Mendamba Langit  

Friday, August 10, 2007

Kau tatap lagi bayangnya yang semakin menjauh
Dari balik jaring-jaring yang disulam laba-laba
Ternyata biru megah itu berbias maya
Ia tak seindah yang kau bayangkan

Dahulu kau kira sanggup tundukkannya
Dari ujung samudera yang bertemu dengan awan
Namun ternyata ia semu belaka
Karena kau tahu samudera tiada berbatas

Tinggi…Memang ia begitu tinggi
Iapun mengaku atap bumi yang kau pijak
Namun angkuhnya mulai pamerkan taringnya
Kau tak sudi binasa dalam terkamannya

Namun mengapa kau dan mereka berebut
Demi fatamorgana yang kau anggap nyata itu
Meski mungkin nyawa taruhannya
Bahkan mungkin imanpun harus kau gadaikan

Padahal tatkala siang meninggalkan jagad
Biru megahnya yang kau pujapun lenyap
Karena malam yang selalu menebar kelam
Menyembunyikan kemegahan yang dibanggakannya

Ya…langit yang selalu kau tuju itu
Kini telah gelap, lenyap dibalik tirai kelam
Tingginya yang kau kira terlawan
Ternyata takkan pernah dapat kau raih

Meraihnya ibarat insan dahaga mencari samudera
Tatkala sampai di tujuan, ia mulai meneguk sepuasnya
Namun tiada pula dahaga itu mati
Karena semakin ia teguk, Semakin pula ia dahaga

Kawan…
Mengapa semua itu kau sadari
Ketika maut mulai mengintaimu
Ketika kau tengah meregang nyawa…

(By: Aini Aryani)

NB:
Tulisan ini pernah dimuat di Buletin NUN,yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, edisi Februari 2005

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Kerinduan Sang Telaga Bening  

Oleh: Aini Aryani

“Mbak Elvi nggak pulang lagi idul fitri ini? “.
“Iya, Mit. Soalnya materi-materi yang belum disampaikan masih banyak. Apalagi bentar lagi UAS.” paparnya. Kuhembuskan nafas sebal, lalu mencoba hubungi Mas Arya.
“Assalamualaikum… lebaran tahun ini Mas pulang ke Indonesia ya. Kan udah hampir tujuh tahun nggak pulang.”
“Nggak janji, Dek. Tiap akhir Ramadhan aku harus ke Mekah meliput sholat Idul Fitri. Tapi, insya Allah aku usahain deh.” jawabnya. Lagi-lagi aku menghela nafas.
Beginilah kalau punya kakak-kakak super sibuk. Mbak Elvi seorang dosen di Universitas Samratulangi, Manado. Lima tahun lamanya belum pernah pulang. Sedang Mas Arya alumni Institute of Public Education di Victoria yang kemudian melanjutkan pendidikannya ke Maryland menekuni bidang pers dan jurnalistik. Mas Arya patut menjadi kebanggaan keluarga karena berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat cumlaude. Sekarang ia benar-benar meraih impiannya menjadi seorang journalist di sebuah media ternama di Perth, Western Australia. Menurutku ia adalah seorang “Workaholic”. Dulu, aku pernah membaca satu kalimat tertulis di tembok kamarnya, “Not to occupy and not to exist are one and the same thing for a man.”
***

Kuperhatikan Bunda yang tengah menikmati sore bersama tiga kucing piaraannya. Kadang beliau mengelus, memangku, bahkan mendongeng, seakan-akan mereka memahami bahasa manusia. Aku mendekat lalu berdehem. Namun sepertinya Bunda terlalu menikmati suasana bersama kucing-kucing mungil itu, hingga kehadiranku sama sekali tak disadari. Akupun beranjak menuju ruang tamu.
Kuamati ruangan ini. Oh…ternyata debu jendela depan sangat tebal. Maklum Bik Minah, pembantu kami sedang pulang kampung. Mataku iseng mengamati kalender.

