Menyibak Tabir di Rimbun Jati  

Saturday, August 11, 2007

Oleh: Aini Aryani

Pijar bola api meredup, menyisakan sedikit sinarnya di gumpalan awan barat, hingga senja terlukis dalam jingga yang mengagumkan. Seorang pemuda memandang lukisan alam tersebut penuh takjub, maha karya alam yang tak tertandingi oleh karya lukis manapun, mengingatkannya pada pelukisnya yang Maha Hebat, hingga terluncurlah pujian tulus sebagai ungkapan kekaguman yang sangat, “Subhanallah… Menakjubkan sekali” gumamnya.

Namun sudut matanya menangkap pemandangan yang sangat berbeda. Di lapangan cukup luas, beberapa orang membawa tumpeng serta beberapa makanan khas desa yang dihiasi kembang tujuh rupa. Mereka meletakkan sesajen tersebut di bawah sebuah pohon besar yang akan dipersembahkan untuk makhluk yang mereka percayai sebagai penghuni pohon tersebut. Aroma kemenyan menusuk penciumannya. Ia menatap pemandangan tersebut geram, “Kapankah kemusyrikan berhenti membodohi para penduduk desa ini, sementara mereka mengaku beriman kepadaNya…”
***

“Zim, makan, yuk. Tadi gue liat si Ipul masak cumi goreng sama tumis kangkung tuh di dapur…” ajak Aril. “Mmhh…aromanya menggoda selera, euy..!!!” celetuknya lagi seraya menuju ruang makan. Hazim mengekornya. Selesai menikmati sarapan, Hazim segera menuju surau. Ia diminta pemuda desa untuk mengisi mentor di surau yang berdekatan dengan lapangan. Sementara itu, Aril dan Ipul menuju sawah luas milik Pak Samsul, kepala desa Damar Jati untuk menemani beliau meninjau pekerja disana.

Seperti inilah kegiatan ketiga mahasiswa KKN tersebut di desa Damar Jati, Jawa Tengah yang memiliki panorama alam yang masih alami dan belum banyak tersentuh modernisasi. Tak heran kalau hutan yang berdekatan dengan desa tersebut terlihat begitu rimbun. Tapi, Hazim merasa ada sesuatu yang ganjil disana, hutan jati yang terletak di sebelah barat desa dikenal paling angker dibanding hutan sekitarnya. Usai mengisi mentor, Hazim menyusul kedua temannya. Namun, tiba-tiba ia tertarik untuk melihat sumber mata air di bawah sebuah pohon besar yang terletak di sebelah barat lapangan. Ia melihat mata air itu lebih dekat, kemudian tersenyum penuh arti.

“Eh, men, tadi Pak Samsul minta bantuan kita buat nyariin solusi gimana caranya biar para warga bisa nikmatin air bersih. Soalnya lu tau kan kalo gini hari lagi kemarau.” ujar Aril. Hazim terdiam sejenak lalu tersenyum.
“Kok malah tersenyum tho, Zim. Mbok ya ikut prihatin sama Pak Kades yang mikirin sawah warganya yang kekurangan air.” Ipul sebal melihat tingkah Hazim.
“Aku punya ide biar para penduduk bisa menikmati air bersih. Tadi sepulang dari surau, aku lihat ada mata air jernih di bawah pohon besar dekat lapangan sana. Aku pikir kita bisa membangun sarana air dibawah pohon agar warga bisa menikmati air tersebut.” Hazim tak sabar mengutarakan pendapatnya. Tapi,

“Pohon besar dekat lapangan bola?” tebak Aril. Hazim mengangguk. Aril dan Ipul saling pandang.
“Waduh, Zim. Orang-orang desa ndak akan ngizinin kita. Pohon itu kan pohon keramat. Nanti malah kita yang kena getahnya. Apa kamu ndak takut santetnya Mbah Suro?” ujar Ipul dengan logat jawanya yang medhok.
“Iya, Zim. Apa nggak ada solusi laen? Gue sih setuju aja dengan pendapat tadi. Tapi, tuh tugas cukup berat kayaknya .” Aril menimpali. Hazim mengerutkan dahi, menyisakan garis-garis vertikal diantara kedua alisnya.
“Kalian masih percaya tentang khurafat en tahayul?!” tanya Hazim heran.
“Yaa gue sih nggak percaya-percaya amat. Tapi… kalo boleh jujur, gue keder juga waktu ngeliat tampang Mbah Suro. Tapi, kalo lu emang maunya gitu, gue dukung kok.” jawab Aril mantap.
“Apa? Mbah Suro suka makan bubur kedele?” Penyakit telmi Ipul kumat. Hazim tersenyum geli. Aril menepuk dahinya.
”Oh God…bukan, Puuulll…maksud gue, kalo boleh jujur, gue keder juga…bukan ngomongin bubur kedele. Aduh, kapan sih lu berenti jadi orang TelMi.!!” kata Aril sebal.

Hazim menghela nafas. Ternyata sulit juga nyatuin persepsi dengan kawan yang berbeda karakter, pikirnya. Aril adalah pemuda kota yang jauh dari lingkungan bernuansa tahayyul. Berbeda dengan Ipul yang berasal dari desa semacam Damar Jati yang masih bernuansa kejawen. Mungkin itu sebabnya mengapa Ipul begitu penakut. Tapi Hazim telah membulatkan tekad untuk membangun sarana air di bawah pohon tersebut. Meski resiko yang mungkin akan ditanggungnya tidak gampang. Segera ia menuju rumah Pak Samsul untuk mengutarakan pendapatnya.
***

“Wah, itu tugas cukup berat, Nak Hazim. Pohon itu dianggap keramat oleh orang desa sini karena letaknya berdekatan dengan hutan jati. Apalagi kalo Mbah Suro sampai marah, bisa-bisa…” kalimat Pak Samsul terpotong. Tapi Hazim bisa menebak kalimat selanjutnya,
“Tapi, Pak. Bukankah itu suatu kemusyrikan? Tidak ada yang mampu melindungi manusia dari pengaruh buruk dunia ghaib kecuali Allah. Jika Dia berkehendak, tidak akan ada makhluk ghoib yang mampu mengganggu manusia. Karena manusia lebih mulia dari jin bahkan dari malaikat sekalipun.” ujar Hazim berapi-api.
“Betul, Pak. Saya setuju dengan pendapat Hazim. ” Tiba-tiba Firman, putera Pak Samsul muncul. “Dari dulu saya kurang suka melihat orang desa ini memuja-muja pohon itu, mendewakan Mbah Suro, bahkan tidak berani mendekati hutan jati itu. Sama sekali tidak rasional. “ lanjut Firman.
“Sebenarnya bapak juga sering memikirkan hal itu. Tapi bapak bingung bagaimana caranya menghilangkan ketakutan yang menghantui warga. Walaupun bapak adalah Kades disini, tapi mereka lebih mendengarkan Mbah Suro daripada bapak.” jelasnya lagi.
“Pak, saya jadi curiga kalo makhluk ghaib di hutan jati yang menimbulkan ketakutan warga cuma rekayasa beberapa oknum yang ingin mengeruk keuntungan tertentu.” jelasnya. Hazim mengangguk setuju. Hampir tidak percaya, ternyata pelosok desa seperti Damar Jati memiliki pemuda secerdas Firman.

“Saya setuju dengan pendapat Firman. Kalau Pak Samsul mengizinkan, saya ingin bekerja sama dengan Firman untuk menyingkap rahasia ini.” ujar Hazim.
“Bapak izinkan. Moga berhasil, Nak. Jangan lupa berdoa kepada Gusti Alloh.”

Sore itu juga Firman beserta ketiga mahasiswa itu menuju mata air yang dimaksud. Namun, langkah mereka terhenti oleh pemandangan aneh. Orang-orang tengah berkerumun tak jauh dari pohon besar. Ternyata, di bawah salah satu pohon jati tergeletak mayat seorang wanita setengah baya. Gaun abu-abu yang dikenakannya bersimbah warna merah darah. Tak ada yang berani mendekat karena pohon jati tersebut masih dalam kawasan hutan, kecuali Mbah Suro. Laki-laki tua itu membaca jampi-jampi kemudian membawa mayat itu ke dalam hutan setelah menyuruh penduduk kembali ke rumah masing-masing untuk membuat sesajen persembahan untuk jin penghuni pohon besar yang tengah kelaparan. Katanya, untuk meredam kemarahannya. Firman dan Hazim hanya bisa menertawakan dalam hati. Jin marah karena kelaparan, lalu membunuh seorang wanita? Benar-benar nonsense, batin mereka dalam hati.

Aril merasakan ada yang menggenggam tangannya kuat. Dia melirik ke belakang. O`o ternyata itu tangan Ipul yang tengah ketakutan.
“Eh, Pul. Ngapain pegang-pegang tangan gue…lu takut ya..!!” tanya Aril. Ipul segera melepaskan pegangannya, lalu menghapus keringat dingin yang membanjiri dahinya. Hazim tersenyum geli.
“Iy..Iya, ngeri banget, Ril. Aku ndak berani ikut campur…” jawabnya polos.
“Masa baru mulai langkah udah mau mundur lagi sih, Pul.” tantang Hazim.
“Kita ndak usah neko-neko, Zim. Sing penting kita slamet. Poko`e aku ndak berani ngelawan Mbah Suro.” katanya masih dengan nada cemas. Firman hanya geleng-geleng kepala. Penakut sekali pemuda ini, pikirnya.
***

Semburat merah mega muncul di ufuk, menghela sedikit demi sedikit warna hitam sekitarnya. Firman terbangun lalu berwudhu`, kemudian mulai melangkah menuju surau untuk mengumandangkan nama Sang Pencipta.
“Werrr…” angin menghembus, ia mendekapkan kedua tangannya berusaha mengurangi dingin shubuh yang menusuk. Tiba di surau, ia segera mengumandangkan adzan lalu menghadapNya khusyu`.

