SOS: PAKISTAN  

Monday, December 31, 2007

(BENAZIR BHUTTO TEWAS)
Oleh: Akmal Nasery Basral, Kurie Suditomo, Aini Aryani.
Sumber: Majalah TEMPO, edisi 31 Desember 2007, Kajian Utama.


”Jiye Benazir! Hidup Benazir!”
Pekik ribuan pelayat mengoyak keheningan Desa Garhi Khuda Bakhs, Larkana, Provinsi Sindh, tempat mausoleum keluarga Bhutto terbaring. ”Jiye Bhutto!” Raung kesedihan itu bergelombang, susul-menyusul, seperti melodi qawwali yang kerap dilantunkan penyanyi karismatik Nusrat Fateh Ali Khan. Hanya kali ini tak ada kegembiraan. Pekik itu menjadi semacam ode perpisahan bagi tubuh beku Benazir, 54 tahun, yang terbujur di peti mati.

Berbalut parcham-e-sitara aw hilal, sebutan untuk bendera Pakistan yang berhias bintang dan bulan sabit, peti itu dikubur di samping makam sang ayah, Zulfikar Ali Bhutto, pada Jumat terakhir tahun 2007 yang masai. Suami Benazir, Asif Ali Zardari, yang terbang dari Dubai bersama ketiga anaknya, Bilawal, Bahktwar, dan Aseefa, hanya bergumam pasrah, ”Ini menyedihkan.”

Di pelbagai tempat di sekujur Pakis-tan, surup merasuki massa. Sepuluh stasiun kereta api dan sejumlah gerbong dibakar di sekitar Sindh, membuat transportasi antara Karachi, ibu kota Sindh, dan Punjab di sebelah timur, terputus. Kota lain di Provinsi Sindh seperti Sukkur, Shahdad Kot, dan Rotri juga mendidih dengan kecaman terhadap Presiden Musharraf dan Al-Qaidah.

Di pusat bisnis ibu kota Islamabad, ratusan warga membakar ban-ban mobil, menyebabkan asap hitam membubung tinggi. Di pinggiran Peshawar sebuah bom memangsa empat nyawa, satu di antaranya politikus senior dari partai sang Presiden. Hanya sehari setelah Benazir mangkat, 23 nyawa melayang akibat kerusuhan di beberapa kota. Pidato Musharraf di televisi lokal Dawn News, yang mengajak masyarakat berkabung selama tiga hari dan mengibarkan bendera setengah tiang, gagal menurunkan emosi akibat kematian dramatis Benazir.

”Ada ancaman yang sangat nyata akan pecahnya perang saudara di Pakistan,” ujar Riaz Malik dari partai oposisi Gerakan Pakistan untuk Keadilan. Kekhawatiran Malik boleh jadi tak berlebihan. ”Bahkan bagi mereka yang selama ini bersikap kritis terhadap Benazir Bhutto,” tulis Tariq Ali dalam kolomnya di The Guardian, ”Kematiannya tetap mendatangkan kemarahan.”

Maut, dan caranya yang kerap datang secara mengerikan, sesungguhnya bukan hal baru bagi putri tertua klan Bhutto tersebut (baca Dinasti Berdarah dari Sindh). Benazir pernah menggambarkan betapa sulit perjuangannya untuk membawa jenazah sang adik Shahnawaz, yang tewas di Cannes, Prancis, agar bisa dikebumikan berdasarkan tradisi keluarga di Larkana. ”Seorang Bhutto lainnya meninggal akibat keyakinan politik,” tulisnya dalam otobiografi Daughter of The East (1988), ”Tetapi kesedihan tak mampu menghalangi kami dari aktivitas politik atau usaha menegakkan demokrasi.”

Namun, bagaimana nyawa Benazir sendiri pupus di tengah sorak sorai pendukungnya yang sedang tenggelam dalam eforia di lapangan Liaquat Bagh, Rawalpindi, pada Kamis petang, tetap mendatangkan aneka tafsir. Misalnya dari John Moore, fotografer Getty Images yang sempat memotret detik-detik terakhir Benazir melambaikan tangan sebelum tembakan dan bom bunuh diri menamatkan hidupnya (lihat Tragedi di Rawalpindi).
Tudingan pertama tentang otak pembunuhan terarah kepada Presiden Musharraf. Itu reaksi spontan yang ditunjukkan pendukung Benazir ketika dengan cemas mengawal pemimpin mereka ke Rumah Sakit Umum Rawalpindi. Mereka menuduh Musharraf terlibat pembunuhan Benazir. Permintaan Benazir agar Musharraf menyediakan empat mobil pengawal pada saat berkampanye hanya dipenuhi satu. Itu pun dengan jumlah aparat yang minim.