“Oh iya, Bunda kan ulang tahun tanggal 2 April. Berarti seminggu lagi Bunda ultah dong.” Tiba-tiba satu ide muncul dibenakku. “Ctekk..!!” Kujentikkan jari. Lalu menuju telfon di sudut ruang tamu.
“Assalamualaikum, Mbak inget kan kalo 2 April ini ultah Bunda? Nggak apa-apa deh Idul Fitri nggak pulang. Tapi waktu ultah Bunda, Mbak dateng ya? Bunda pasti seneng banget kalo Mbak Elvi dan Mas Arya bisa dateng.” rajukku.
“Mm…Mit, kebetulan minggu depan Mas Ishak ada tugas ke Semarang, jadi kemungkinan Mbak bisa sekalian ke Surabaya.” Aku hampir terlonjak saking girangnya, kemudian mencoba menghubungi Mas Arya, tapi gagal.
“Kok gak nyambung sih…” gumamku. Lalu ponselku berbunyi. Private number.
“Assalamualaikum, Mit. Aku udah dua hari ini di Pakistan untuk meliput berita convocation di IIUI.” paparnya. Pantesan waktu ditelfon tulalit terus.
“Mit, ngomong-ngomong Bunda baik-baik aja kan?” tanyanya.
“Baik aja…Mm..oh ya, Mas inget kan kalo 2 April ini ultah Bunda? Mitha pengen bikin kejutan nih. Mas usahain pulang ya, biar Bunda seneng. Nggak apa-apa deh Idul Fitri ini nggak bisa dateng. Tapi waktu Bunda ultah, dateng ya? Pliiizz..!!” rajukku.
"Mmm…bentar, aku lihat schedule dulu,” Kutunggu Mas Arya beberapa menit.
“Rencananya dua minggu lagi aku mau ke Indonesia untuk meliput sengketa Indonesia-Malaysia. Jadi, kemungkinan bisa dateng.” jawabnya. Mataku berbinar.
Segera kurancang rencana selanjutnya. Semoga kami dapat menikmati senyum Bunda lagi. Yah, setelah ayah meninggalkan kami untuk selamanya, Bunda terlihat jarang tersenyum. Amat jarang malah. Bahkan selalu terlihat murung. Hampir seluruh waktu dihabiskannya bersama tiga kucing mungil itu, seakan Bunda selalu ingin di dekat mereka. Bik Minah pernah menelfonku tengah malam hanya karena khawatir dengan keadaan Bunda yang sakit-sakitan karena mogok makan sebab salah satu kucingnya sakit. Tanpa kami sadari, kucing-kucing itu akan membawa satu masalah dalam keluarga kami.
***

Kutata seluruh ruangan serapi mungkin. Korden dan taplak mejapun kuganti dengan warna hijau muda, warna kesukaan Bunda. Setelah merapikan jilbab, kudengar suara ketukan pintu. Kupikir kedua kakakku. Tapi dugaanku meleset. Yang datang hanyalah kiriman hadiah. Tepat setelah kutanda tangani tanda terimanya, telfon berdering,
“Assalamualaikum. Dek, aku ada urusan mendadak. Jadi, nggak bisa dateng. Tapi tadi aku telfon rekanku disitu untuk mengirim hadiah buat Bunda. Maaf ya, Dek.”
Suara Mas Arya membuat lututku lemas seketika. Kututup gagang telfon dengan gelisah. Lagi-lagi telfon itu berdering. Kuangkat gagang telfon itu tanpa gairah.
“Assalamualaikum. Dek, tadi pagi Mbak mau berangkat kesana, tapi tiba-tiba dapet info kalo besok ada rapat penting di kampus. Jadi, Mbak langsung ke Jakarta untuk terbang ke Sulawesi lagi. Maaf ya, Dek.” Aku hampir menangis mendengar penjelasan Mbak Elvi. Ya Allah, mengapa semuanya terjadi di luar rencana?
Dari kamar Bunda, samar-samar kudengar suara merdu melantunkan kalamNya.
Bunda, maafkan Mitha yang belum berhasil mengembalikan senyum itu.

