INSAN AGUNG (Shallallahu 'alaihi wasallam)  

Friday, February 6, 2009


Aini Aryani

Beliau Shollallahu `alaihi wasallam seorang insan agung. Nabi sepanjang zaman. Presiden negara Islam. Jenderal perang berstrategi tinggi. Ayah penyayang. Suami pengasih. Sahabat setia. Laki-laki yang memuliakan wanita. Guru dan gudang ilmu.

Sosok Teladan Ummat

Muhammad Shollallahu `alaihi wasallam adalah sosok laki-laki mulia yang tegar. Jalannya pernah berduri. Beliau dihina, dicaci dan difitnah oleh kaumnya sendiri dan penduduk Makkah karena membela ajaran suci yang dibawanya. Namun itulah pengorbanan seorang insan untuk kebaikan insan lain. Pernah pula dilukai wajahnya, juga dipatahkan giginya dalam peperangan. Namun itulah jerit perih seorang kekasih Tuhan untuk Tuhannya. Selayaknya manusia yang mengarungi sakit dan perih demi mengibarkan bendera Islam yang agung hingga selanjutnya membawa gelombang perubahan pada dunia.


Muhammad Shollallahu `alaihi wasallam juga manusia biasa, bukan malaikat. Beliau bersahabat, menikah, bekerja serta bernegara. Rosulullah berbudi dalam segenap aspek. Dari kehidupan berkeluarga, hingga kehidupan pemerintahan sebuah negara. Dari bersahabat dengan sesama, hingga merancang strategi ketentaraan. Dari mengajar putra-puterinya, mengayomi isteri, hingga menyeru kuasa dunia kepada keunggulan Islam. Dari mengamalkan etika makan-minum di rumah, hingga pelaksanaan undang-undang negara. Berkorban dalam perjuangan, hingga pengorbanan mengajak manusia kepada Tuhan.Seorang Penggembala
Di usia remaja, Rosulullah Shollallahu `alaihi wasallam mulai berusaha mencari rezeki dengan menggembalakan kambing. Beliau pernah menuturkan bahwa, “Aku dulu menggembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath”.
Bagi beliau Shollallahu `alaihi wasallam, profesi sebagai seorang penggembala kambing sama sekali bukanlah pekerjaan yang hina, justru disitulah letak kebersahajaan. Tiada hal yang layak dipandang hina selama itu adalah profesi yang halal. Bahkan, sehubungan dengan usaha Rosulullah dalam menggembalakan kambing untuk tujuan mencari rezeki, terdapat tiga pelajaran berharga bagi kita sebagai ummatnya;

Pertama, berkaitan dengan penjelasan tentang bentuk kehidupan yang diridhai oleh Allah untuk para hamba-Nya yang shalih di dunia. Sangatlah mudah bagi Allah untuk mempersiapkan Nabi Shollallahu `alaihi wasallam sejak awal kehidupannya, segala sarana kehidupan dan kemewahan yang dapat mencukupi, sehingga tidak perlu lagi memeras keringat menggembalakan kambing. Tetapi, hikmah Ilahi menghendaki agar kita mengetahui bahwa harta terbaik adalah harta yang diperolehnya dari usaha sendiri.

Kedua, para aktivis da'wah (da'wah apa saja), da'wahnya tidak akan dihargai orang manakala mereka menjadikan da'wah sebagai sumber rezekinya, atau hidup dari mengharapkan pemberian dan sedekah orang. Karena itu, para aktivis da'wah Islam merupakan orang yang paling patut untuk mencari ma'isyah (nafkah)-nya melalui usaha sendiri atau sumber yang mulia yang tidak mengandung unsur minta-minta, agar mereka tidak 'berhutang budi' kepada seorang dan yang menghalanginya dari menyatakan kebenaran di hadapan investor budi.

Ketiga, selera tinggi dan perasaan halus yang dengan kedua sifat ini Allah memperindah kepribadian Nabi-Nya selama ini. Pamannyalah (Abu Thalib) yang mengasuh dengan penuh kasih sayang sebagai seorang bapak bagi beliau. Tetapi begitu merasakan kemampuan untuk bekerja, Rosulullah segera berusaha sekuat tenaga untuk meringankan sebagian beban pamannya. Barangkali hasil yang diperolehnya dari hasil pekerjaan yang dipilihkan Allah tersebut tidak begitu banyak dan penting bagi pamannya, tetapi ia merupakan akhlak yang mengungkapkan rasa syukur, kecerdasan watak dan kebaikan perilaku.