Maka, begitu mantan perdana menteri termuda dalam sejarah Pakistan itu dinyatakan meninggal dunia pukul 18.16 waktu setempat (20.16 WIB), mereka menghancurkan kaca-kaca rumah sakit dan mengumpat, mencaci-maki, ”Anjing, Musharraf anjing!”

Koresponden lepas Tempo di Islamabad, Aini Aryani, menyaksikan bagaimana ribuan orang mengamuk dengan meledakkan truk, motor, mobil, melempari toko, bangunan umum, dan pasar yang mereka lewati, seperti pasar Aabpara di sektor G/6 yang berdekatan dengan Masjid Merah. Semua institusi pendidikan diliburkan selama tiga hari, termasuk kampus Universitas Islam Internasional Islamabad.

Keyakinan bahwa Musharraf berada di belakang tragedi berdarah ini diperkuat oleh juru bicara Benazir di Amerika Serikat, Mark Siegel, yang menerima surat elektronik Benazir tertanggal 26 Oktober 2007, delapan hari setelah kepulangannya ke Pakistan dari pengasingan delapan tahun di Dubai dan London. ”Jika saya terbunuh, Presiden Pervez Musharraf yang harus dipersalahkan,” tulisnya.

Sikap ini berbeda jauh dengan kehati-hatian Benazir dalam memandang militer, seperti yang pernah dikatakannya kepada Yuli Ismartono dari Tempo dalam sebuah wawancara setelah terdongkel dari periode pertamanya sebagai Perdana Menteri (1988-1990). ”Terhadap militer, saya selalu bersikap fleksibel dan berusaha menyesuaikan diri.… Semua pihak harus berusaha keras untuk bekerja sama demi kepentingan negara. Kalau tidak, ya akan ada pemilu tiap dua tahun.” (Tempo, 1 September 1990).
Spekulasi kedua tentang pelaku pembunuhan datang dari kantor berita portal Internet Italia Adnkronos International (AKI), yang melansir ucapan juru bicara Al-Qaidah, Mustafa Abu Al-Yazid, yang mengaku bahwa kelompok mereka berada di belakang tragedi Kamis kelabu itu. ”Kami menghancurkan aset utama Amerika yang bercita-cita menghancurkan mujahidin,” katanya. Lebih jauh Al-Yazid menyatakan bahwa perintah pembunuhan datang dari orang nomor dua di Al-Qaidah, Ayman Al-Zahiri, sejak Oktober.
Namun edaran yang diterbitkan FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat pada hari itu juga menyangsikan bahwa klaim tersebut betul-betul muncul dari Al-Qaidah, karena tak adanya klaim serupa di situs web mereka–sebuah ciri yang selalu dilakukan Al-Qaidah dalam aksi-aksi sebelumnya. ”Itu sebuah klaim yang terbuka dan tak bisa dikonfirmasi,” ujar Ross Fein, juru bicara Direktur Intelijen Nasional Mike Mc Connell, seperti dikutip CNN.

Tak seperti kepastian klaim Al-Qaidah yang masih diperdebatkan, sebutan ”aset utama Amerika” terhadap Benazir mungkin tak sepenuhnya keliru, terutama melihat masa-masa bulan madu Gedung Putih dan Musharraf yang sudah layu. Setelah tragedi 11 September 2001 yang membuat Presiden George Bush mengumandangkan slogan ”War on Terror”, Pakistan yang ditengarai sebagai markas persembunyian Al-Qaidah dan Taliban mendapat injeksi dana hampir US$ 10 miliar (sekitar Rp 90 triliun). Namun, alih-alih terjadi ”pembersihan” seperti yang diinginkan Amerika Serikat, Musharraf dinilai justru memberikan ruang bagi perkembangan kaum ekstremis, selain semakin menunjukkan gejala otoriter.