Kuhempaskan tubuhku di sofa, lemas kusandarkan punggung yang terasa pegal. Mataku bersirobok dengan foto mendiang ayah. Masih segar di ingatanku ketika kami menikmati indahnya senja di suatu sore sambil menikmati teh hangat buatan Bunda,
“Mit, Bunda kalian bagai telaga bening yang menyejukkan, yang selalu mengundang kita untuk duduk di tepinya, merenung dalam bayang air jernihnya, atau membasuh wajah menghilangkan resah, bahkan berenang di dalamnya karena lelah, meski telaga itu berkecipak karenanya, atau keruh…atau kotor…”
***

Bik Minah kembali dari kampung. Akupun bersiap-siap kembali ke Jakarta. Kuketuk pintu kamar Bunda. Tak ada jawaban. Pelan kubuka pintu, ternyata beliau sedang beristirahat. Tak jauh dari tempat tidurnya, kulihat tiga kucing mungil yang juga pulas di atas ranjang empuk. Jadi aku hanya menitip pesan lewat Bik Minah.
Namun, sampai di Jakarta, Bik Minah kembali menelfonku,
“Non Mitha, celaka, Non..celaka…!!” Suaranya terdengar panik.
“Ada apa, Bik?” tanyaku penasaran.
“Anu, Non. Tadi pagi kucing-kucing itu di tabrak mobil waktu bermain di jalan raya…Waduh…ya`opo iki…”suara Bik Minah terdengar panik.
“Terus Bunda gimana, Bik?” tanyaku khawatir.
“Lha itu dia, Non. Setelah melihat tiga kucingnya mati, Ndoro putri nangis ndak berhenti-berhenti, lalu pingsan. Terus, Ndoro selalu ngigo ndak karuan. Waktu sudah sadar, tatapannya kosong terus. Perkataan Bik Minah ndak pernah diperdulikan. Bahkan selalu mengulang-ulang kalimat yang sama. Katanya…” Kata-kata Bik Minah terpotong.
“Kalimat apa, Bik?” Tanyanyaku yang makin penasaran.
”Kata Ndoro putri ‘Elvi, Arya, Mitha jangan menyusul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda sendirian disini…’ begitu kalimatnya. Waduh…Bik Minah bingung mau ngapain. Non Mitha pulang ya, Non.” katanya masih dengan suara bergetar.
Segera aku berangkat ke Bandara untuk terbang menuju Juanda setelah meminta Bik Minah membawa Bunda ke rumah sakit. Jangan-jangan Bunda benar-benar menganggap tiga kucing itu sebagai Mbak Elvi, Mas Arya, dan aku?!
Bunda, mengapa senyum itu semakin menjauh? Mengapa ia terlalu sulit tuk dihadirkan kembali?
***

Bunda tengah terlelap ketika aku tiba. Dari wajah teduh yang kian menua itu, aku bisa melihat gurat kecewa, kesedihan, juga kerinduan mendalam disana. Kubuka diary, lalu perlahan kugoreskan penaku di lembaran-lembaran biru itu;
Bunda…
Senyum itu pergi lagi, semakin jauh, entah dimana ia bersembunyi
Andainya samudera atau rimbun hutan yang sembunyikan ia
Ingin Nanda selami samudera itu
Atau mengoyak ranting-ranting rimbun hutan itu
Meski tangan ini ikut terkoyak karenanya
Bunda…
Masih segar membekas di ingatan ini
Ketika kau ajari kami ‘alif, ba’, ta’ dengan kefashihan lisanmu
Agar kami dapat menyelami lautan hidayahNya
Atau ketika tangisan kami pecah, dirimu terbangun resah
Merelakan matamu tak terpejam demi menghalau gelisah kami
Pun ketika Nanda jatuh dari peraduan dan merengek
Kau raih Nanda ke pelukan kasihmu, seraya meneteskan airmata
Seakan kaulah yang tengah merasakan sakitnya raga
Namun...
Ketika kami beranjak dewasa, dan kau tengah di usia senja
Kaki-kaki mungil kami dulu, kini tak dapat kau elus lagi
Tangan-tangan mungil kami juga tak dapat lagi kau sentuh
Kami sibuk mengejar asa sendiri, larut dalam ego
Tak sadar bahwa ada telaga bening yang tengah merindu
Yang ingin meredam resah, menghilangkan gelegak duka
Telaga bening itu adalah engkau, Bunda
Kini…
Izinkan Nanda mencari kekuatan mahadaya
Agar mampu mempersembahkan senyum untukmu, Bunda…