Namun saat ia melangkah untuk pulang, ia mendengar suara berisik yang berasal dari hutan jati yang berdekatan dengan pohon besar . Penasaran, Firman mendekat…
“Suro, jati di belakang rumahmu masih utuh, kan?” Suara seorang wanita yang berbicara dengan Mbah Suro membuat kening Firman berkerut.
“Nyonya ndak usah kawatir, dijamin ndak akan ada yang berani ngambil barang yang saya simpan” Suara berat yang tak asing lagi baginya, Suara Mbah Suro.
“Bagus. Sekarang kamu siap-siap. Bos mau bicara langsung dengan kamu.”
“Saya dipanggil ke Jakarta, Nya?!” tanya Mbah Suro. Wanita itu mengangguk.
“Iya, mungkin bos butuh sedikit bantuan kamu di pabrik meubelnya. Yaa sekitar tiga hari-lah.” jawabnya.
Tak lama setelah itu, truk besar segera menuju belakang rumah Mbah Suro dan mengangkut beberapa kayu jati berjumlah besar. Terdesak dengan rasa penasarannya, Firman mengintip dari balik pohon besar itu. Matanya menangkap wajah wanita setengah baya yang tengah menghembuskan asap rokoknya kemudian menyerahkan segepok rupiah ke tangan keriput Mbah Suro.
Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana? Tanya Firman dalam hati. Ia berpikir keras. Akhirnya ia ingat bahwa wanita tersebut adalah wanita bergaun abu-abu yang tergeletak di bawah pohon jati kemarin sore.

Pagi masih gelap ketika truk yang mengangkut jati-jati itu berlalu disusul Jeep hitam yang membawa Mbah Suro dan wanita tersebut, kemudian lenyap ditelan rimbunnya hutan. Firman segera menuju rumah Hazim dan kedua temannya.
***
“Apa? Wanita itu masih hidup? Berarti…” Hazim mulai menangkap keganjilan.
“Hiiyy..Itu pasti mayat hidup.” sahut Ipul ngeri.
“Huss… jangan sembarangan ngomong. Lu tuh mikirnya yang serem-serem mulu.” timpal Aril. Ipul memonyongkan bibirnya.
“Maksudku, kejadian kemaren itu bisa jadi cuma rekayasa Mbah Suro karena dia menyimpan kayu-kayu yang ditebang ilegal di belakang rumahnya. Makanya, dia meminta wanita itu untuk pura-pura mati agar para penduduk desa makin takut mendekati hutan jati itu. ” jelas Firman.
“Jadi, maksudmu Mbah Suro menyebar cerita menyeramkan agar para penduduk takut dan tidak berani berbuat macam-macam yang bisa membuat kejahatannya tercium?” tanya Hazim. Firman mengangguk mantap.
“Ooh…aku paham, pasti maksud kalian Mbah Suro itu juga penakut. Jadi, aku ndak apa-apa tho kalo takut juga. Lha wong Mbah Suro aja takut kok..” tebak Ipul sok tau. Aril menepuk jidat.
“Aduh, Pul…Pul…jangan keseringan sotoy alias sok tau gitu dong.?..”Aril sebal.
Tiba-tiba satu pertanyaan terlintas di benaknya. “Terus, wanita setengah baya itu siapa dong?!” tanyanya.
“Dari percakapan mereka, sepertinya wanita itu tangan kanan pengusaha Meubel di Jakarta yang membeli kayu jati ilegal dari Mbah Suro. Gimana kalau nanti malam kita datangi sekitar rumah Mbah Suro, siapa tau kita dapat informasi baru. Mumpung dia lagi ke Jakarta. Tapi untuk sementara ini jangan sampai ada yang tau rencana kita.” saran Firman. Hazim dan Aril mengangguk setuju. Mereka bertiga beralih menatap Ipul yang jadi salah tingkah.
“Eenng…tugasku masak aja ya? Sekalian jagain rumah…he..he…Bukannya takut lho, tapi…tapi cuma pengen nunggu rumah aja. Ndak apa-apa, tho? Mmhh…aku ke dapur dulu ya?” dalihnya seraya menuju dapur setengah berlari.
“Dasar penakut.” ejek Aril. “Oiya, gue kebetulan punya handy cam, kira-kira perlu dibawa nggak?” tambahnya. “Good idea.” jawab Firman.

Malamnya, rencana dilaksanakan. Seperti yang diduga, di belakang rumah Mbah Suro ditemukan batang-batang kayu jati, beberapa batang kemenyan, dan tulang-tulang seperti tulang ayam. Firman menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Pantas..!!” gumamnya pelan. “Pantas apanya, Fir?!” tanya Hazim.
“Waktu mengintip aksi mereka, aku sama sekali tidak melihat hidangan makanan di bawah pohon besar itu. Padahal, malamnya banyak para penduduk yang meletakkan sesajen seperti yang diperintahkan Mbah Suro kemaren sore.” jawabnya.
“Maksud kamu, yang menikmati hidangan-hidangan itu Mbah Suro?!” tanyanya lagi hampir tak percaya.
“Bisa jadi.” jawab Firman. Tiba-tiba…
“Men, liat nih apa yang di dalem rumahnya.” Teriak Aril. Mereka mengintip sebagian isi rumah dari jendela yang mungkin lupa dikunci oleh penghuninya. Mereka melihat sisa tumpeng dan beberapa makanan lainnya.
“Kayaknya mereka habis party tuh, tadi shubuh. Mungkin Mbah Suro tergesa-gesa perginya, makanya nggak sempet beresin sisa-sisanya.” Aril berpendapat.

Mereka pulang usai merekam beberapa hal penting. “Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ini bukan hanya membodohi masyarakat dan merugikan negara, tapi juga menodai agama dan membuat orang-orang desa terbawa arus kemusyrikan. Kita harus hentikan secepatnya. Insya Allah besok pagi aku akan berangkat ke kecamatan untuk melaporkan ke pihak yang berwenang sebelum Mbah Suro kembali dari Jakarta.” kata Firman.
“Perlu bantuan? Maksudku, kamu perlu teman kesana?” tawar Aril.
“Mmh…gimana kalo aku sendirian aja yang kesana, karena kalau salah satu dari kalian ikut, itu bisa mengundang kecurigaan. Oiya, Ril hasil rekaman kita tadi mungkin akan sangat berguna untuk bukti.” sarannya.
“Siiip, bawa aja. Nih…” Aril menyerahkan hasil rekamannya. Firman segera pulang dan mengabarkan semuanya pada ayahnya. Paginya, ia segera berangkat menuju kecamatan untuk melaporkan pada pihak berwenang.
**&&&**

“Angkat tangan…!!!” Seorang polisi dengan pistol di tangan menangkap basah laki-laki tua yang tengah menebang jati. Laki-laki itu berbalik lalu terkejut melihat beberapa polisi di sekelilingnya, terlebih ketika matanya bersirobok dengan sepasang mata milik Firman dan ketiga kawannya. Mbah Suro membuang parangnya lalu perlahan mengangkat tangannya tanpa mengalihkan tatapan geramnya pada keempat pemuda di depannya. Tak lama kemudian kedua tangan Mbah Suro terkunci dalam besi borgol.
Mereka tersenyum lega, akhirnya kemungkaran dapat terungkap. Rencana membangun sarana air di bawah pohon tersebut dapat terlaksana. Kekurangan air dapat diminimalisir dan ketakutan para penduduk akhirnya berhasil dilenyapkan.

Hazim kagum dengan kecerdasan dan keberanian Firman. Kehidupan yang jauh dari kebisingan kota tak membuatnya tertinggal dari para pemuda kota sebayanya. Justru itu membuatnya tampak bersahaja. Akhirnya Hazim tahu, ternyata Firman adalah alumnus Al-Azhar University di Mesir yang baru setengah tahun lalu menyelesaikan studinya. Ia menimba ilmu di negeri Ali Jinah tersebut dengan beasiswa karena index prestasinya selalu di atas 3,5. Benar-benar pribadi yang pantas dijadikan teladan.
***

Senja dalam jingganya yang mengagumkan terlukis lagi di langit sebelah barat. Menandakan pijar bola api mulai meredup, memberi kesempatan bagi galaksi lain untuk muncul. Untuk kesekian kalinya, pemuda itu menikmati alam terlukis di kanvas langit sana penuh takjub dan syukur. Seperti rasa syukurnya atas kebahagiaannya hari itu, karena Sang Pencipta lukisan alam tersebut telah mengembalikan kedamaian desanya dari nuansa khurafat yang berbau kemusyrikan. (Nie)

*Tulisan diatas pernah dimuat di Buletin NUN, yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, edisi Maret 2007

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Mendamba Langit  

Friday, August 10, 2007

Kau tatap lagi bayangnya yang semakin menjauh
Dari balik jaring-jaring yang disulam laba-laba
Ternyata biru megah itu berbias maya
Ia tak seindah yang kau bayangkan

Dahulu kau kira sanggup tundukkannya
Dari ujung samudera yang bertemu dengan awan
Namun ternyata ia semu belaka
Karena kau tahu samudera tiada berbatas

Tinggi…Memang ia begitu tinggi
Iapun mengaku atap bumi yang kau pijak
Namun angkuhnya mulai pamerkan taringnya
Kau tak sudi binasa dalam terkamannya

Namun mengapa kau dan mereka berebut
Demi fatamorgana yang kau anggap nyata itu
Meski mungkin nyawa taruhannya
Bahkan mungkin imanpun harus kau gadaikan

Padahal tatkala siang meninggalkan jagad
Biru megahnya yang kau pujapun lenyap
Karena malam yang selalu menebar kelam
Menyembunyikan kemegahan yang dibanggakannya

Ya…langit yang selalu kau tuju itu
Kini telah gelap, lenyap dibalik tirai kelam
Tingginya yang kau kira terlawan
Ternyata takkan pernah dapat kau raih

Meraihnya ibarat insan dahaga mencari samudera
Tatkala sampai di tujuan, ia mulai meneguk sepuasnya
Namun tiada pula dahaga itu mati
Karena semakin ia teguk, Semakin pula ia dahaga

Kawan…
Mengapa semua itu kau sadari
Ketika maut mulai mengintaimu
Ketika kau tengah meregang nyawa…