Perasaan jengkel terhadap kondisi itu membuat Kongres meloloskan undang-undang yang berisi pembatasan bantuan Amerika Serikat atas Pakistan. Dengan total bantuan yang kini menyusut hanya menjadi US$ 300 juta, dan sudah ditandatangani Bush pada Rabu pekan lalu, Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice mensyaratkan Pakistan harus melakukan reformasi politik, termasuk pelepasan tahanan politik dan memperbaiki sistem yudisial.

Caranya? Kekuasaan Musharraf harus dipangkas dengan mensyaratkannya untuk bekerja sama dengan Benazir Bhutto. Sepekan lagi, niat yang sudah dianyam sejak kembalinya Benazir dari pengasingan dua bulan silam praktis bakal tercapai dengan dilangsungkannya pemilu parlemen pada 8 Januari. Tapi kematian Benazir membuat segalanya berubah cepat. ”Pemerintah akan mendiskusikan lagi dengan pihak oposisi tentang jadwal pemilu,” ujar Perdana Menteri Muhammad Mian Soomro.

Nawaz Sharif, pemimpin Partai Liga Muslim Pakistan (PML)-N, sudah menyatakan memboikot pemilu. Ini merekatkan kembali aliansi partai oposisi Gerakan Seluruh Partai Demokratis yang bubar setelah Benazir dengan Partai Rakyat Pakistannya memutuskan ikut pemilu. Aliansi ini terdiri atas 35 partai politik yang berideologi nasionalis dan Islam.

Pernyataan beberapa ketua Partai Rakyat Pakistan bahwa mereka menetapkan hari berkabung selama 40 hari menyiratkan partai ini mendukung aksi boikot itu. Ini berarti Partai Liga Muslim-Q bentukan Musharraf dan 2-3 partai kecil akan berjalan sendirian.

”Ini tahun berdarah bagi Pakistan,” kata bekas bintang kriket Imran Khan, pemimpin Partai Tehrik-e-Insaaf yang memboikot pemilu, ”dan rakyat sudah tak percaya pada Musharraf.”
Dengan sejumlah ketidakpastian itu, peta politik Pakistan pun makin tak genah. Dan pemakaman Benazir tampaknya baru menjadi ”seri pertama” dari buyarnya sebuah euforia untuk menjadikan Pakistan lebih demokratis dalam waktu dekat.

________________________________________

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Pemegang Tongkat Estafet Amanah Bangsa  

Friday, November 9, 2007

Oleh: Aini Aryani

Generasi Muda dan Pendidikan
Pemuda adalah generasi penerus bangsa. Slogan tersebut sekilas memang terdengar ‘klise’. Namun keabsahan slogan ini tidak terbantahkan karena mau tidak mau, sanggup atau tidak sanggup, pemudalah yang akan menggantikan kedudukan generasi-generasi sebelumnya dalam membangun bangsa. Selain itu, pemuda sudah sepantasnyalah menjadi agent of change, pembawa perubahan, yang membawa bangsa menjadi lebih baik, lebih bersatu, lebih makmur, dan lebih madani.

Bisa dibilang, 'perahu' bangsa Indonesia hampir karam. Sudah terlalu sering gelar-gelar negatif dilekatan pada tanah dimana kita dan pendahulu dilahirkan. Mulai dari rendahnya SDM bangsa, tingginya tingkat korupsi, tingkat kemiskinan dan lain sebagainya. Untuk itulah generasi muda perlu kembali merefleksikan kehendak bersama yang sudah didengungkan pemuda bangsa sejak Oktober 1928 dahulu. Berikut penulis paparkan beberapa pendapat mengenai bagaimana semestinya peran generasi muda dalam membangun dan mencerdaskan bangsa:

Hendaknya generasi muda mengawali pendidikan sebagai modal dasar, disiplin, kejujuran, dedikasi, kemauan untuk bekerja keras, berwawasan luar, membuka diri, melihat dunia luas, tapi tetap punya kepribadian. (Endang Trisnowati, Protokol Konsuler KBRI Islamabad).

