghantui warga. Walaupun bapak adalah Kades disini, tapi mereka lebih mendengarkan Mbah Suro daripada bapak.” jelasnya lagi.
“Pak, saya jadi curiga kalo makhluk ghaib di hutan jati yang menimbulkan ketakutan warga cuma rekayasa beberapa oknum yang ingin mengeruk keuntungan tertentu.” jelasnya. Hazim mengangguk setuju. Hampir tidak percaya, ternyata pelosok desa seperti Damar Jati memiliki pemuda secerdas Firman.

“Saya setuju dengan pendapat Firman. Kalau Pak Samsul mengizinkan, saya ingin bekerja sama dengan Firman untuk menyingkap rahasia ini.” ujar Hazim.
“Bapak izinkan. Moga berhasil, Nak. Jangan lupa berdoa kepada Gusti Alloh.”

Sore itu juga Firman beserta ketiga mahasiswa itu menuju mata air yang dimaksud. Namun, langkah mereka terhenti oleh pemandangan aneh. Orang-orang tengah berkerumun tak jauh dari pohon besar. Ternyata, di bawah salah satu pohon jati tergeletak mayat seorang wanita setengah baya. Gaun abu-abu yang dikenakannya bersimbah warna merah darah. Tak ada yang berani mendekat karena pohon jati tersebut masih dalam kawasan hutan, kecuali Mbah Suro. Laki-laki tua itu membaca jampi-jampi kemudian membawa mayat itu ke dalam hutan setelah menyuruh penduduk kembali ke rumah masing-masing untuk membuat sesajen persembahan untuk jin penghuni pohon besar yang tengah kelaparan. Katanya, untuk meredam kemarahannya. Firman dan Hazim hanya bisa menertawakan dalam hati. Jin marah karena kelaparan, lalu membunuh seorang wanita? Benar-benar nonsense, batin mereka dalam hati.

Aril merasakan ada yang menggenggam tangannya kuat. Dia melirik ke belakang. O`o ternyata itu tangan Ipul yang tengah ketakutan.
“Eh, Pul. Ngapain pegang-pegang tangan gue…lu takut ya..!!” tanya Aril. Ipul segera melepaskan pegangannya, lalu menghapus keringat dingin yang membanjiri dahinya. Hazim tersenyum geli.
“Iy..Iya, ngeri banget, Ril. Aku ndak berani ikut campur…” jawabnya polos.
“Masa baru mulai langkah udah mau mundur lagi sih, Pul.” tantang Hazim.
“Kita ndak usah neko-neko, Zim. Sing penting kita slamet. Poko`e aku ndak berani ngelawan Mbah Suro.” katanya masih dengan nada cemas. Firman hanya geleng-geleng kepala. Penakut sekali pemuda ini, pikirnya.
***

Semburat merah mega muncul di ufuk, menghela sedikit demi sedikit warna hitam sekitarnya. Firman terbangun lalu berwudhu`, kemudian mulai melangkah menuju surau untuk mengumandangkan nama Sang Pencipta.
“Werrr…” angin menghembus, ia mendekapkan kedua tangannya berusaha mengurangi dingin shubuh yang menusuk. Tiba di surau, ia segera mengumandangkan adzan lalu menghadapNya khusyu`.