(By: Aini Aryani)

NB:
Tulisan ini pernah dimuat di Buletin NUN,yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, edisi Februari 2005

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Kerinduan Sang Telaga Bening  

Oleh: Aini Aryani

“Mbak Elvi nggak pulang lagi idul fitri ini? “.
“Iya, Mit. Soalnya materi-materi yang belum disampaikan masih banyak. Apalagi bentar lagi UAS.” paparnya. Kuhembuskan nafas sebal, lalu mencoba hubungi Mas Arya.
“Assalamualaikum… lebaran tahun ini Mas pulang ke Indonesia ya. Kan udah hampir tujuh tahun nggak pulang.”
“Nggak janji, Dek. Tiap akhir Ramadhan aku harus ke Mekah meliput sholat Idul Fitri. Tapi, insya Allah aku usahain deh.” jawabnya. Lagi-lagi aku menghela nafas.
Beginilah kalau punya kakak-kakak super sibuk. Mbak Elvi seorang dosen di Universitas Samratulangi, Manado. Lima tahun lamanya belum pernah pulang. Sedang Mas Arya alumni Institute of Public Education di Victoria yang kemudian melanjutkan pendidikannya ke Maryland menekuni bidang pers dan jurnalistik. Mas Arya patut menjadi kebanggaan keluarga karena berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat cumlaude. Sekarang ia benar-benar meraih impiannya menjadi seorang journalist di sebuah media ternama di Perth, Western Australia. Menurutku ia adalah seorang “Workaholic”. Dulu, aku pernah membaca satu kalimat tertulis di tembok kamarnya, “Not to occupy and not to exist are one and the same thing for a man.”
***

Kuperhatikan Bunda yang tengah menikmati sore bersama tiga kucing piaraannya. Kadang beliau mengelus, memangku, bahkan mendongeng, seakan-akan mereka memahami bahasa manusia. Aku mendekat lalu berdehem. Namun sepertinya Bunda terlalu menikmati suasana bersama kucing-kucing mungil itu, hingga kehadiranku sama sekali tak disadari. Akupun beranjak menuju ruang tamu.
Kuamati ruangan ini. Oh…ternyata debu jendela depan sangat tebal. Maklum Bik Minah, pembantu kami sedang pulang kampung. Mataku iseng mengamati kalender.

“Oh iya, Bunda kan ulang tahun tanggal 2 April. Berarti seminggu lagi Bunda ultah dong.” Tiba-tiba satu ide muncul dibenakku. “Ctekk..!!” Kujentikkan jari. Lalu menuju telfon di sudut ruang tamu.
“Assalamualaikum, Mbak inget kan kalo 2 April ini ultah Bunda? Nggak apa-apa deh Idul Fitri nggak pulang. Tapi waktu ultah Bunda, Mbak dateng ya? Bunda pasti seneng banget kalo Mbak Elvi dan Mas Arya bisa dateng.” rajukku.
“Mm…Mit, kebetulan minggu depan Mas Ishak ada tugas ke Semarang, jadi kemungkinan Mbak bisa sekalian ke Surabaya.” Aku hampir terlonjak saking girangnya, kemudian mencoba menghubungi Mas Arya, tapi gagal.
“Kok gak nyambung sih…” gumamku. Lalu ponselku berbunyi. Private number.
“Assalamualaikum, Mit. Aku udah dua hari ini di Pakistan untuk meliput berita convocation di IIUI.” paparnya. Pantesan waktu ditelfon tulalit terus.
“Mit, ngomong-ngomong Bunda baik-baik aja kan?” tanyanya.
“Baik aja…Mm..oh ya, Mas inget kan kalo 2 April ini ultah Bunda? Mitha pengen bikin kejutan nih. Mas usahain pulang ya, biar Bunda seneng. Nggak apa-apa deh Idul Fitri ini nggak bisa dateng. Tapi waktu Bunda ultah, dateng ya? Pliiizz..!!” rajukku.
"Mmm…bentar, aku lihat schedule dulu,” Kutunggu Mas Arya beberapa menit.
“Rencananya dua minggu lagi aku mau ke Indonesia untuk meliput sengketa Indonesia-Malaysia. Jadi, kemungkinan bisa dateng.” jawabnya. Mataku berbinar.
Segera kurancang rencana selanjutnya. Semoga kami dapat menikmati senyum Bunda lagi. Yah, setelah ayah meninggalkan kami untuk selamanya, Bunda terlihat jarang tersenyum. Amat jarang malah. Bahkan selalu terlihat murung. Hampir seluruh waktu dihabiskannya bersama tiga kucing mungil itu, seakan Bunda selalu ingin di dekat mereka. Bik Minah pernah menelfonku tengah malam hanya karena khawatir dengan keadaan Bunda yang sakit-sakitan karena mogok makan sebab salah satu kucingnya sakit. Tanpa kami sadari, kucing-kucing itu akan membawa satu masalah dalam keluarga kami.
***

Kutata seluruh ruangan serapi mungkin. Korden dan taplak mejapun kuganti dengan warna hijau muda, warna kesukaan Bunda. Setelah merapikan jilbab, kudengar suara ketukan pintu. Kupikir kedua kakakku. Tapi dugaanku meleset. Yang datang hanyalah kiriman hadiah. Tepat setelah kutanda tangani tanda terimanya, telfon berdering,
“Assalamualaikum. Dek, aku ada urusan mendadak. Jadi, nggak bisa dateng. Tapi tadi aku telfon rekanku disitu untuk mengirim hadiah buat Bunda. Maaf ya, Dek.”
Suara Mas Arya membuat lututku lemas seketika. Kututup gagang telfon dengan gelisah. Lagi-lagi telfon itu berdering. Kuangkat gagang telfon itu tanpa gairah.
“Assalamualaikum. Dek, tadi pagi Mbak mau berangkat kesana, tapi tiba-tiba dapet info kalo besok ada rapat penting di kampus. Jadi, Mbak langsung ke Jakarta untuk terbang ke Sulawesi lagi. Maaf ya, Dek.” Aku hampir menangis mendengar penjelasan Mbak Elvi. Ya Allah, mengapa semuanya terjadi di luar rencana?
Dari kamar Bunda, samar-samar kudengar suara merdu melantunkan kalamNya.
Bunda, maafkan Mitha yang belum berhasil mengembalikan senyum itu.

Kuhempaskan tubuhku di sofa, lemas kusandarkan punggung yang terasa pegal. Mataku bersirobok dengan foto mendiang ayah. Masih segar di ingatanku ketika kami menikmati indahnya senja di suatu sore sambil menikmati teh hangat buatan Bunda,
“Mit, Bunda kalian bagai telaga bening yang menyejukkan, yang selalu mengundang kita untuk duduk di tepinya, merenung dalam bayang air jernihnya, atau membasuh wajah menghilangkan resah, bahkan berenang di dalamnya karena lelah, meski telaga itu berkecipak karenanya, atau keruh…atau kotor…”
***

Bik Minah kembali dari kampung. Akupun bersiap-siap kembali ke Jakarta. Kuketuk pintu kamar Bunda. Tak ada jawaban. Pelan kubuka pintu, ternyata beliau sedang beristirahat. Tak jauh dari tempat tidurnya, kulihat tiga kucing mungil yang juga pulas di atas ranjang empuk. Jadi aku hanya menitip pesan lewat Bik Minah.
Namun, sampai di Jakarta, Bik Minah kembali menelfonku,
“Non Mitha, celaka, Non..celaka…!!” Suaranya terdengar panik.
“Ada apa, Bik?” tanyaku penasaran.
“Anu, Non. Tadi pagi kucing-kucing itu di tabrak mobil waktu bermain di jalan raya…Waduh…ya`opo iki…”suara Bik Minah terdengar panik.
“Terus Bunda gimana, Bik?” tanyaku khawatir.
“Lha itu dia, Non. Setelah melihat tiga kucingnya mati, Ndoro putri nangis ndak berhenti-berhenti, lalu pingsan. Terus, Ndoro selalu ngigo ndak karuan. Waktu sudah sadar, tatapannya kosong terus. Perkataan Bik Minah ndak pernah diperdulikan. Bahkan selalu mengulang-ulang kalimat yang sama. Katanya…” Kata-kata Bik Minah terpotong.
“Kalimat apa, Bik?” Tanyanyaku yang makin penasaran.
”Kata Ndoro putri ‘Elvi, Arya, Mitha jangan menyusul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda sendirian disini…’ begitu kalimatnya. Waduh…Bik Minah bingung mau ngapain. Non Mitha pulang ya, Non.” katanya masih dengan suara bergetar.
Segera aku berangkat ke Bandara untuk terbang menuju Juanda setelah meminta Bik Minah membawa Bunda ke rumah sakit. Jangan-jangan Bunda benar-benar menganggap tiga kucing itu sebagai Mbak Elvi, Mas Arya, dan aku?!
Bunda, mengapa senyum itu semakin menjauh? Mengapa ia terlalu sulit tuk dihadirkan kembali?
***

Bunda tengah terlelap ketika aku tiba. Dari wajah teduh yang kian menua itu, aku bisa melihat gurat kecewa, kesedihan, juga kerinduan mendalam disana. Kubuka diary, lalu perlahan kugoreskan penaku di lembaran-lembaran biru itu;
Bunda…
Senyum itu pergi lagi, semakin jauh, entah dimana ia bersembunyi
Andainya samudera atau rimbun hutan yang sembunyikan ia
Ingin Nanda selami samudera itu
Atau mengoyak ranting-ranting rimbun hutan itu
Meski tangan ini ikut terkoyak karenanya
Bunda…
Masih segar membekas di ingatan ini
Ketika kau ajari kami ‘alif, ba’, ta’ dengan kefashihan lisanmu
Agar kami dapat menyelami lautan hidayahNya
Atau ketika tangisan kami pecah, dirimu terbangun resah
Merelakan matamu tak terpejam demi menghalau gelisah kami
Pun ketika Nanda jatuh dari peraduan dan merengek
Kau raih Nanda ke pelukan kasihmu, seraya meneteskan airmata
Seakan kaulah yang tengah merasakan sakitnya raga
Namun...
Ketika kami beranjak dewasa, dan kau tengah di usia senja
Kaki-kaki mungil kami dulu, kini tak dapat kau elus lagi
Tangan-tangan mungil kami juga tak dapat lagi kau sentuh
Kami sibuk mengejar asa sendiri, larut dalam ego
Tak sadar bahwa ada telaga bening yang tengah merindu
Yang ingin meredam resah, menghilangkan gelegak duka
Telaga bening itu adalah engkau, Bunda
Kini…
Izinkan Nanda mencari kekuatan mahadaya
Agar mampu mempersembahkan senyum untukmu, Bunda…