Being citizen of a country, young generation have three basic responsibilities:
1. Understanding the religion, Allah’s demand and fulfill it.
2. Should be loyal to the country, improve the condition.
3. To excel in the field of knowledge according to what they were studying. In other word, the right person should be in the right profession.
(Dr. Ateequzafar Khan, Dean of International Institute of Islamic Economics IIUI Pakistan)

Bangsa akan maju secara umum jika dalam generasi bangsa tersebut ada kesadaran tanpa terjadinya Generation Gape. Generasi muda harus dilibatkan dalam segala bidang baik dalam birokrasi dan bidang-bidang lainnya, juga harus dibekali pengalaman serta diberi arahan atau ancer-ancer untuk melihat kesempatan. (Andre Norman, MA., Kepala Fungsi Ekonomi KBRI Islamabad)

Dari beberapa pandangan diatas, terlihat adanya korelasi erat antara pemuda dan pendidikan. Seorang tokoh pembaharu Perancis bernama Jean Jaqques Rosseau menyatakan bahwa semua yang kita butuhkan dan semua kekurangan kita waktu lahir, hanya akan kita penuhi melalui pendidikan. Aristoteles, seorang ahli filsafat Yunani kuno juga berpendapat bahwa perbaikan masyarakat hanya dapat dilakukan dengan terlebih dahulu meperbaiki sistem pendidikan. Tidak ketinggalan pula Van de venter, tokoh politik ETIS atau balas budi yang menjadi tonggak awal perkembangan munculnya golongan terpelajar Indonesia juga mengatakan bahwa pendidikan yang diberikan kepada rakyat pribumi, akan dapat merubah nasib pribumi. Bahkan jauh-jauh sebelumnya, kanjeng nabi Muhammad SAW, sang revolusioner sejati yang menempati urutan nomor satu dalam 100 tokoh berpengaruh dunia versi Michael Heart, telah bersabda bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi seluruh muslim/muslimah. Dan yang paling pantas menyandang kewajiban tersebut adalah generasi muda, karena mereka yang memiliki kesempatan lebih banyak untuk menuntutnya, dan kelak dipundak merekalah amanah agama, bangsa dan umat dibebankan.

Generasi Muda dan Bangsa
Pemuda dan termasuk di dalamnya mahasiswa kadang memang memiliki kekuatan yang sering tidak terduga. Sejarah membuktikan, perubahan bangsa banyak dimulai oleh gerakan kepemudaan dan mahasiswa. Gerakan pemuda dan mahasiswa Argentina (1955) misalnya, berhasil meluluhlantakkan kekuasaan diktator Juan Veron. Gerakan pemuda dan mahasiswa Kuba (1957) juga berhasil menghancurkan diktator Batista. Keberhasilan itu juga tercermin pada gerakan reformasi pemuda dan mahasiswa Indonesia (1998).

Bahkan, kemerdekaan Indonesia diraih dengan semangat kepemudaan yang tinggi, dilakukan oleh orang-orang muda yang progresif, dinamis, berani dan heroik. Modal inilah yang telah menjadikan bangsa ini dapat meraih kemerdekaannya, karena tanpa itu semua, mungkin proklamasi kemerdekaan sulit terwujud.

Konklusi
Generasi muda adalah aset termahal bangsa, sedangkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan pendidikan merupakan unsur dasar yang akan menentukan kecekatan mereka dalam berpikir tentang dirinya dan lingkungannya. Seseorang yang mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik diharapkan mampu mengubah keluarganya, kelak mengubah daerahnya dan kemudian mengubah negaranya serta mengubah dunia dimana dia hidup. Seseorang memiliki eksistensi tentang arti penting dirinya dan kehidupan yang diberikan Tuhan bagi dia dan sangat disayangkan jika itu berbuah dalam kesia-siaan.

Benarlah apa yang dinyatakan seorang bijak:
Give a man a fish, and you will feed him for a meal.
But teach a man how to fish, and you will feed him for life.


Kata bijak yang sangat menggugah yang berarti “Berikan pada seseorang seekor ikan, maka kamu memberinya hanya sekali makan. Tapi ajarilah seseorang untuk memancing, maka kamu telah memberi dia makan seumur hidupnya”. Suatu ungkapan yang boleh diberi acungan jempol. Dalam ungkapan itu tersimpan makna untuk memanusiakan manusia agar ia menjadi manusia, memberdayakan, mendidik, melatih, memberi pengetahuan dan keterampilan agar kelak ia yang memberdayakan dan bertanggungjawab pada dirinya, kehidupannya serta masa depan diri dan bangsanya.[]

NB: Tulisan diatas pernah dimuat di buletin KUNTUM, suplemen Majalah IKPM edisi November 2007 yang diterbitkan oleh organisasi para alumni Gontor di Pakistan.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Islam Berideologi Patriarki; Benarkah...???  