Namun saat ia melangkah untuk pulang, ia mendengar suara berisik yang berasal dari hutan jati yang berdekatan dengan pohon besar . Penasaran, Firman mendekat…
“Suro, jati di belakang rumahmu masih utuh, kan?” Suara seorang wanita yang berbicara dengan Mbah Suro membuat kening Firman berkerut.
“Nyonya ndak usah kawatir, dijamin ndak akan ada yang berani ngambil barang yang saya simpan” Suara berat yang tak asing lagi baginya, Suara Mbah Suro.
“Bagus. Sekarang kamu siap-siap. Bos mau bicara langsung dengan kamu.”
“Saya dipanggil ke Jakarta, Nya?!” tanya Mbah Suro. Wanita itu mengangguk.
“Iya, mungkin bos butuh sedikit bantuan kamu di pabrik meubelnya. Yaa sekitar tiga hari-lah.” jawabnya.
Tak lama setelah itu, truk besar segera menuju belakang rumah Mbah Suro dan mengangkut beberapa kayu jati berjumlah besar. Terdesak dengan rasa penasarannya, Firman mengintip dari balik pohon besar itu. Matanya menangkap wajah wanita setengah baya yang tengah menghembuskan asap rokoknya kemudian menyerahkan segepok rupiah ke tangan keriput Mbah Suro.
Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana? Tanya Firman dalam hati. Ia berpikir keras. Akhirnya ia ingat bahwa wanita tersebut adalah wanita bergaun abu-abu yang tergeletak di bawah pohon jati kemarin sore.

Pagi masih gelap ketika truk yang mengangkut jati-jati itu berlalu disusul Jeep hitam yang membawa Mbah Suro dan wanita tersebut, kemudian lenyap ditelan rimbunnya hutan. Firman segera menuju rumah Hazim dan kedua temannya.
***
“Apa? Wanita itu masih hidup? Berarti…” Hazim mulai menangkap keganjilan.
“Hiiyy..Itu pasti mayat hidup.” sahut Ipul ngeri.
“Huss… jangan sembarangan ngomong. Lu tuh mikirnya yang serem-serem mulu.” timpal Aril. Ipul memonyongkan bibirnya.
“Maksudku, kejadian kemaren itu bisa jadi cuma rekayasa Mbah Suro karena dia menyimpan kayu-kayu yang ditebang ilegal di belakang rumahnya. Makanya, dia meminta wanita itu untuk pura-pura mati agar para penduduk desa makin takut mendekati hutan jati itu. ” jelas Firman.
“Jadi, maksudmu Mbah Suro menyebar cerita menyeramkan agar para penduduk takut dan tidak berani berbuat macam-macam yang bisa membuat kejahatannya tercium?” tanya Hazim. Firman mengangguk mantap.
“Ooh…aku paham, pasti maksud kalian Mbah Suro itu juga penakut. Jadi, aku ndak apa-apa tho kalo takut juga. Lha wong Mbah Suro aja takut kok..” tebak Ipul sok tau. Aril menepuk jidat.
“Aduh, Pul…Pul…jangan keseringan sotoy alias sok tau gitu dong.?..”Aril sebal.
Tiba-tiba satu pertanyaan terlintas di benaknya. “Terus, wanita setengah baya itu siapa dong?!” tanyanya.
“Dari percakapan mereka, sepertinya wanita itu tangan kanan pengusaha Meubel di Jakarta yang membeli kayu jati ilegal dari Mbah Suro. Gimana kalau nanti malam kita datangi sekitar rumah Mbah Suro, siapa tau kita dapat informasi baru. Mumpung dia lagi ke Jakarta. Tapi untuk sementara ini jangan sampai ada yang tau rencana kita.” saran Firman. Hazim dan Aril mengangguk setuju. Mereka bertiga beralih menatap Ipul yang jadi salah tingkah.
“Eenng…tugasku masak aja ya? Sekalian jagain rumah…he..he…Bukannya takut lho, tapi…tapi cuma pengen nunggu rumah aja. Ndak apa-apa, tho? Mmhh…aku ke dapur dulu ya?” dalihnya seraya menuju dapur setengah berlari.
“Dasar penakut.” ejek Aril. “Oiya, gue kebetulan punya handy cam, kira-kira perlu dibawa nggak?” tambahnya. “Good idea.” jawab Firman.