Kututup diaryku perlahan. Kutahan mataku yang berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba,
“Elvi, Arya, Mitha jangan menyusul ayah kesana, jangan tinggalkan Bunda….” igau Bunda. Mengulang kalimat itu berkali-kali. Aku panik. Segera kupanggil suster.
Setelah keadaan Bunda mulai membaik, kudekati beliau yang tengah menatap jendela. Tatapannya kosong.
“Bunda, ini Mitha…” bisikku. Tak ada respon. “Bunda, ini Mitha, puteri Bunda.” Ulangku. Ia menangis sesenggukan, tapi tangis itu makin kencang, bahkan meraung…
“Tidak…Mitha juga ditabrak mobil itu bersama Elvi dan Arya… huu… huu.. anak-anak Bunda menyusul ayahnya…huu…” Raungan bunda membuatku kaget. Akhirnya tangisku pun pecah.
“Tidak, Bunda… yang mati itu hanya kucing…bukan anak-anak Bunda…hanya kucing, Bunda.” Aku harus berhasil meyakinkan Bunda. Namun Bunda tetap meraung. Hatiku semakin galau, seiring airmataku yang semakin deras.
“Bunda, ini Mitha, putri Bunda. Kucing-kucing itu cuma hewan. Bunda masih ingat kan waktu dulu Mitha mecahin kaca tetangga, Bunda marah dan ngurung Mitha dalam kamar. Terus, waktu Mitha sakit typus, Bunda seharian nemenin Mitha di kamar, gendongin Mitha setiap ke kamar mandi, nyuapin Mitha setiap makan…masih ingat kan, Bunda…ini Mitha, anak Bunda.” celotehku sambil terus menangis. Tangis Bunda mereda lalu terdiam. Kubiarkan Bunda menenangkan diri. Lama, hingga akhirnya beliau terlelap.

Kutatap mata Bunda lekat. Aku harus berhasil meyakinkan Bunda bahwa aku, Mbak Elvi dan Mas Arya-lah darah dagingnya, bukan kucing-kucing itu. Aku tidak akan membiarkan tiga hewan itu menggantikan tempat kami di singgasana hati Bunda.
Pun aku harus meyakinkan kedua kakakku bahwa Bunda butuh mereka disini saat ini. Juga bahwa hadiah-hadiah yang selalu mereka yakini dapat membahagiakannya, takkan pernah mampu menggantikan kehadiran mereka disisi Bunda. Bagi Bunda mereka terlampau berharga tuk digantikan dengan kebendaan, karena putra putrinya adalah anugerah terindah yang tak terbeli, yang merupakan karunia tebesar dariNya.

Bunda masih terlelap ketika Mbak Elvi dan Mas Arya datang. Mataku berbinar saat melihat Bunda membuka mata bersama kami sampingnya. Seketika itu, kami serentak memeluk wanita terkasih itu…Kini kami disini untuk Bunda…(Nie)
(Persembahan tuk Bunda-ku. Miss U so Much, Mom)

*Tulisan ini menjadi juara II lomba FCPI Awards 2005 dan dimuat oleh Buletin NUN, yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, tahun 2005

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Bagai Mentari Musim semi  

Wednesday, July 25, 2007

Oleh: Aini Aryani

“Yes…!!!” ia bersorak dalam hati, senyumnya mengembang seiring suara tepukan di Jinah Convention Center yang terdengar semakin membahana.
Ia merupakan satu-satunya mahasiswi asing dari Asia Tenggara yang dinobatkan sebagai salah satu penerima Gold Medal dari sekian banyak mahasiswa dan mahasiswi asing di kampusnya, International Islamic University Islamabad. Ia patut berbangga.
Senyumnya semakin mengembang ketika Dr. Mahmood Ghazi, sang President of The University mengalungkan medali emas tersebut ke lehernya. Senyum itu tetap tersungging hingga saat langkahnya meninggalkan gedung tersebut.

Namun, senyum itu tiba-tiba hilang ketika sepasang matanya menatap wajah seorang wanita yang tak diharapnya untuk datang. Bibir yang sedari tadi membentuk sabit mungil, kini tak tampak lagi. Yang terlihat hanyalah sebuah paras ayu namun menyimpan rasa kesal, bahkan mungkin malu.

Malu. Ya…karena wanita itulah kini ia dihinggapi rasa malu. Bagaimana tidak, sejak kedatangan wanita yang telah melahirkan dirinya itu ke negeri ini, ia merasa bahwa rekan-rekannya memandangnya sebelah mata, bahkan mungkin menatapnya sinis. Entah, apakah yang dirasakannya benar atau salah. Yang pasti, perasaan itulah yang kini sedang ia rasakan. Seakan-akan ia dikelilingi oleh labirin-labirin yang setia meneriaki telinganya dengan teriakan, “Rika, kau anak wanita buta…..!!!”
“Huh…” dengusnya kesal. Mengapa pula Mama bersikeras untuk hadir di convocation day ini, rutuknya dalam hati.

“Erika…!!” suara yang tak asing lagi. Suara Mbak Ratna, kakak satu-satunya. Mbak Ratna-lah yang mengantar Mamanya menuju Negeri Ali Jinah ini, negeri dimana ia mendalami ilmu di program S2 bidang Management Sciences.

Gadis itu menoleh. Terpaksa.
“Rika, Mama dan Mbak nunggu dari tadi lho. Padahal tadi udah Mbak bilang kalo acaranya masih lama. Tapi mama bersikeras nunggu. Nggak sabar pengen pegang toga kamu.” kata kakaknya antusias. Disampingnya, Mama hanya tersenyum.
“Ma, ini Rika. Mama pegang deh toganya.” ujar Mbak Ratna pelan seraya membantu Mama meraba toga kebesaran yang tengah dikenakannnya.
“Mama bangga, Nak.”ucap wanita itu tulus.
Ibu mana yang tak bangga jika putrinya meraih apa yang menjadi impiannya. Terlebih, semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga menamatkan program S2-nya, Erika hampir tak pernah mendapat nilai mengecewakan.

Erika menatap sekeliling, berharap teman-temannya tak ada disekitar tempat itu, apalagi melihatnya bersama Mama. Tapi, Ups…Syamsa, classmate yang sering menjadi rivalnya di kelas. Ia melihat Syamsa berjalan menuju ke arahnya. Tidak..! Syamsa tak boleh tau hal ini. Bisa-bisa dia menertawakan keadaan ini, batinnya. Erika menatap Mamanya. Lalu…
“Tap…” ia meraih tangan Mama yang tengah memegang toganya, kemudian mengibaskannya kasar, lalu dengan setengah berlari ia melangkah menjauh. Sekilas dilihatnya ekspresi kaget dari wajah Mama.
“Erika, apa-apaan kamu…?!” Samar ia mendengar teriakan Mbak Ratna. Ia tak peduli.
***

Hari itu sebenarnya Erika harus mengurus kepulangannya untuk kembali ke tanah air. Namun tiba-tiba ia mendapat berita dari ponselnya bahwa ia diminta untuk menghadap Dr. Mahmood Ghazi.
Taksi yang tadinya menuju kantor Kedutaan Indonesia, kini berbelok arah menuju Faishal Mosque, tempat dimana maktab sang Presiden bertempat.
Ia melangkahkan kaki seraya menebak-nebak, ada apa gerangan? Langkahnya terhenti ketika ia tiba di sebuah ruangan yang dituju. Segera ia masuk setelah mengucap salam.
Matanya berbinar setelah mengetahui bahwa dirinya diminta untuk menjadi salah satu staf pengajar tetap di IIUI. Segera ia kembali ke rumah yang disewanya. Ia harus mengambil berkas-berkas penting untuk segera difotokopi.