Monday, October 8, 2007

Oleh: Aini Aryani

Pendahuluan
Islam kerap dipandang memiliki formulasi hukum yang cenderung menguntungkan kaum pria. Pandangan ini tak hanya bersumber dari Barat yang notabene non-Muslim, namun juga dari kalangan Muslim sendiri. Mereka beranggapan bahwa setting-an hukum Islam mengarah pada budaya patriarki dan memandang ‘sebelah-mata’ terhadap perempuan (misogyny). Berbagai stereotype yang dilekatkan kepadanya, serta aneka citra negatif memunculkan anggapan bahwa Islam memenjarakan kebebasan perempuan, memasung hak-haknya, bahkan menggiring kedudukannya ke bawah derajat kaum pria. Benarkah demikian?

Hukum warisan dalam Islam, hak penjatuhan thalaq bagi laki-laki, larangan bagi wanita mengimami laki-laki dalam sholat, aturan shaf dalam sholat yang mengharuskan wanita di belakang laki-laki, kewajiban patuh pada suami yang menjadi kepala keluarga, dll, Hukum-hukum Islam semacam ini seringkali dipandang patriarkal yang membuat sebagian muslimah merasa menjadi korban subordinasi dan marginalisasi. Kemudian menganggap hukum Islam tak lagi relevan dengan trend kekinian yang membuat pemeluknya menjadi terbelakang, khususnya perempuan muslim.

Semua itu menjadi stimulus munculnya pergerakan ‘Feminisme Islam’ dalam dunia feminisme yang mengacu pada konsistensi perjuangan dalam menghilangkan subordinasi, memusnahkan ideologi patriarki serta meluruskan pandangan misogyny dengan menggunakan paradigma Islam sebagai bahasan utama.

Gender Equality; Persamaan Porsi ataukah Nilai?
‘Feminisme Islam’ muncul pada pertengahan tahun 90-an sebagai terma baru dalam dunia feminisme, yang didefinisikan sebagai studi persamaan gender (gender equality) dan keadilan sosial dengan menggunakan paradigma Islam. Namun di sisi lain, feminisme seringkali menjadi mainstream (arus utama) yang menjebak aktivis perempuan menjadi bias dan bahkan cenderung keliru dalam memahami mengenai terminologi feminisme dan aliran-aliran yang berkembang didalamnya.

Dalam perjuangan dan pemikirannya, muslimah harus bergesekan dengan polemik dan trend kekinian yang sering menjebak, sehingga dalam perjalanannya terjadi polarisasi gerakan yang membentuk aliran berpikir yang dipengaruhi oleh ideologi Barat seperti Liberalisme dan Sosialisme-Marxis yang notabene sekuler. Kekecewaan mereka pada dominasi kaum pria di beberapa bidang dalam masyarakat membuat mereka menggugat syariat sebagai sumber hukum pertama, sehingga memunculkan keinginan untuk memformulasikan hukum yang (menurut mereka) menguntungkan.

Bukanlah dinamakan diskriminasi ketika wanita tidak diperbolehkan menjadi imam bagi laki-laki, atau ketika ia harus berdiri di shaf shalat yang berada di belakang laki-laki. Karena itu semata-mata bertujuan agar prosesi penyerahan diri dihadapan Tuhan berjalan dengan lebih tunduk, khusyu’ dan sakral. Bukan untuk ditafsirkan sebagai penempatan derajat wanita sebagai kelas kedua dalam kehidupan sosial. Demikian pula ketika isteri harus mematuhi suami yang menjadi kepala keluarganya, bukanlah berarti bahwa ia mengabdi dan tunduk pada pria, akan tetapi melaksanakan kewajibannya yang telah ditentukan Penciptanya.

Laki-laki tidaklah menjadi lebih tinggi dihadapan Allah hanya karena menjadi kepala rumah tangga, menjadi imam atau berdiri di shaf yang berada di depan wanita dalam shalat. Karena masing-masing tentunya mendapatkan ganjaran yang sama dalam melaksanakan tugas yang sudah dibagi oleh-Nya. Yang menjadi patokan hanyalah satu, yakni Tingkat Takwa, dan itu tak ada relasinya dengan gender. Siapapun mampu dan dipersilakan berlomba-lomba mencapainya. Tentunya manusia juga tidaklah lebih tau dari Tuhan dalam memandang mana yang lebih sesuai dan adil untuk mereka, karena sejatinya Allah-lah yang lebih mengetahui kapasitas ciptaan-Nya. Oleh karena itu tidaklah pantas bagi manusia untuk menggeser tongkat aturan agama dari porosnya.