Dalam sebuh riwayat lain dikisahkan bahwa Muhammad Shollallahu `alaihi wasallam bertutur tentang pengalaman dirinya:
“Aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang biasa mereka lakukan di masa jahiliyah kecuali dua kali. Itu pun kemudian dicegah oleh Allah. Setelah itu aku tidak pernah menginginkannya sampai Allah memuliakan aku dengan risalah. Aku pernah berkata kepada seorang teman yang mengembala bersamaku di Makkah, 'Tolong awasi kambingku, karena aku akan memasuki kota Makkah untuk begadang sebagaimana para pemuda.` Kawan tersebut menjawab,'Lakukanlah.` Lalu aku keluar.
Ketika aku sampai pada rumah pertama di Makkah, aku mendengar nyanyian, lalu aku berkata,'Apa ini?' Mereka berkata,'Pesta.' Lalu aku duduk mendengarkannya. Tetapi kemudian Allah menutup telingaku, lalu aku tertidur dan tidak terbangunkan kecuali oleh panas matahari. Kemudian aku kembali kepada temanku, lalu ia bertanya kepadaku, dan aku pun mengabarkannya. Kemudian pada malam yang lain aku katakan kepadanya sebagaimana malam pertama. Maka aku pun masuk ke Makkah, lalu mengalami kejadian sebagaimana malam terdahulu. Setelah itu aku tidak pernah lagi menginginkan keburukan.
Demikianlah Allah Ta`ala dalam menjaga pribadi Nabi-Nya yang suatu saat akan mengemban amanah besar bernama tablighu ar-risalah yang diberikanNya. Beliau juga memiliki kehalusan budi pekerti yang luar biasa.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengisahkan tentang pribadi Rosulullah Shollallahu `alaihi wasallam;

عن انس رضى الله عنه قال: خدمت النبي صلى الله عليه وسلم عشر سنين والله ما قال لي اف قط .... (رواه مسلم)

Artinya:
Dari Anas Rodhiallahu `anhu berkata; Aku mengabdikan diri pada Rosulullah Shollallahu `alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, (selama itu) beliau tidak pernah sekalipun berkata “Ah” kepadaku.

Subhanallah. Padahal, entah disengaja atau tidak, ketika mendapati sesuatu yang tidak mengenakkan (baca: menjengkelkan) atau melihat hal terjadi tanpa diinginkan, tak jarang dari lisan kita keluar kata “ah” atau “huh” atau yang serupa dengannya, sebagai ekspresi dari kejengkelan atau ketidaksesuaian dengan keinginan hati. Namun, selama masa pengabdiannya yang tidak bisa dibilang singkat itu, Anas Rodhiyallahu `anhu tak pernah sekalipun mendapati kata-kata serupa itu keluar dari lisan Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam. Sungguh merupakan pribadi yang teramat mempesona. Lalu, masih adakah celah bagi kita untuk tidak mencintai Nabiyullah Shollallahu `alaihi wasallam?

*tulisan ini pernah dimuat di buletin Ahwal (buletin IKPM Putri cabang Pakistan) edisi Maulid Nabi SAW. 1427 H


AddThis Social Bookmark Button

Links to this post Email this post


Liburan ke Lahore Sambil Menelisik Jamaah Ahmadiyah  

Sunday, February 1, 2009

Oleh: Aini Aryani

Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa kawan mahasiswi mengunjungi kota Lahore, setelah kurang lebih tiga minggu lamanya berkutat dengan buku dan materi kuliah untuk menghadapi final term exam (UAS).

Jadilah akhirnya tanggal 25 Januari lalu kami menuju kota Lahore, salah satu kota metropolitan Pakistan yang konon lebih padat penduduknya dibanding Islamabad. Kota Lahore memang lebih ramai dan padat dibanding Islamabad, ibukota Negara. Selama 3 hari kami menyisir kota dengan kendaraan antik yang disebut dengan Reksha dan Qingqi. Satu persatu tempat wisata dikunjungi, mulai dari Lahore Museum, Badshahi Mosque, Pakistan Fort, National Park, Lahore Tower, Bagh-e-Jinnah Park, Quaid-e-Azam Library, hingga Cross-Boarder (benteng perbatasan India-Pakistan).