Malamnya, rencana dilaksanakan. Seperti yang diduga, di belakang rumah Mbah Suro ditemukan batang-batang kayu jati, beberapa batang kemenyan, dan tulang-tulang seperti tulang ayam. Firman menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Pantas..!!” gumamnya pelan. “Pantas apanya, Fir?!” tanya Hazim.
“Waktu mengintip aksi mereka, aku sama sekali tidak melihat hidangan makanan di bawah pohon besar itu. Padahal, malamnya banyak para penduduk yang meletakkan sesajen seperti yang diperintahkan Mbah Suro kemaren sore.” jawabnya.
“Maksud kamu, yang menikmati hidangan-hidangan itu Mbah Suro?!” tanyanya lagi hampir tak percaya.
“Bisa jadi.” jawab Firman. Tiba-tiba…
“Men, liat nih apa yang di dalem rumahnya.” Teriak Aril. Mereka mengintip sebagian isi rumah dari jendela yang mungkin lupa dikunci oleh penghuninya. Mereka melihat sisa tumpeng dan beberapa makanan lainnya.
“Kayaknya mereka habis party tuh, tadi shubuh. Mungkin Mbah Suro tergesa-gesa perginya, makanya nggak sempet beresin sisa-sisanya.” Aril berpendapat.

Mereka pulang usai merekam beberapa hal penting. “Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ini bukan hanya membodohi masyarakat dan merugikan negara, tapi juga menodai agama dan membuat orang-orang desa terbawa arus kemusyrikan. Kita harus hentikan secepatnya. Insya Allah besok pagi aku akan berangkat ke kecamatan untuk melaporkan ke pihak yang berwenang sebelum Mbah Suro kembali dari Jakarta.” kata Firman.
“Perlu bantuan? Maksudku, kamu perlu teman kesana?” tawar Aril.
“Mmh…gimana kalo aku sendirian aja yang kesana, karena kalau salah satu dari kalian ikut, itu bisa mengundang kecurigaan. Oiya, Ril hasil rekaman kita tadi mungkin akan sangat berguna untuk bukti.” sarannya.
“Siiip, bawa aja. Nih…” Aril menyerahkan hasil rekamannya. Firman segera pulang dan mengabarkan semuanya pada ayahnya. Paginya, ia segera berangkat menuju kecamatan untuk melaporkan pada pihak berwenang.
**&&&**

“Angkat tangan…!!!” Seorang polisi dengan pistol di tangan menangkap basah laki-laki tua yang tengah menebang jati. Laki-laki itu berbalik lalu terkejut melihat beberapa polisi di sekelilingnya, terlebih ketika matanya bersirobok dengan sepasang mata milik Firman dan ketiga kawannya. Mbah Suro membuang parangnya lalu perlahan mengangkat tangannya tanpa mengalihkan tatapan geramnya pada keempat pemuda di depannya. Tak lama kemudian kedua tangan Mbah Suro terkunci dalam besi borgol.
Mereka tersenyum lega, akhirnya kemungkaran dapat terungkap. Rencana membangun sarana air di bawah pohon tersebut dapat terlaksana. Kekurangan air dapat diminimalisir dan ketakutan para penduduk akhirnya berhasil dilenyapkan.

Hazim kagum dengan kecerdasan dan keberanian Firman. Kehidupan yang jauh dari kebisingan kota tak membuatnya tertinggal dari para pemuda kota sebayanya. Justru itu membuatnya tampak bersahaja. Akhirnya Hazim tahu, ternyata Firman adalah alumnus Al-Azhar University di Mesir yang baru setengah tahun lalu menyelesaikan studinya. Ia menimba ilmu di negeri Ali Jinah tersebut dengan beasiswa karena index prestasinya selalu di atas 3,5. Benar-benar pribadi yang pantas dijadikan teladan.
***

Senja dalam jingganya yang mengagumkan terlukis lagi di langit sebelah barat. Menandakan pijar bola api mulai meredup, memberi kesempatan bagi galaksi lain untuk muncul. Untuk kesekian kalinya, pemuda itu menikmati alam terlukis di kanvas langit sana penuh takjub dan syukur. Seperti rasa syukurnya atas kebahagiaannya hari itu, karena Sang Pencipta lukisan alam tersebut telah mengembalikan kedamaian desanya dari nuansa khurafat yang berbau kemusyrikan. (Nie)