Kututup diaryku perlahan. Kutahan mataku yang berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba,
“Elvi, Arya, Mitha jangan menyusul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda….” igau Bunda. Mengulang kalimat itu berkali-kali. Aku panik. Segera kupanggil suster.
Setelah keadaan Bunda mulai membaik, kudekati beliau yang tengah menatap jendela. Tatapannya kosong.
“Bunda, ini Mitha…” bisikku. Tak ada respon. “Bunda, ini Mitha, puteri Bunda.” Ulangku. Ia menangis sesenggukan, tapi tangis itu makin kencang, bahkan meraung…
“Tidak…Mitha juga ditabrak mobil itu bersama Elvi dan Arya… huu… huu.. anak-anak Bunda menyusul ayahnya…huu…” Raungan bunda membuatku kaget. Akhirnya tangisku pun pecah.
“Tidak, Bunda… yang mati itu hanya kucing…bukan anak-anak Bunda…hanya kucing, Bunda.” Aku harus berhasil meyakinkan Bunda. Namun Bunda tetap meraung. Hatiku semakin galau, seiring airmataku yang semakin deras.
“Bunda, ini Mitha, putri Bunda. Kucing-kucing itu cuma hewan. Bunda masih ingat kan waktu dulu Mitha mecahin kaca tetangga, Bunda marah dan ngurung Mitha dalam kamar. Terus, waktu Mitha sakit typus, Bunda seharian nemenin Mitha di kamar, gendongin Mitha setiap ke kamar mandi, nyuapin Mitha setiap makan…masih ingat kan, Bunda…ini Mitha, anak Bunda.” celotehku sambil terus menangis. Tangis Bunda mereda lalu terdiam. Kubiarkan Bunda menenangkan diri. Lama, hingga akhirnya beliau terlelap.

Kutatap mata Bunda lekat. Aku harus berhasil meyakinkan Bunda bahwa aku, Mbak Elvi dan Mas Arya-lah darah dagingnya, bukan kucing-kucing itu. Aku tidak akan membiarkan tiga hewan itu menggantikan tempat kami di singgasana hati Bunda.
Pun aku harus meyakinkan kedua kakakku bahwa Bunda butuh mereka disini saat ini. Juga bahwa hadiah-hadiah yang selalu mereka yakini dapat membahagiakannya, takkan pernah mampu menggantikan kehadiran mereka disisi Bunda. Bagi Bunda mereka terlampau berharga tuk digantikan dengan kebendaan, karena putra putrinya adalah anugerah terindah yang tak terbeli, yang merupakan karunia tebesar dariNya.

Bunda masih terlelap ketika Mbak Elvi dan Mas Arya datang. Mataku berbinar saat melihat Bunda membuka mata bersama kami sampingnya. Seketika itu, kami serentak memeluk wanita terkasih itu…Kini kami disini untuk Bunda…(Nie)
(Persembahan tuk Bunda-ku. Miss U so Much, Mom)

*Tulisan ini menjadi juara II lomba FCPI Awards 2005 dan dimuat oleh Buletin NUN, yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, tahun 2005

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Bagai Mentari Musim semi  

Wednesday, July 25, 2007

Oleh: Aini Aryani

“Yes…!!!” ia bersorak dalam hati, senyumnya mengembang seiring suara tepukan di Jinah Convention Center yang terdengar semakin membahana.
Ia merupakan satu-satunya mahasiswi asing dari Asia Tenggara yang dinobatkan sebagai salah satu penerima Gold Medal dari sekian banyak mahasiswa dan mahasiswi asing di kampusnya, International Islamic University Islamabad. Ia patut berbangga.
Senyumnya semakin mengembang ketika Dr. Mahmood Ghazi, sang President of The University mengalungkan medali emas tersebut ke lehernya. Senyum itu tetap tersungging hingga saat langkahnya meninggalkan gedung tersebut.