“Krek…” ia membuka pintu rumah lalu dengan tergesa menuju kamar dan mengambil berkas-berkas penting. Namun ketika melangkah keluar…,
“Braaakk…!” seseorang menabraknya. Kertas-kertas ditangannya berserakan. Ia memandang seorang wanita didepannya. Mama.
“Mama gimana sih, ini berkas-berkas penting yang harus saya fotokopi secepatnya, Ma. Aduh…berantakan deh. Mana ntar lagi kantor mau tutup lagi. Huhh…” dengusnya sebal.
“Mama minta maaf ya sayang. Soalnya tadi Mama pikir kamu baru pulang dan capek. Makanya Mama mau nawarin wedang jahe. Itu wedangnya, sudah Mama taruh di atas meja. Tadi Ratna bantu Mama di dapur.”
“Gak usah, Ma. Saya buru-buru.” Jawabnya ketus seraya beranjak pergi tanpa menoleh ke arah Mama.
***
“Kring…”
“Ya…hallo…oh Syamsa. How are you?” Tanya Rika basa-basi. Syamsa adalah mantan classmate-nya yang berdarah Pakistan asli.
“Fine! Thanks…Rika, saya dengar ibu kamu datang di convocation kemarin. Benar tidak?” tanyanya dengan logat British yang fasih. Erika kikuk.
“Ii..iya…memangnya kenapa, Syamsa?”
“Oh, you must be happy…karena tidak semua foreigners bisa ditemani orang tuanya ketika diwisuda. Iya kan?” tanyanya lagi. Erika hanya mengiyakan.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak memperkenalkan saya dengan ibumu, Rika? Sebenarnya saya melihat kamu usai acara wisuda kemarin, tapi karena kamu pergi, saya tidak jadi menghampiri. Kalau tidak salah, mereka berdua kakak dan ibumu, bukan?” tebak Syamsa.
“Ee…bu..bukan kok. Mereka itu, yang satu, kakak saya, usianya sekitar 30-an. Tapi yang satu, lagi cuma orang Indonesia yang sudah saya anggap keluarga sendiri.” Jawabnya dengan nada meyakinkan.
Ia menghela nafas setelah Syamsa menyudahi pembicaraan mengenai Mama. Namun…
“Keterlaluan kamu, Erika…” tiba-tiba Mbak Ratna muncul dari balik pintu kamarnya.
“Eh…mm…Mbak..” jawabnya terbata. Mbak Ratna menghampirinya, lalu menatapnya dalam. Rika berharap ia tak mendengar percakapannya dengan Syamsa tadi.
“Kamu risih dengan keadaan Mama?” Tanya Mbak Ratna. Erika diam. Baginya, kalimat tersebut bukan sekedar pertanyaan biasa yang menunggu satu jawaban singkat, namun merupakan investigasi dalam bentuk pertanyaan yang menuntut penjelasan panjang lebar juga rasional.
“Bukan, Mbak… saya cuma….cuma…” Ia bingung untuk melanjutkan kata-katanya sendiri.
“Cuma malu maksud kamu? Iya kan?” tuduhan itu menamparnya telak. Ia tak bisa mengelak. Hanya satu pilihan yang ia pikir harus dilakukan saat ini. Membela diri.
“Mbak, coba bayangkan kalau saja Mbak Ratna ada di posisi saya. Sejak Mama berkunjung kesini, temen-temen cenderung memandang saya sebelah mata. Seakan-akan saya itu nothing di hadapan mereka. Bukankah itu semua disebabkan karena kondisi fisik Mama?.”Ucapnya.

Ada perasaan bersalah yang perlahan menyusup ke dalam hati kecilnya hingga membuatnya menyesal telah berkata demikian. Ia tahu bahwa apa yang baru saja diucapkannya dapat melukai perasaan Mbak Ratna, terlebih jika Mama mendengarnya.
Tapi…apa yang ia ungkapkan benar-benar seperti yang dirasakannya saat ini. Dan menurutnya, Mama tetap bersalah karena baginya kebutaan Mama telah membuat reputasinya down dihadapan rekan-rekannya. Jadi, tak salah jika dirinya mengatakan hal seperti itu. “Rasional bukan?” Sahut bisikan hatinya yang lain. Tapi…,

“Benar-benar keterlaluan kamu, Rika!! Mbak menyesal kenapa dulu Mama bersikeras untuk mendonorkan kornea mata beliau untuk puteri bungsunya yang terlahir dalam kebutaan.” Suara Mbak Ratna terdengar bergetar menahan marah.
“Apaa….?!” Kalimat yang baru saja didengarnya membuatnya tak percaya. Bukankah dirinya adalah puteri bungsu Mama?!. Berarti….
“Jika sekarang kamu bisa seperti ini, semuanya tak lepas dari pengorbanan Mama. Pengorbanan yang tak semua orang sanggup lakukan. Pengorbanan tulus dari seorang Mama yang tak rela jika puteri yang dicintainya cacat seumur hidup.” Paparnya.
Erika terhenyak. Matanya terasa panas, seakan bulir bening didalamnya memaksa keluar.
“Tapi, mengapa Mama melakukannya, Mbak…?” tanyanya. Suara paraunya hampir tak terdengar. Mbak Ratna terdiam sejenak, menetralkan emosinya yang sedari tadi menggelegak.
“Saat kamu dilahirkan, Mama bilang bahwa beliau tak hanya melahirkan seorang putri, tapi juga melahirkan sebuah cinta. Cinta yang bagi Mama menuntut pengorbanan, meski itu begitu berat. Hingga walau pengorbanan itu mengharuskan beliau menderita kebutaan seumur hidupnya, seperti yang kamu lihat saat ini…” Mbak Ratna terdiam sejenak, lalu melanjut kan…
“Tapi ternyata hingga detik inipun kamu tidak mampu melihat cinta itu di mata Mama. Jadi, siapa sebenarnya yang buta itu, Rika?!” Mbak Ratna mengakhiri kalimatnya seraya menuju kamar Mama.
Sementara itu, Erika masih terpaku. Lama, lalu tersungkur. Ia memejamkan kedua matanya. Terbayang ketika ia membentak Mama. Wanita tegar itu hanya diam, tapi ia tahu sepasang mata itu berbicara banyak. Sayang, Erika tak mampu menerjemahkannya.
Perasaan bersalah serta penyesalan seakan menamparnya bertubi-tubi dan tanpa ampun. Bulir bening yang sedari tadi memaksa keluar dari bola matanya, kini bagai ombak maha dahsyat yang meluluh lantakkan karang kokoh bernama keangkuhan di hatinya.
***

Sebulan kemudian…
Usai menamatkan tilawah, ia menuju beranda rumah. Langkahnya pelan, seiring langkah mentari yang mencari pagi. Hawa dingin winter masih menusuk. Sebulan sudah Mama dan Mbak Ratna meninggalkannya menuju tanah air. Ada kerinduan menyusup ke dalam relung hatinya. Tiba-tiba ia teringat kalimat Mbak Ratna sebulan yang lalu, “Siapa sebenarnya yang buta itu, Rika?”

Ia tahu, pertanyaan itu tak butuh jawaban secara lisan. Lebih dari itu, ia menuntut jawaban dari hati. Pun pertanyaan itu mengandung sarkasme cukup tajam, hingga mampu menebas keangkuhan yang pernah berdiri kokoh di satu ruang dalam hatinya.
Terbayang wajah teduh Mama. Bagi Erika, Mama adalah wanita paling tegar yang pernah ia temui. Sungguh, Mama tak pernah buta. Melainkan, dialah yang patutnya dinilai buta, karena dirinya tak mampu melihat cinta Mama yang begitu tulus hingga sanggup melahirkan pengorbanan yang begitu besar untuknya. Lebih dari itu, cinta Mama mampu mencairkan kebekuan dalam hatinya, meski kebekuan itu bak gumpalan salju di puncak Bukit Muree.

Ia merasakan cinta Mama memanggilnya, menggerakkan syaraf motoriknya untuk segera menemui wanita terkasih itu dan memohon maaf darinya. Ia benar-benar rindu. Baginya, kasih Mama sehangat mentari musim semi. Ya, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman meski harus meninggalkan profesinya. Baginya, itu hanyalah secuil dibanding besarnya pengorbanan Mama.
Tak sadar iapun bergumam “Ma, betapa aku rindu….”(Nie)

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Diary Nanda*  

Wednesday, June 20, 2007

Oleh: Aini Aryani*

24 0ktober 2004
“Dy, tempat apa ini? Ups…bukankah ini rumah sakit? Kenapa aku disini?...Tapi sepertinya aku merasakan ada yang aneh dengan kakiku…Oh tidak! Ini pasti cuma mimpi, tidak…aku tidak mau menjadi cacat…..!!!”

26 Oktober 2004
“Dy, sekarang aku ingat kalau aku terjatuh dari tebing ketika aku hiking dengan tema-teman kampus kemarin lusa. Waktu terjatuh, kaki kananku menghantam batu cukup besar di bawah tebing itu. Dan akhirnya aku harus menerima kenyataan kalau kaki kananku harus diamputasi. Tapi aku belum sanggup menerima kenyataan ini, Dy. Apalagi aku akan selalu bergantung kepada kursi roda yang memuakkan ini. Sepertinya cita-citaku hanya akan jadi mimpi saja.”

27 Oktober 2004
“Tidak punya kesibukan memang membosankan, aku rindu kampus, rindu temen-temen. Padahal seminggu lagi Himmah,majalah kampusku harus sudah siap edar. Kamu tau kan, Dy, kalau aku termasuk dalam jajaran dewan redaksi-nya. Kasihan teman-teman. Sementara mereka sibuk di depan computer, aku malah hanya bisa duduk berpangku tangan di rumah. Dy, aku takut aku hanya akan jadi beban mama, aku hanya akan jadi benalu di rumah. Oh God…! Grant me a courage to face these worries”

28 Oktober 2004
“Kasihan mama, Papa dipanggil oleh-Nya ketika aku masih dikandungnya. Jatuh bangun mama membesarkan aku sendirian, beliau pasti berharap aku akan jadi orang nantinya. Apalagi mama adalah wanita yang berpendidikan tinggi, beliau mendapat gelar B.Ed di Punjab University, Pakistan. Lalu M.Ed di Damascus University. Aku pengen banget jadi dosen seperti mama. Dulu aku berkeinginan untuk mengikuti jejak mama kuliah di negeri Ali Jinah, Pakistan. Aku ingin mengambil program S2 disana. Tapi sekarang? Ahh...Impianku kandas, aku hanya akan merepotkan mama saja. Aku takut hanya akan jadi orang yang tidak berguna.”

30 Oktober 2004
“Dy, tadi pagi aku dapat surat tanpa nama pengirim,aku sempat tertegun membacanya. tau nggak apa isinya?!..

Worries are mists and fogs that disappear in front of piercing rays of determination and forceful effort. The joys of life are immense. As the best creature on this earth, human may have pleasure that know no bounds.
There could be worries, anxieties, difficulties and challenges in life. But we’re not to get wholly immersed or involved in such hurdles of life. But you’ve to free your self from the bandage inferiority and develop your self to superior being.

Siapa pengirimnya? mengapa ia tau kalau aku dihantui kekhawatiran?...”

02 November 2004
“Sehabis makan pagi, seseorang menelfon mama. Kedengarannya akrab, mungkin sebelum ini mama sudah sering kontak lewat telfon. Dari pembicaraan mereka sepertinya mama menolak suatu tawaran karena beliau seperti dihadapi dua pilihan yang membingungkan. Tapi ketika aku tanya, mama hanya tersenyum lalu berangkat kerja. Ah mama, ada apa sebenarnya?!