*Tulisan diatas pernah dimuat di Buletin NUN, yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, edisi Maret 2007

AddThis Social Bookmark Button

Links to this post Email this post


Mendamba Langit  

Friday, August 10, 2007

Kau tatap lagi bayangnya yang semakin menjauh
Dari balik jaring-jaring yang disulam laba-laba
Ternyata biru megah itu berbias maya
Ia tak seindah yang kau bayangkan

Dahulu kau kira sanggup tundukkannya
Dari ujung samudera yang bertemu dengan awan
Namun ternyata ia semu belaka
Karena kau tahu samudera tiada berbatas

Tinggi…Memang ia begitu tinggi
Iapun mengaku atap bumi yang kau pijak
Namun angkuhnya mulai pamerkan taringnya
Kau tak sudi binasa dalam terkamannya

Namun mengapa kau dan mereka berebut
Demi fatamorgana yang kau anggap nyata itu
Meski mungkin nyawa taruhannya
Bahkan mungkin imanpun harus kau gadaikan

Padahal tatkala siang meninggalkan jagad
Biru megahnya yang kau pujapun lenyap
Karena malam yang selalu menebar kelam
Menyembunyikan kemegahan yang dibanggakannya

Ya…langit yang selalu kau tuju itu
Kini telah gelap, lenyap dibalik tirai kelam
Tingginya yang kau kira terlawan
Ternyata takkan pernah dapat kau raih

Meraihnya ibarat insan dahaga mencari samudera
Tatkala sampai di tujuan, ia mulai meneguk sepuasnya
Namun tiada pula dahaga itu mati
Karena semakin ia teguk, Semakin pula ia dahaga

Kawan…
Mengapa semua itu kau sadari
Ketika maut mulai mengintaimu
Ketika kau tengah meregang nyawa…

(By: Aini Aryani)

NB:
Tulisan ini pernah dimuat di Buletin NUN,yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, edisi Februari 2005

AddThis Social Bookmark Button

Links to this post Email this post


Kerinduan Sang Telaga Bening  

Oleh: Aini Aryani

“Mbak Elvi nggak pulang lagi idul fitri ini? “.
“Iya, Mit. Soalnya materi-materi yang belum disampaikan masih banyak. Apalagi bentar lagi UAS.” paparnya. Kuhembuskan nafas sebal, lalu mencoba hubungi Mas Arya.
“Assalamualaikum… lebaran tahun ini Mas pulang ke Indonesia ya. Kan udah hampir tujuh tahun nggak pulang.”
“Nggak janji, Dek. Tiap akhir Ramadhan aku harus ke Mekah meliput sholat Idul Fitri. Tapi, insya Allah aku usahain deh.” jawabnya. Lagi-lagi aku menghela nafas.
Beginilah kalau punya kakak-kakak super sibuk. Mbak Elvi seorang dosen di Universitas Samratulangi, Manado. Lima tahun lamanya belum pernah pulang. Sedang Mas Arya alumni Institute of Public Education di Victoria yang kemudian melanjutkan pendidikannya ke Maryland menekuni bidang pers dan jurnalistik. Mas Arya patut menjadi kebanggaan keluarga karena berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat cumlaude. Sekarang ia benar-benar meraih impiannya menjadi seorang journalist di sebuah media ternama di Perth, Western Australia. Menurutku ia adalah seorang “Workaholic”. Dulu, aku pernah membaca satu kalimat tertulis di tembok kamarnya, “Not to occupy and not to exist are one and the same thing for a man.”
***

Kuperhatikan Bunda yang tengah menikmati sore bersama tiga kucing piaraannya. Kadang beliau mengelus, memangku, bahkan mendongeng, seakan-akan mereka memahami bahasa manusia. Aku mendekat lalu berdehem. Namun sepertinya Bunda terlalu menikmati suasana bersama kucing-kucing mungil itu, hingga kehadiranku sama sekali tak disadari. Akupun beranjak menuju ruang tamu.
Kuamati ruangan ini. Oh…ternyata debu jendela depan sangat tebal. Maklum Bik Minah, pembantu kami sedang pulang kampung. Mataku iseng mengamati kalender.