Namun, senyum itu tiba-tiba hilang ketika sepasang matanya menatap wajah seorang wanita yang tak diharapnya untuk datang. Bibir yang sedari tadi membentuk sabit mungil, kini tak tampak lagi. Yang terlihat hanyalah sebuah paras ayu namun menyimpan rasa kesal, bahkan mungkin malu.

Malu. Ya…karena wanita itulah kini ia dihinggapi rasa malu. Bagaimana tidak, sejak kedatangan wanita yang telah melahirkan dirinya itu ke negeri ini, ia merasa bahwa rekan-rekannya memandangnya sebelah mata, bahkan mungkin menatapnya sinis. Entah, apakah yang dirasakannya benar atau salah. Yang pasti, perasaan itulah yang kini sedang ia rasakan. Seakan-akan ia dikelilingi oleh labirin-labirin yang setia meneriaki telinganya dengan teriakan, “Rika, kau anak wanita buta…..!!!”
“Huh…” dengusnya kesal. Mengapa pula Mama bersikeras untuk hadir di convocation day ini, rutuknya dalam hati.

“Erika…!!” suara yang tak asing lagi. Suara Mbak Ratna, kakak satu-satunya. Mbak Ratna-lah yang mengantar Mamanya menuju Negeri Ali Jinah ini, negeri dimana ia mendalami ilmu di program S2 bidang Management Sciences.

Gadis itu menoleh. Terpaksa.
“Rika, Mama dan Mbak nunggu dari tadi lho. Padahal tadi udah Mbak bilang kalo acaranya masih lama. Tapi mama bersikeras nunggu. Nggak sabar pengen pegang toga kamu.” kata kakaknya antusias. Disampingnya, Mama hanya tersenyum.
“Ma, ini Rika. Mama pegang deh toganya.” ujar Mbak Ratna pelan seraya membantu Mama meraba toga kebesaran yang tengah dikenakannnya.
“Mama bangga, Nak.”ucap wanita itu tulus.
Ibu mana yang tak bangga jika putrinya meraih apa yang menjadi impiannya. Terlebih, semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga menamatkan program S2-nya, Erika hampir tak pernah mendapat nilai mengecewakan.

Erika menatap sekeliling, berharap teman-temannya tak ada disekitar tempat itu, apalagi melihatnya bersama Mama. Tapi, Ups…Syamsa, classmate yang sering menjadi rivalnya di kelas. Ia melihat Syamsa berjalan menuju ke arahnya. Tidak..! Syamsa tak boleh tau hal ini. Bisa-bisa dia menertawakan keadaan ini, batinnya. Erika menatap Mamanya. Lalu…
“Tap…” ia meraih tangan Mama yang tengah memegang toganya, kemudian mengibaskannya kasar, lalu dengan setengah berlari ia melangkah menjauh. Sekilas dilihatnya ekspresi kaget dari wajah Mama.
“Erika, apa-apaan kamu…?!” Samar ia mendengar teriakan Mbak Ratna. Ia tak peduli.
***

Hari itu sebenarnya Erika harus mengurus kepulangannya untuk kembali ke tanah air. Namun tiba-tiba ia mendapat berita dari ponselnya bahwa ia diminta untuk menghadap Dr. Mahmood Ghazi.
Taksi yang tadinya menuju kantor Kedutaan Indonesia, kini berbelok arah menuju Faishal Mosque, tempat dimana maktab sang Presiden bertempat.
Ia melangkahkan kaki seraya menebak-nebak, ada apa gerangan? Langkahnya terhenti ketika ia tiba di sebuah ruangan yang dituju. Segera ia masuk setelah mengucap salam.
Matanya berbinar setelah mengetahui bahwa dirinya diminta untuk menjadi salah satu staf pengajar tetap di IIUI. Segera ia kembali ke rumah yang disewanya. Ia harus mengambil berkas-berkas penting untuk segera difotokopi.