03 November 2004
“Waktu aku ngobrol dengan Bik Minah, tidak sengaja beliau bertanya pendapatku tentang tawaran pekerjaan untuk mama dari teman lamanya. Bik Minah pikir mama pernah membicarakannya denganku. Darinya aku tahu ternyata mama mendapat tawaran pekerjaan sebagai dosen di IIU Malaysia dari tante Firda, tante Firda pernah tinggal satu kontrakan bersama mama sewaktu kuliah di Lahore, Pakistan. Dan kini menjadi dosen di IIUM. Tapi sayang mama menolak tawaran itu.
Dy, pasti alasan mama menolak tawaran itu karena tidak tega meninggalkan aku dengan keadaan seperti ini. Mengapa aku selalu menjadi beban mama?!...”

17 November 2004
“Dy, aku kembali terbaring di ruangan serba putih ini. Kamu tau kenapa? Kemarin aku dan mama ingin sekali menikmati sore di taman kota, Tapi ketika mama membantuku menyebrang jalan raya, ada jeep super ngebut menabrak kursi rodaku yang tengah didorong mama,aku dengan kursi rodaku terseret jauh lalu aku terpelanting dari kusi roda. Mama terkejut lalu berteriak minta tolong,setelah itu aku tak ingat apa-apalagi.
Ya Allah…berikan aku kekuatan dan ketabahan…”

18 November 2004
“Jika bulan lalu,aku kehilangan kaki kananku, sekarang giliran kaki kiriku yang harus diamputasi…Dy, lengkap sudah penderitaanku. Dan impianku benar-benar hanya akan menjadi mimpi.

Kini langit itu semakin tinggi
Tangan ini semakin tak dapat meraihnya
Andai bintang sudi turun ke bumi
Kemudian tersenyum meraih tanganku

Namun senyum bintang itu pudar
Lalu ia terbang kembali ke langit
Kemudian mengabarkan pada awan

Tentang raga yang tak sempurna ini

Jika bintang tak mau mengantarku ke langit
Mungkinkah aku sampai kesana?

Kadang aku berfikir mengapa jeep itu tidak menghantam kepalaku saja? Mengapa tidak nyawaku sekalian ia renggut daripada aku harus hidup tanpa kaki…

Astaghfirullah, mengapa aku selalu mengeluh atas cobaan-Mu ya Rabb…!?

29 November 2004
“Dy, aku bosan di rumah. Syukurlah tadi pagi Aisyah, temanku menjengukku. Dari gramedia dia mampir kesini sebentar. Walaupun sebentar tapi kedatangannya membuatku terhibur. Paling tidak aku punya teman bicara. Apalagi dia membelikanku sebuah buku tebal karya Hj.Irene Handono, seorang da’iyah yang dulunya pernah menjadi biarawati.

Oh iya tadi sore si pengirim misterius itu mengirim surat lagi untukku, nih isinya…

Life is great. Life is real. Life is for living. Joys and sorrows are the two sides of a coin. If winter comes, spring can’t be far behind. After the darkest hour is the dawn, and every dark cloud has the silver lining.

Takdir datang bukan untuk disesali
Jasad sempurna bukan jaminan
Untuk bisa meraih segala asa
Namun tekad , usaha, harap dan doa
Yang dapat merubah segalanya

Karena Tuhan takkan membiarkan
Hamba-Nya yang mau bangkit
Kemudian berserah diri kepadaNya
Larut dalam ketidak berdayaan
Yakinlah.…!!!

Untuk yang kedua kalinya pengirim surat itu tak mencantumkan namanya. Aku jadi penasaran. Dy, aku harus cari tau siapa dia sebenarnya.

30 November 2004
“Kalau kupikir-pikir, bodoh sekali kalau aku hanya bisa mematung di rumah tanpa ada sesuatu yang dilakukan, sementara mama bekerja keras untukku, aku malah hanya berpangku tangan menyesali nasib. Apalagi operasi kakiku pasti menelan biaya yang tidak sedikit. Kalau aku hanya diam, berarti aku hanya akan membuat mama lebih kecewa. Benar-benar tidak adil. Tapi apa yang harus aku lakukan? Apa kemampuanku?


01 Desember 2004
“Tadi Irma, temanku menelfon aku. Dia salah satu redaksi Nadwah, majalah keputrian di kampusnya. Dia memintaku menulis karya ilmiyah tentang kristenisasi yang sedang gencar melanda negeri ini. Memang masalah itu amat membahayakan jika tidak dihalangi secepatnya, apalagi kalau orang islamnya sendiri tidak sadar kalau di sekitarnya banyak para misionaris yang mengincar. Buktinya para penduduk negeri ini yang dahulu penduduknya 80% beragama islam, sekarang sudah berkurang dari prosentase itu. Apalagi agama di Indonesia bertambah, karena konghucu sudah resmi menjadi salah satu agamanya. Anyway… aku akan berusaha menulis tentang masalah tersebut, semoga tulisanku nanti bisa bermanfaat.”

09 Desember 2004
“Ternyata buku pemberian Aisyah kemarin sangat membantuku menulis tema itu, karena bisa menjadi bahan rujukan. Dan juga menambah wawasanku sendiri tentunya. Judulnya ISLAM DIHUJAT, Menjawab buku The Islamic Invasion karya Dr. Robert Morey. Buku tersebut ditulis oleh Hj.Irene Handono. Tadi siang Lia kesini untuk mengambil tulisanku. Dia bilang Irma yang memintanya kemari.
Semoga ini menjadi awal mulaku untuk keluar dari perasaan inferior. Dan aku berharap dapat melakukan sesuatu untuk orang lain. Surat-surat tanpa nama pengirim itu sepertinya memang memberiku support, Dy…”

16 Desember 2004
“Astaghfirullah…Mengapa seperti ini jadinya? Apa memang aku yang ceroboh? Dy, salah satu redaksi Nadwah mengatakan kalau aku plagiator karena tulisanku sama persis dengan tulisan yang dimuat buletin mingguan di salah satu kampus ternama di kota ini.
Kabar yang aku terima, Irma menerima tulisanku yang sudah di print, padahal minggu lalu aku hanya memberikan disket pada Lia. Dan tulisan itu ditulis atas nama Lia. Jadi…Ya Allah, aku tidak menyangka kalau Lia tega berbuat seperti itu terhadap aku…”

17 Desember 2004
“Tadi aku coba menelfon Irma untuk menerangkan tentang apa yang terjadi, sebenarnya Irma ingin menolongku dan tetap akan memuat tulisanku di majalah Nadwah yang rencananya terbit minggu depan, tapi apa boleh buat, rekan redaksinya yang lain tidak akan setuju untuk memuat karya tulis yang sudah dimuat di media lain. Dy, aku sungguh terpukul. Mengapa langkah awalku ini tidak berjalan semudah yang kukira? Apakah aku memang tidak pantas untuk bangkit? Atau mungkin karena aku tidak mampu?.”

19 Desember 2004
“Dy, tadi Ulfa menelfonku. Dia memintaku menulis juga. Katanya ia ingin memuat tulisanku di majalah kampusku, Himmah. Kali ini aku diminta menulis tentang Kelahiran Isa Al-Masih yang Sesungguhnya, berhubung tanggal 25 nanti kaum kristiani akan merayakan Natal yang mereka yakini lahirnya Yesus Kristus. Ulfa rekanku dulu sewaktu aku masih aktif menjadi salah satu redaksi majalah Himmah. Tapi sepertinya aku masih trauma dengan kejadian kemarin, ghiroh menulisku seperti hilang, Dy.”

21 Desember 2004
“Tadi sore surat dari pengirim misterius itu datang lagi. Kali ini isinya menyindir keputus asaanku:
If your action is impeded, if it stops, even your simple problem would be enough to engulf you. But if you keep your will and energy in tack, and hold your head above water, come what may, even the biggest problem will melt away.
As human being, you must admit that being the best creature, you owe some obligation to your creator. Then, prove your self for this favour. Do the best you can. Don’t ever stop trying.

Aku tertegun membacanya. Ya, mengapa aku aku menjadi putus asa? Bukankah putus asa dari rahmatNya adalah perbuatan yang amat dibenciNya? Astaghfirullah…mengapa aku menjadi amat pesimis? Ternyata selama ini aku memandang under estimate terhadap diri sendiri. Aku harus bangkit kembali. Aku harus bisa berbuat sesuatu untuk orang lain.
Harus..!! Malam ini juga aku harus mulai menulis untuk majalah Himmah, mumpung masih ada tiga hari lagi. Semoga Allah memudahkan jalanku.

24 Desember 2004
“Tadi aku iseng ke ruang kerja mama, aku menemukan kertas-kertas yang berantakan. Ketika merapikannya, tidak sengaja aku membaca tulisan tangan mama. Tapi sepertinya aku pernah membacanya. Perlahan aku baca semua kata-kata di kertas itu. Ternyata…Ya Tuhan, bukankah kata-kata ini adalah tulisan yang sama persis dengan surat-surat yang kuterima tanpa pengirim? Berarti… Mamakah pengirim misterius itu?

26 Desember 2004
“Alhamdulillah akhirnya tulisanku kelar juga. Semoga layak muat dan menjadi da’wah bil-qalam. Dy, aku benar-benar malu. Malu pada diri sendiri, pada mama, dan yang pasti pada Allah. Mengapa aku begitu buta. Aku tidak pernah menyadari kalau Allah menganugrahkan harta yang begitu berharga untukku, seorang mama yang selalu menjadi motivatorku, sumber inspirasiku. Mom, I love you. Nanda janji tak akan mengecewakanmu lagi.[Nie]

*tulisan ini pernah dimuat di Buletin Nun, buletin yang diterbitkan Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, edisi Februari 2005)













AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Kala Senja Merenta  

Oleh: Aini Aryani*

Malam kembali keharibaanNya, mega mengundang penjaja kebisingan. Namun bagi Melati, malam atau pagi sama saja selama ia masih disini, di tempat yang amat tak ia sukai, yang membuatnya hanya bernilai tak lebih dari boneka bernyawa. Tempat yang orang-orang sebut `rumah gedongan`, namun baginya tempat itu tak lebih dari sebuah `penjara jiwa`.