Maka, ‘Gender Equality’ tidaklah selalu bermakna persamaan hak dan kewajiban dalam bidang atau porsi yang benar-benar serupa, karena yang menjadi substansi dari persamaan itu adalah ‘Nilai’. Laki-laki yang ingin mendapatkan manisnya berjihad diberikan-Nya jalan dengan cara mempertaruhkan nyawa di medan perang atas nama agama Allah. Begitu pula wanita yang ingin mendapatkan manisnya berjihad diberikan-Nya jalan dengan cara mempertaruhkan nyawa ketika ia tengah melahirkan bayi dari rahimnya. Kadangkala laki-laki dan wanita ditempatkan di bidang atau porsi yang berbeda, namun tetap memiliki ‘nilai’ yang sama. Inilah sesungguhnya makna dari Gender Equality.

Penutup
Kadangkala kaum pria merasa dirinya lebih utama karena memiliki ukuran otak akal yang lebih besar, dan menganggap wanita memiliki kekurangan karena didominasi perasaan dan emosi. Atau, kaum pria merasa lebih superior dengan alasan memiliki fisik yang lebih kuat dari wanita, hingga menganggap bahwa laki-laki memang ditakdirkan untuk lebih diutamakan.

Lebih ironis lagi ketika sebagian kalangan memandang ajaran-ajaran agama menjurus pada ideologi patriarki. Perasaan inferior dan kekecewaanpun muncul dari kaum wanita dan memicu mereka untuk mengambil tindakan. Akhirnya muncul gerakan-gerakan yang menuntut persamaan hak dan kedudukan di berbagai bidang, termasuk merekonstruksi aturan agama yang sudah proporsional. Kemudian terciptalah terma-terma semacam Feminisme, Emansipasi, dan Gender Equality.

Padahal, sebenarnya bukan masalah persamaan yang menjadi inti utama dalam membahas feminisme, tapi proporsionalitas dalam melihatnya. Kelembutan perasaan adalah keistimewaan bagi wanita yang lebih memberikan potensi takwa. Bila ia disatukan dengan ilmu, akan menjadi kekuatan tersendiri. Sebaliknya, bila ia tidak disertai dengan ilmu, maka akan menjadi sumber kelabilan jiwa. Sangat disayangkan bila wanita menganggapnya sebagai kekurangan dan berusaha mengeliminasinya dengan rasio agar sama dan tak kalah dengan pria.

Akal wanita tidak kurang untuk mencerna ilmu. Sedangkan pria juga membutuhkan perasaan untuk bertafakkur. Pria juga membutuhkan kelembutan hati yang akan memberikan emosi stabil dalam menyertai rasionya saat berfikir. Tak ada yang harus merasa lebih dan menganggap yang lain berada di bawahnya.

Meminjam kalimat Bapak Hendri Tandjung, MA., MM., : “Ngeri juga kalau isi dunia hanya Hard Science. Karena Hard Science tanpa Soft Science ibarat manusia tanpa daging, hanya tengkorak...” Begitu juga rasio tanpa dibarengi perasaan ibarat raga tanpa daging, hanya tengkorak yang rapuh. Itulah mengapa Relasi Gender tak harus dipahami sebagai perseteruan dan pertarungan antar kelompok (class struggle). Melainkan dalam perspektif kerja-sama dan hubungan timbal-balik, dalam arti saling menopang dan bahu-membahu membangun keluarga, bangsa dan negara, saling mengisi, saling melengkapi, saling mengerti dan saling menghargai satu sama lain.
Wallahu a’lam bisshowab.

Referensi:
1. Anis Ahmad, Women and Social Justice: An Islamic Paradigm, Institute of Policy Studies, Shirkat Printing Press; Lahore 1991
2. Zahratunnisa, BA, Muslimah di Ruang Pemikiran, An-Nahdlah edisi Juni 2006

NB: Tulisan diatas pernah dimuat di Majalah Dinamika edisi September 2007, majalah yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI (Persatuan Pelajar & Mahasiswa Indonesia) di Pakistan.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


 

Design by Amanda @ Blogger Buster