“Krek…” ia membuka pintu rumah lalu dengan tergesa menuju kamar dan mengambil berkas-berkas penting. Namun ketika melangkah keluar…,
“Braaakk…!” seseorang menabraknya. Kertas-kertas ditangannya berserakan. Ia memandang seorang wanita didepannya. Mama.
“Mama gimana sih, ini berkas-berkas penting yang harus saya fotokopi secepatnya, Ma. Aduh…berantakan deh. Mana ntar lagi kantor mau tutup lagi. Huhh…” dengusnya sebal.
“Mama minta maaf ya sayang. Soalnya tadi Mama pikir kamu baru pulang dan capek. Makanya Mama mau nawarin wedang jahe. Itu wedangnya, sudah Mama taruh di atas meja. Tadi Ratna bantu Mama di dapur.”
“Gak usah, Ma. Saya buru-buru.” Jawabnya ketus seraya beranjak pergi tanpa menoleh ke arah Mama.
***
“Kring…”
“Ya…hallo…oh Syamsa. How are you?” Tanya Rika basa-basi. Syamsa adalah mantan classmate-nya yang berdarah Pakistan asli.
“Fine! Thanks…Rika, saya dengar ibu kamu datang di convocation kemarin. Benar tidak?” tanyanya dengan logat British yang fasih. Erika kikuk.
“Ii..iya…memangnya kenapa, Syamsa?”
“Oh, you must be happy…karena tidak semua foreigners bisa ditemani orang tuanya ketika diwisuda. Iya kan?” tanyanya lagi. Erika hanya mengiyakan.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak memperkenalkan saya dengan ibumu, Rika? Sebenarnya saya melihat kamu usai acara wisuda kemarin, tapi karena kamu pergi, saya tidak jadi menghampiri. Kalau tidak salah, mereka berdua kakak dan ibumu, bukan?” tebak Syamsa.
“Ee…bu..bukan kok. Mereka itu, yang satu, kakak saya, usianya sekitar 30-an. Tapi yang satu, lagi cuma orang Indonesia yang sudah saya anggap keluarga sendiri.” Jawabnya dengan nada meyakinkan.
Ia menghela nafas setelah Syamsa menyudahi pembicaraan mengenai Mama. Namun…
“Keterlaluan kamu, Erika…” tiba-tiba Mbak Ratna muncul dari balik pintu kamarnya.
“Eh…mm…Mbak..” jawabnya terbata. Mbak Ratna menghampirinya, lalu menatapnya dalam. Rika berharap ia tak mendengar percakapannya dengan Syamsa tadi.
“Kamu risih dengan keadaan Mama?” Tanya Mbak Ratna. Erika diam. Baginya, kalimat tersebut bukan sekedar pertanyaan biasa yang menunggu satu jawaban singkat, namun merupakan investigasi dalam bentuk pertanyaan yang menuntut penjelasan panjang lebar juga rasional.
“Bukan, Mbak… saya cuma….cuma…” Ia bingung untuk melanjutkan kata-katanya sendiri.
“Cuma malu maksud kamu? Iya kan?” tuduhan itu menamparnya telak. Ia tak bisa mengelak. Hanya satu pilihan yang ia pikir harus dilakukan saat ini. Membela diri.
“Mbak, coba bayangkan kalau saja Mbak Ratna ada di posisi saya. Sejak Mama berkunjung kesini, temen-temen cenderung memandang saya sebelah mata. Seakan-akan saya itu nothing di hadapan mereka. Bukankah itu semua disebabkan karena kondisi fisik Mama?.”Ucapnya.

Ada perasaan bersalah yang perlahan menyusup ke dalam hati kecilnya hingga membuatnya menyesal telah berkata demikian. Ia tahu bahwa apa yang baru saja diucapkannya dapat melukai perasaan Mbak Ratna, terlebih jika Mama mendengarnya.
Tapi…apa yang ia ungkapkan benar-benar seperti yang dirasakannya saat ini. Dan menurutnya, Mama tetap bersalah karena baginya kebutaan Mama telah membuat reputasinya down dihadapan rekan-rekannya. Jadi, tak salah jika dirinya mengatakan hal seperti itu. “Rasional bukan?” Sahut bisikan hatinya yang lain. Tapi…,