Melati bosan, jemu, dan entah apa lagi yang mengusik ketenangannya, ia butuh suasana baru. Diraihnya kanvas dan alat-alat lukis. Lalu tepat di belakang rumahnya, di lapangan luas penuh hijau, ia mulai melukis wajah merah mega yang berkolaborasi dengan hamparan langit yang mulai membiru. Ia menemukan kedamaian disana. Ia sangat menikmati itu. Hingga…

”Braakkk…!!!” lukisan basah yang tadinya berada tepat di depan wajahnya, kini berpindah tepat di depan kakinya. Seseorang telah mencampakkannya.

“Papa sudah bilang, melukis itu tidak ada gunanya. Buang waktu saja. Lebih baik kamu kembali ke kamar dan tekuni materi-materi kuliahmu,” suara Papanya membuatnya tertunduk. Baginya itu bukanlah sebuah saran, melainkan sebuah `perintah` yang harus ia tunaikan. Hatinya bergemuruh, lukisan yang ia buat sedari pagi buta, kini tak berbentuk lagi. Ingin ia memberontak. Tapi lidahnya hanya sanggup meluncurkan sebuah kata, “Baik, Pa.”
***

Dokter. Kata itu membuatnya tak habis pikir. Mengapa Papa begitu berambisi untuk menyulapnya menjadi dokter. Apakah karena Papa seorang dokter, lalu dirinya juga harus menjadi dokter? Pertanyaan itu memantul dari satu relung ke relung lain dalam jiwanya. Hingga ketika keinginan menjadi seorang seniman menggebu-gebu di hatinya, atau ketika keinginan untuk tinggal bersama teman-temannya di asrama mahasiswi sebuah yayasan islami menghampiri hatinya, Papa dengan otoriter menolak keinginan-keinginan tersebut mentah-mentah. Sebaliknya, ia justru diberi `Titah` untuk mendalami ilmu medis di salah satu Universitas bergengsi di kotanya, jurusan yang sama sekali tak ia minati.

“Mungkin karena otakku pas-pasan, makanya aku sering dapat nilai merah di pelajaran-pelajaran exacta waktu aku masih SLTP dan SMU, tapi mengapa Papa tetap memaksaku untuk menuruti kemauannya..,” batinnya.

Akhirnya harapannya terkubur begitu saja. Tapi… Tidak… harapan itu belum sepenuhnya terkubur, karena ia masih dapat melukis diam-diam dari jendela kamarnya, pun dia masih diperbolehkan untuk bergaul dengan teman-temannya di yayasan islami At-Taqwa. Walaupun ia belum berjilbab seperti mereka karena larangan sang Papa, tapi paling tidak, hatinya belum terkunci untuk membenarkan kebenaran. Tidak seperti kemerdekaannya yang terkunci untuk mendapatkan hak memilih jalan hidup.

“Mel, tadi dr.Andika bilang kamu tidak mengikuti penelitian di laboratorium kampus. Kenapa?”
“Ee…Mmhh…tadi Mela ikut, Pa. Tapi nggak sampe selesai, Mela…Mela…,”
“Kenapa?” suara papanya meninggi. Lidahnya kelu, tak sanggup untuk mengatakan bahwa ia sangat tidak tertarik untuk mengikuti materi Biologi yang teramat sulit ia pahami hingga membuatnya jenuh. Tapi lagi-lagi ia hanya sanggup berkata,
“Mela..minta maaf, Pa.”

Papa mendekat, ada kilat kemarahan di sepasang mata elang Papanya.
”Jangan buat Papa marah..!!!” Kalimat itu seperti ancaman yang dapat membahayakan dirinya bila kesalahan itu diulangi. Ia menghela nafas. Lalu teringat bahwa ia harus mengantar teman-temannya ke suatu masjid untuk menghadiri pengajian. Bagi Melati, suatu ketenangan tersendiri bila dapat berkumpul dengan mereka untuk mendengarkan ceramah di suatu pengajian. Disana, ia seperti mendapatkan siraman rohani yang menyejukkan, sesuatu yang tidak pernah dirasakannya ketika ia berada di rumah besarnya, terlebih jika tengah berhadapan dengan Papa. Entah, sesuatu apa itu.

Sesampainya di rumah, Melati mendapati Papa di ruang tamu, “Mela, kamu masih betah kan mengantar dan menjemput teman-teman kamu yang kampungan itu?.”

Melati maklum atas pilihan kata `betah` dalam kalimat Papa. Hubungan antar teksnya jelas rapuh. Tapi ia sangat efektif untuk memberi muatan sarkastis bernada sinis sebagai bentuk penyindiran. Dalam tafsirnya, kalimat itu berarti, “Mela, kalau kamu masih mau mengantar dan menjemput teman-teman kamu dengan mobil hadiah dari Papa, kamu mau kan menuruti kemauan Papa dan mematuhi perintah Papa?”
“Masih, Pa.”
“Bagus. Kalau begitu, kamu paham kan maksud Papa?” Ia mengangguk pasrah.

***

Hujan enggan turun. Namun angin masih setia menebar gerimis di kota Metropolitan itu. Melati resah ketika tiba-tiba layar kaca di depannya memberitakan bahwa banjir telah menimpa beberapa rumah dan bangunan lainnya di dekat sungai Kalimalang. Ia teringat Aisyah dan Ifah, dua temannya yang tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah tersebut. Segera ia menuju tempat itu.

“Assalamualaikum,” salamnya.
“Waalaikumsalam, eh Melati. Masuk, Mel” ajak Aisyah ramah. “Duduk, Mel. Maaf ya kalo kursinya agak basah, maklum atap lagi bocor nih.” Katanya masih dengan tersenyum. Tak terlihat di wajahnya bahwa ia sedang tertimpa musibah. Tegar sekali, pikir Melati. Setelah beberapa saat berbincang hangat, akhirnya Melati menawarkan mereka untuk sementara tinggal di rumahnya. Tapi mereka menolak dengan halus. Melati mengangguk mengerti, lalu kembali ke rumahnya.

“Dari mana, Mel?” tanya Papa. “Dari daerah Kalimalang, Pa.” jawabnya.
“Ngucapin bela sungkawa buat temen-temen kamu yang kebanjiran ya?” suara Papa terdengar sinis. “Kamu nggak ingin kan melarat seperti mereka. Makanya, Papa pengen kamu jadi orang besar biar nggak menderita kayak temen-temen kamu itu. Kalo jadi seniman atau cuma sibuk di yayasan itu, masa depan kamu nggak akan cerah. Bisanya cuma minta-minta sumbangan. Jangan-jangan sumbangan yang mereka minta itu digunakan untuk kepentingan pribadi karena mereka sendiri kekurangan. Kalau sudah begitu, apa bedanya mereka dengan pengemis?”

Hatinya panas. Selama ini ia selalu menjadi ‘anak manis’ setiap mendengar kata-kata Papa. Tapi jika Papa menghina teman-temannya, ia tak bisa diam.

“Pa, mereka bukan pengemis. Mereka juga nggak cuma bisa minta-minta seperti yang Papa duga. Sebaliknya, mereka selalu memberi tanpa pamrih. `Memberi` bukan hanya bermakna materi kan, Pa? Mereka memberi ketenangan dan kedamaian, sesuatu yang amat jarang Mela temui di rumah besar Papa. Karena disini Mela hanya seperti boneka bernyawa yang nggak boleh nentuin jalan hidup.” Ucapnya pelan namun tegas. Hampir saja ia meninggikan suaranya, kalau tidak ingat nasehat teman-temannya untuk selalu menghormati Papa. Tapi…

”Plakk…!!!” sebuah tamparan mendarat di pipinya. Ia tak menyangka Papa tega menamparnya. Ia menangis, lalu pergi mengemudikan mobil secepat mungkin.

Papa tertegun, matanya bersirobok dengan foto Savitri, mendiang istrinya. Sepeninggal Savitri, hidupnya seakan menjelma hari-hari senjang yang menganga. Dan kinipun ia merasa Melati mulai mengabaikan keinginannya. Ia mulai mengembara dalam diam. Jangan-jangan memang salahnya yang selalu memaksaan kehendak. Tapi, bukankah semua yang dilakukannya semata-semata untuk kebahagiaan Melati? Namun, jika itu semua tidak membuatnya bahagia, apakah ia tetap harus memaksanya?

Bayangan mata sayu Melati yang berkaca-kaca muncul. Rasa bersalah menghiasi kembara diamnya. Papa memandang telapak tangannya yang baru saja ia daratkan ke pipi putri satu-satunya itu. Kemudian menyadari bahwa ia baru saja menciptakan ngarai yang curam diantara mereka. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa harus menyusul Melati. Segera ia menuju mobil dan mengemudikannya. Tapi…

“Tut…Tuuut.…!!!” ponselnya berbunyi..
“Halo..iya betul… Apa?!! kecelakaan? ...Melati?!!!”
Mobil yang tadinya akan ia kemudikan untuk menyusul Melati, kini segera berbelok arah menuju rumah sakit. Melati mendapat kecelakaan.

Papa menuju ruang operasi secepat mungkin, tak sabar ingin melihat wajah putri yang disayanginya. Baginya, Melati adalah bunga terindah serta anugerah paling berharga dalam hidupnya. Ia tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Namun terlambat, sampai di depan ruang operasi…

“Bagaimana kondisi putri saya, Dok?” tanyanya. Dokter itu menggeleng lemah,
“Maaf, Pak. Kondisi putri anda terlampau parah. Kami tidak mampu menyelamatkan nyawa putri anda.”