“Oh iya, Bunda kan ulang tahun tanggal 2 April. Berarti seminggu lagi Bunda ultah dong.” Tiba-tiba satu ide muncul dibenakku. “Ctekk..!!” Kujentikkan jari. Lalu menuju telfon di sudut ruang tamu.
“Assalamualaikum, Mbak inget kan kalo 2 April ini ultah Bunda? Nggak apa-apa deh Idul Fitri nggak pulang. Tapi waktu ultah Bunda, Mbak dateng ya? Bunda pasti seneng banget kalo Mbak Elvi dan Mas Arya bisa dateng.” rajukku.
“Mm…Mit, kebetulan minggu depan Mas Ishak ada tugas ke Semarang, jadi kemungkinan Mbak bisa sekalian ke Surabaya.” Aku hampir terlonjak saking girangnya, kemudian mencoba menghubungi Mas Arya, tapi gagal.
“Kok gak nyambung sih…” gumamku. Lalu ponselku berbunyi. Private number.
“Assalamualaikum, Mit. Aku udah dua hari ini di Pakistan untuk meliput berita convocation di IIUI.” paparnya. Pantesan waktu ditelfon tulalit terus.
“Mit, ngomong-ngomong Bunda baik-baik aja kan?” tanyanya.
“Baik aja…Mm..oh ya, Mas inget kan kalo 2 April ini ultah Bunda? Mitha pengen bikin kejutan nih. Mas usahain pulang ya, biar Bunda seneng. Nggak apa-apa deh Idul Fitri ini nggak bisa dateng. Tapi waktu Bunda ultah, dateng ya? Pliiizz..!!” rajukku.
"Mmm…bentar, aku lihat schedule dulu,” Kutunggu Mas Arya beberapa menit.
“Rencananya dua minggu lagi aku mau ke Indonesia untuk meliput sengketa Indonesia-Malaysia. Jadi, kemungkinan bisa dateng.” jawabnya. Mataku berbinar.
Segera kurancang rencana selanjutnya. Semoga kami dapat menikmati senyum Bunda lagi. Yah, setelah ayah meninggalkan kami untuk selamanya, Bunda terlihat jarang tersenyum. Amat jarang malah. Bahkan selalu terlihat murung. Hampir seluruh waktu dihabiskannya bersama tiga kucing mungil itu, seakan Bunda selalu ingin di dekat mereka. Bik Minah pernah menelfonku tengah malam hanya karena khawatir dengan keadaan Bunda yang sakit-sakitan karena mogok makan sebab salah satu kucingnya sakit. Tanpa kami sadari, kucing-kucing itu akan membawa satu masalah dalam keluarga kami.
***

Kutata seluruh ruangan serapi mungkin. Korden dan taplak mejapun kuganti dengan warna hijau muda, warna kesukaan Bunda. Setelah merapikan jilbab, kudengar suara ketukan pintu. Kupikir kedua kakakku. Tapi dugaanku meleset. Yang datang hanyalah kiriman hadiah. Tepat setelah kutanda tangani tanda terimanya, telfon berdering,
“Assalamualaikum. Dek, aku ada urusan mendadak. Jadi, nggak bisa dateng. Tapi tadi aku telfon rekanku disitu untuk mengirim hadiah buat Bunda. Maaf ya, Dek.”
Suara Mas Arya membuat lututku lemas seketika. Kututup gagang telfon dengan gelisah. Lagi-lagi telfon itu berdering. Kuangkat gagang telfon itu tanpa gairah.
“Assalamualaikum. Dek, tadi pagi Mbak mau berangkat kesana, tapi tiba-tiba dapet info kalo besok ada rapat penting di kampus. Jadi, Mbak langsung ke Jakarta untuk terbang ke Sulawesi lagi. Maaf ya, Dek.” Aku hampir menangis mendengar penjelasan Mbak Elvi. Ya Allah, mengapa semuanya terjadi di luar rencana?
Dari kamar Bunda, samar-samar kudengar suara merdu melantunkan kalamNya.
Bunda, maafkan Mitha yang belum berhasil mengembalikan senyum itu.