“Benar-benar keterlaluan kamu, Rika!! Mbak menyesal kenapa dulu Mama bersikeras untuk mendonorkan kornea mata beliau untuk puteri bungsunya yang terlahir dalam kebutaan.” Suara Mbak Ratna terdengar bergetar menahan marah.
“Apaa….?!” Kalimat yang baru saja didengarnya membuatnya tak percaya. Bukankah dirinya adalah puteri bungsu Mama?!. Berarti….
“Jika sekarang kamu bisa seperti ini, semuanya tak lepas dari pengorbanan Mama. Pengorbanan yang tak semua orang sanggup lakukan. Pengorbanan tulus dari seorang Mama yang tak rela jika puteri yang dicintainya cacat seumur hidup.” Paparnya.
Erika terhenyak. Matanya terasa panas, seakan bulir bening didalamnya memaksa keluar.
“Tapi, mengapa Mama melakukannya, Mbak…?” tanyanya. Suara paraunya hampir tak terdengar. Mbak Ratna terdiam sejenak, menetralkan emosinya yang sedari tadi menggelegak.
“Saat kamu dilahirkan, Mama bilang bahwa beliau tak hanya melahirkan seorang putri, tapi juga melahirkan sebuah cinta. Cinta yang bagi Mama menuntut pengorbanan, meski itu begitu berat. Hingga walau pengorbanan itu mengharuskan beliau menderita kebutaan seumur hidupnya, seperti yang kamu lihat saat ini…” Mbak Ratna terdiam sejenak, lalu melanjut kan…
“Tapi ternyata hingga detik inipun kamu tidak mampu melihat cinta itu di mata Mama. Jadi, siapa sebenarnya yang buta itu, Rika?!” Mbak Ratna mengakhiri kalimatnya seraya menuju kamar Mama.
Sementara itu, Erika masih terpaku. Lama, lalu tersungkur. Ia memejamkan kedua matanya. Terbayang ketika ia membentak Mama. Wanita tegar itu hanya diam, tapi ia tahu sepasang mata itu berbicara banyak. Sayang, Erika tak mampu menerjemahkannya.
Perasaan bersalah serta penyesalan seakan menamparnya bertubi-tubi dan tanpa ampun. Bulir bening yang sedari tadi memaksa keluar dari bola matanya, kini bagai ombak maha dahsyat yang meluluh lantakkan karang kokoh bernama keangkuhan di hatinya.
***

Sebulan kemudian…
Usai menamatkan tilawah, ia menuju beranda rumah. Langkahnya pelan, seiring langkah mentari yang mencari pagi. Hawa dingin winter masih menusuk. Sebulan sudah Mama dan Mbak Ratna meninggalkannya menuju tanah air. Ada kerinduan menyusup ke dalam relung hatinya. Tiba-tiba ia teringat kalimat Mbak Ratna sebulan yang lalu, “Siapa sebenarnya yang buta itu, Rika?”

Ia tahu, pertanyaan itu tak butuh jawaban secara lisan. Lebih dari itu, ia menuntut jawaban dari hati. Pun pertanyaan itu mengandung sarkasme cukup tajam, hingga mampu menebas keangkuhan yang pernah berdiri kokoh di satu ruang dalam hatinya.
Terbayang wajah teduh Mama. Bagi Erika, Mama adalah wanita paling tegar yang pernah ia temui. Sungguh, Mama tak pernah buta. Melainkan, dialah yang patutnya dinilai buta, karena dirinya tak mampu melihat cinta Mama yang begitu tulus hingga sanggup melahirkan pengorbanan yang begitu besar untuknya. Lebih dari itu, cinta Mama mampu mencairkan kebekuan dalam hatinya, meski kebekuan itu bak gumpalan salju di puncak Bukit Muree.

Ia merasakan cinta Mama memanggilnya, menggerakkan syaraf motoriknya untuk segera menemui wanita terkasih itu dan memohon maaf darinya. Ia benar-benar rindu. Baginya, kasih Mama sehangat mentari musim semi. Ya, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman meski harus meninggalkan profesinya. Baginya, itu hanyalah secuil dibanding besarnya pengorbanan Mama.
Tak sadar iapun bergumam “Ma, betapa aku rindu….”(Nie)

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


 

Design by Amanda @ Blogger Buster