Suhu udara di kota Lahore berbeda dengan Islamabad yang tiap Januari lazimnya memiliki suhu rendah hingga dibawah 8 derajat celcius. Pada musim yang sama, Murree, sebuah kota yang berdampingan dengan Islamabad memiliki hawa paling dingin. Pada bulan Januari dan Februari kota Murree menjadi 'kota salju' dimana penduduk lokal maupun para pendatang asing berbondong-bondong menuju kota tersebut untuk menikmati suasana snow fall yang indah. Sedangkan kota Lahore memiliki suhu berkisar 17 hingga 18 derajat celcius, hawa yang terasa bukan layaknya hawa puncak musim dingin.

Kota Lahore terdengar tidak asing jika dikaitkan dengan Jamaah Ahmadiyah. Jamaah tersebut memiliki dua kelompok inti, yakni Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadian. Lahore adalah kota yang saat ini menjadi bagian dari Negara Pakistan dan menjadi ibukota provinsi Punjab, sedangkan Qadian adalah nama sebuah tempat di India. Kedua tempat tersebut menjadi kota penting bagi pengikut Jamaah Ahmadiyah. Bahkan dari dua tempat itulah ajaran Ahmadiyah dibawa hingga ke Indonesia, dimana pada tahun 1920-an tiga orang pemuda Sumatera Thawalib (sebuah pesantren di Sumatera Barat) mengunjungi kota Lahore dan Qadian untuk menimba ilmu di Madrasah Ahmadiyah yang kini disebut Jamiah Ahmadiyah. Tidak lama kemudian, mereka mengundang rekan-rekan pelajar di Sumatera Thawalib untuk belajar di tempat tersebut sekaligus untuk baiat masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah.

Awalnya saya ingin mengetahui lebih banyak mengenai perkembangan dan tumbuhnya Jamaah Ahmadiyah di Lahore dengan mewawancarai salah satu penduduk setempat. Namun salah seorang kawan yang menjadi guide kami disana menyarankan agar saya mengurungkan niat itu, dengan alasan topik yang ingin ditanyakan terlampau sensitif. Dan jika sampai ada salah kata atau pertanyaan yang menyinggung? Hmmm…bisa nyawa taruhannya. Dan jika nyawa sudah menjadi taruhan, bom bisa ikut 'berbicara'. Akhirnya saya urungkan niat tersebut, dan sebagai gantinya saya berbincang dengan seorang mahasiswa Indonesia yang telah menimba ilmu kurang lebih 7 tahun di Pakistan dan saat ini menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Al-Maudoodi, Lahore.

Jamaah Ahmadiyah telah lama dilarang di Pakistan dan tidak diakui sebagai bagian dari golongan Islam. Parlemen Pakistan (National Assembly) telah mendeklarasikan pengikut Ahmadiyah sebagai non-muslim. Pada tahun 1974, pemerintah Pakistan merevisi konstitusinya tentang definisi Muslim, yakni "orang yang meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir". Sedangkan pengikut Ahmadiyah, khususnya Ahmadiyah Qadiani, meyakini bahwa bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaharu) dan seorang nabi. Penganut Ahmadiyah, baik Qadian maupun Lahore, dibolehkah menjalankan kepercayaannya di Pakistan, namun harus mengaku sebagai agama tersendiri di luar Islam. Namun demikian, Jamaah Ahmadiyah masih memiliki akar kuat dan pengikutnya telah menyebar di penjuru negeri ini. Konon, mantan Presiden Pakistan, Pervez Musharraf juga seorang Qadiani.

Abul A'la al-Maudoodi adalah salah satu tokoh berpengaruh yang menolak jika Jamaah tersebut menjadi golongan resmi di Pakistan. Negara Pakistan merupakan pecahan India yang merdeka pada tanggal 14 Agustus 1947. Nama Pakistan sendiri secara etimologi memiliki arti 'tanah yang suci', dimana ia didirikan dengan tujuan untuk memperoleh hak kemerdekaan dan menunaikan ritual ibadah bagi kaum muslim India, dimana sebelumnya mereka selalu mendapat resistensi dan menjadi korban diskriminasi. Berangkat dari nama 'tanah yang suci' itulah, Maudoodi tidak ingin jika Pakistan dikotori oleh ajaran-ajaran yang dipandang menyimpang dari agama Islam.[]

*tulisan diatas pernah dimuat di situs http://www.warnaislam.com/



AddThis Social Bookmark Button

Links to this post Email this post


 

Design by Amanda @ Blogger Buster