Kuhempaskan tubuhku di sofa, lemas kusandarkan punggung yang terasa pegal. Mataku bersirobok dengan foto mendiang ayah. Masih segar di ingatanku ketika kami menikmati indahnya senja di suatu sore sambil menikmati teh hangat buatan Bunda,
“Mit, Bunda kalian bagai telaga bening yang menyejukkan, yang selalu mengundang kita untuk duduk di tepinya, merenung dalam bayang air jernihnya, atau membasuh wajah menghilangkan resah, bahkan berenang di dalamnya karena lelah, meski telaga itu berkecipak karenanya, atau keruh…atau kotor…”
***

Bik Minah kembali dari kampung. Akupun bersiap-siap kembali ke Jakarta. Kuketuk pintu kamar Bunda. Tak ada jawaban. Pelan kubuka pintu, ternyata beliau sedang beristirahat. Tak jauh dari tempat tidurnya, kulihat tiga kucing mungil yang juga pulas di atas ranjang empuk. Jadi aku hanya menitip pesan lewat Bik Minah.
Namun, sampai di Jakarta, Bik Minah kembali menelfonku,
“Non Mitha, celaka, Non..celaka…!!” Suaranya terdengar panik.
“Ada apa, Bik?” tanyaku penasaran.
“Anu, Non. Tadi pagi kucing-kucing itu di tabrak mobil waktu bermain di jalan raya…Waduh…ya`opo iki…”suara Bik Minah terdengar panik.
“Terus Bunda gimana, Bik?” tanyaku khawatir.
“Lha itu dia, Non. Setelah melihat tiga kucingnya mati, Ndoro putri nangis ndak berhenti-berhenti, lalu pingsan. Terus, Ndoro selalu ngigo ndak karuan. Waktu sudah sadar, tatapannya kosong terus. Perkataan Bik Minah ndak pernah diperdulikan. Bahkan selalu mengulang-ulang kalimat yang sama. Katanya…” Kata-kata Bik Minah terpotong.
“Kalimat apa, Bik?” Tanyanyaku yang makin penasaran.
”Kata Ndoro putri ‘Elvi, Arya, Mitha jangan menyusul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda sendirian disini…’ begitu kalimatnya. Waduh…Bik Minah bingung mau ngapain. Non Mitha pulang ya, Non.” katanya masih dengan suara bergetar.
Segera aku berangkat ke Bandara untuk terbang menuju Juanda setelah meminta Bik Minah membawa Bunda ke rumah sakit. Jangan-jangan Bunda benar-benar menganggap tiga kucing itu sebagai Mbak Elvi, Mas Arya, dan aku?!
Bunda, mengapa senyum itu semakin menjauh? Mengapa ia terlalu sulit tuk dihadirkan kembali?
***

Bunda tengah terlelap ketika aku tiba. Dari wajah teduh yang kian menua itu, aku bisa melihat gurat kecewa, kesedihan, juga kerinduan mendalam disana. Kubuka diary, lalu perlahan kugoreskan penaku di lembaran-lembaran biru itu;
Bunda…
Senyum itu pergi lagi, semakin jauh, entah dimana ia bersembunyi
Andainya samudera atau rimbun hutan yang sembunyikan ia
Ingin Nanda selami samudera itu
Atau mengoyak ranting-ranting rimbun hutan itu
Meski tangan ini ikut terkoyak karenanya
Bunda…
Masih segar membekas di ingatan ini
Ketika kau ajari kami ‘alif, ba’, ta’ dengan kefashihan lisanmu
Agar kami dapat menyelami lautan hidayahNya
Atau ketika tangisan kami pecah, dirimu terbangun resah
Merelakan matamu tak terpejam demi menghalau gelisah kami
Pun ketika Nanda jatuh dari peraduan dan merengek
Kau raih Nanda ke pelukan kasihmu, seraya meneteskan airmata
Seakan kaulah yang tengah merasakan sakitnya raga
Namun...
Ketika kami beranjak dewasa, dan kau tengah di usia senja
Kaki-kaki mungil kami dulu, kini tak dapat kau elus lagi
Tangan-tangan mungil kami juga tak dapat lagi kau sentuh
Kami sibuk mengejar asa sendiri, larut dalam ego
Tak sadar bahwa ada telaga bening yang tengah merindu
Yang ingin meredam resah, menghilangkan gelegak duka
Telaga bening itu adalah engkau, Bunda
Kini…
Izinkan Nanda mencari kekuatan mahadaya
Agar mampu mempersembahkan senyum untukmu, Bunda…


Kututup diaryku perlahan. Kutahan mataku yang berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba,
“Elvi, Arya, Mitha jangan menyusul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda….” igau Bunda. Mengulang kalimat itu berkali-kali. Aku panik. Segera kupanggil suster.
Setelah keadaan Bunda mulai membaik, kudekati beliau yang tengah menatap jendela. Tatapannya kosong.
“Bunda, ini Mitha…” bisikku. Tak ada respon. “Bunda, ini Mitha, puteri Bunda.” Ulangku. Ia menangis sesenggukan, tapi tangis itu makin kencang, bahkan meraung…
“Tidak…Mitha juga ditabrak mobil itu bersama Elvi dan Arya… huu… huu.. anak-anak Bunda menyusul ayahnya…huu…” Raungan bunda membuatku kaget. Akhirnya tangisku pun pecah.
“Tidak, Bunda… yang mati itu hanya kucing…bukan anak-anak Bunda…hanya kucing, Bunda.” Aku harus berhasil meyakinkan Bunda. Namun Bunda tetap meraung. Hatiku semakin galau, seiring airmataku yang semakin deras.
“Bunda, ini Mitha, putri Bunda. Kucing-kucing itu cuma hewan. Bunda masih ingat kan waktu dulu Mitha mecahin kaca tetangga, Bunda marah dan ngurung Mitha dalam kamar. Terus, waktu Mitha sakit typus, Bunda seharian nemenin Mitha di kamar, gendongin Mitha setiap ke kamar mandi, nyuapin Mitha setiap makan…masih ingat kan, Bunda…ini Mitha, anak Bunda.” celotehku sambil terus menangis. Tangis Bunda mereda lalu terdiam. Kubiarkan Bunda menenangkan diri. Lama, hingga akhirnya beliau terlelap.

Kutatap mata Bunda lekat. Aku harus berhasil meyakinkan Bunda bahwa aku, Mbak Elvi dan Mas Arya-lah darah dagingnya, bukan kucing-kucing itu. Aku tidak akan membiarkan tiga hewan itu menggantikan tempat kami di singgasana hati Bunda.
Pun aku harus meyakinkan kedua kakakku bahwa Bunda butuh mereka disini saat ini. Juga bahwa hadiah-hadiah yang selalu mereka yakini dapat membahagiakannya, takkan pernah mampu menggantikan kehadiran mereka disisi Bunda. Bagi Bunda mereka terlampau berharga tuk digantikan dengan kebendaan, karena putra putrinya adalah anugerah terindah yang tak terbeli, yang merupakan karunia tebesar dariNya.

Bunda masih terlelap ketika Mbak Elvi dan Mas Arya datang. Mataku berbinar saat melihat Bunda membuka mata bersama kami sampingnya. Seketika itu, kami serentak memeluk wanita terkasih itu…Kini kami disini untuk Bunda…(Nie)
(Persembahan tuk Bunda-ku. Miss U so Much, Mom)

*Tulisan ini menjadi juara II lomba FCPI Awards 2005 dan dimuat oleh Buletin NUN, yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, tahun 2005

AddThis Social Bookmark Button

Links to this post Email this post


 

Design by Amanda @ Blogger Buster