Papa terduduk lemas. Terlebih ketika ia tahu bahwa mobil yang tengah dikemudikan dengan kecepatan tinggi oleh Melati, bertabrakan dengan truk gandeng.
***

Pijar bola api meredup, awan barat menelan sinarnya perlahan. Namun laki-laki itu belum beranjak dari gundukan tanah merah dihadapannya. Rasa kehilangan menyeruak dalam hatinya. Ia menatap senja yang mulai merenta. Lalu teringat untaian kata yang pernah dibacanya di sebuah diary biru milik almarhumah putrinya…

~30 Juni 2005~
“Di suatu senja yang merenta, kutatap lukisan merpati-ku yang tengah bebas mengepakkan sayapnya di hamparan langit. Aku ingin bebas layaknya merpati itu. Kebebasan yang kuingin hanyalah kebebasan menentukan jalan hidup. Tapi… Ah, mana mungkin. Kemerdekaanku seperti terkurung dalam botol bersegel yang amat sulit dibuka karena tangan kekar Papa menggengggam tutupnya kuat-kuat…”

Mata laki-laki itu memanas. Langkahnya gontai, terseok meninggalkan pusara putrinya. Bulir bening yang ia tahan, kini bagai air bah yang tak terbendung. Pertahanannya pecah. Ia menangis. Arogansi yang lama ia bangun, runtuh sudah. Yang tersisa hanyalah sesal, hampa, serta rasa bersalah yang mencabik-cabik jiwa resahnya. Tubuhnya limbung ke tanah. Lidahnya hanya sanggup berkata, “Maafkan Papa, Nak…”. (Nie, Agustus 2005)

*tulisan ini pernah dimuat di Majalah IKPM cabang Pakistan, edisi Oktober 2005













AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Mission Impossible-nya Doni  

Thursday, June 14, 2007

Oleh: Aini Aryani

Sekitar dua jam lagi Doni akan tiba di kota Gudeg ini. Sudah lama sekali aku tidak melihat wajah adik semata wayangku itu sejak menikah dengan Mas Yudi yang saat ini sedang keluar kota bersama Mia, puteri kami untuk mengunjungi eyangnya. Kutata kembali meja hidangan untuk menyambut Doni. Beberapa saat kemudian kudengar suara mobil. Mobil Doni. Aku menuju halaman rumah setengah berlari. Setelah melepas lelah, kuajak ia menyantap hidangan spesial yang kusajikan. Setelah beberapa lama, kulirik Doni. Aku baru ingat kalau hari ini ulang tahunnya.
“Don, Selamet ulang tahun ya.” Doni menoleh kearahku.
“Makasih. Tapi, ucapan selamat tanpa kado kurang afdhol lho, Mbak.” Jawabnya enteng.
“Emang Pak pengusaha mau hadiah apa sih?” candaku. Saat ini Doni sudah memiliki usaha sendiri. Di Surabaya tempat ia tinggal, Doni memiliki sebuah Publishing House yang cukup sukses yang dikelolanya bersama dua teman dekatnya.
“Mmmm….apa ya.. Kira-kira menurut Mbak apa?”
“Kalau kadonya jalan-jalan keliling Jogja aja gimana?” tawarku.
“Yaa Mbak. Kalau itu sih Doni bisa keliling Jogja sendiri.”
“Lha, trus apa dong?” tanyaku. Doni terlihat berpikir. Aku jadi ikut-ikutan mikirin. Tiba-tiba satu ide muncul.
“Menurut Mbak, hadiah yang cocok buat orang single yang udah cukup umur itu…..” sengaja kupotong kata-kataku, membiarkannya menebak.
“Ooohhh…nyindir neh?” tebaknya. Aku tertawa kecil.
“Gimana…?” tawarku. Doni berpikir sebentar.
“Boleh deh. Asal Mbak yang nyariin ya..” Tantangnya.
“Iya deh, insya Allah. Emang mau kamu yang kayak gimana?”
“Doni pengen yang oke dong, Mbak”
“Yang oke gimana? Maksud Mbak kriterianya”
“Nggak banyak kok, Mbak. Doni kan suka gadis yang apa adanya. Ada cantiknya, ada menariknya, ada shalihahnya, ada pinternya, ada lembutnya, ada sabarnya, ada lincahnya, ada rajinnya, ada…”
“Walah, Doon…Don..Itu sih bukan apa adanya. Tapi ada apa-apanya.” Timpalku kesal. Doni nyengir.
“He…he. Pokoknya Doni percayain ke Mbak deh. Mbak Ajeng kan yang paling ngerti tipe yang Doni mau. Udah dulu ya Mbak. Doni mau istirahat. Capek.” Dia beranjak menuju ruang tamu, tanpa memedulikan wajah yang kutekuk berlipat-lipat.

Semenit kemudian ia kembali.
“Apa lagi?” tanyaku masih dengan raut kesal.
“Pokoknya Mbak Ajeng harus nyariin yang kayak tadi lho. Dan Doni cuma mau Mbak yang milihin. Oke?…” Katanya sambil mengerling lalu kembali ke ruang tamu.
Beginilah kalau punya adik laki-laki semata wayang yang sering punya permintaan yang kelewat ribet. Termasuk permintaannya kali ini. Minta dicariin gadis serba oke. Kriterianya yaa seperti yang dia sebut tadi. Itu baru sebagian lho. Sisanya masih banyak yang belum kesebut, gara-gara keburu aku potong. Huuhh…itu sih namanya ‘impossible mission’. Darimana aku bisa dapet gadis perfecto begitu. Kecuali kalau ada bidadari surga yang sudi singgah ke Jogja, demi nemuin si cerewet Doni. Itupun kalau bidadarinya pinter masak, pinter jahit, de-el-el. Tapi…kalaupun ada, mana mau sama si Doni yang rada slenge’an begitu…...Puzyyyiiiing dech!!!
***

Perjuanganku pun dimulai. Dari lihat-lihat daftar nama di buku agenda, dealing dengan rekan-rekan aktivis masjid, sampe kontak temen-temen lama. Akhirnya setelah beberapa lama, aku mendapat beberapa nama akhwat dari teman dekat. Kuhampiri Doni yang tengah asik di depan layar televisi. Kusodorkan beberapa foto berikut biodatanya satu-persatu.
“Yang ini namanya Atika. Anaknya ramah, cantik, dari keluarga baik-baik, lembut, pokoknya oke deh. Pinter masak lagi… Gimana?” kuperlihatkan padanya foto seorang akhwat. Doni terlihat berpikir sebentar. Lalu…
“Pendidikannya?”
“Dia anak FIKOM. Lagi nulis skripsi sekarang.”
“Pinter?”
“Mmm…kalau itu Mbak kurang tau.”
“Prestasinya?” tanyanya lagi. Aku manyun.
“Ya mana Mbak tau, Don. Kamu tuh kayak lagi nyeleksi calon karyawan aja tau nggak sih?” jawabku jengkel.
“Lho, kan Mbak sendiri yang bilang kalo ini bukan proyek main-main. Jadi kan Doni juga nggak mau maen-maen. Kalau salah pilih gimana?” belanya. Aku cuma bisa menghela nafas mendengarnya. Sebenarnya pengen banget sih ngomelin tuh anak. Tapi aku lagi males debat.
“Yaudah, ini ada yang pinter. Namanya Sinta. Ayahnya rektor. Ibunya dosen. Yang Mbak tau Sinta itu cerdas. Maklum dari keluarga pengajar. Prestasi akademiknya hampir nggak pernah ngecewain. Dia mahasiswi Ilmu Politik semester akhir. Mbak kenal cukup deket sama Sinta. Dia cantik dan aktif di kegiatan eskul kampusnya.” Jelasku. Kulirik Doni yang manggut-manggut.
“Cuman…nggak pinter masak.” Tambahku.
“Mmmm…Nggak deh, Mbak”
“Kenapa?”
“Yaa…bisa-bisa ntar Doni dimasakin internet mulu. Kan bosen.” Jawabnya enteng. Dahiku berkerut…
“Internet?” tanyaku heran.
“Iya…internet: indomie, telor, kornet….he…he..”
“Plukk…!!!.” kulempar kepalanya dengan bantal kursi. Dasar!!!

Pusing juga punya adik seperti Doni. Permintaannya sering aneh-aneh. Susahnya, hampir setiap keinginannya selalu terpenuhi. Aku akui, Doni memang dikaruniai banyak kelebihan; rupa yang bagus, otak yang encer, fisik yang kuat, mandiri dan pandai bergaul. Meskipun terkesan santai dan easy going, tapi sebenarnya dia tekun dan nggak mudah nyerah. Mottonya: “look relax, do all things”.

Doni lahir selang delapan tahun setelah kelahiranku. Kelahirannya ditunggu-tunggu oleh keluarga kami. Doni sangat disayang dan dimanja, terutama oleh Mama dan Eyang Puteri. Apa saja yang diinginkannya selalu terpenuhi, meski itu sangat sulit dijangkau. Aku juga sangat sayang pada adik semata wayangku itu. Mungkin semua itu yang membuatnya punya keinginan seperti saat ini. Sialnya, aku yang harus memenuhinya. Mumet dech!!!
“Apa kriterianya nggak bisa dikurangi lagi, Don?”
“Emmm…bisa sih.” Jawabnya. Aku sedikit senang.
“Misalnya?”
“Nggak cantik juga nggak apa-apa sih, Mbak. Yang penting menarik. Trus, nggak pinter juga nggak apa-apa, asal bisa nyambung kalau diajak diskusi dan ngobrolin hal-hal ilmiyah. Trus, nggak lembut juga it’s okay, asal sabar dan penyayang aja. Trus….”
“Aduh, Don…banyak amat sih syaratnya.”
“Masa sih?”
“Ya iyalah, itu sih namanya ngasih alternatif doang, bukan ngurangin kriteria. Huhhh...kamu itu.” rutukku sebal.
“Yaa gimana lagi, Mbak. Kriteria Doni yaa yang seperti itu.”
***

Pagi tadi aku dapat telefon dari Ratih, teman lamaku waktu aku masih kuliah dulu. Dia memberiku kabar yang membuatku sedikit punya harapan. Dia bilang punya adik sepupu yang serba oke.
“Siapa namanya, Rat?” tanyaku.
“Kamu inget nggak sama Aisyah? Itu lho, adek sepupuku yang dulu pernah aku kenalin ke kamu waktu kita jalan-jalan ke Malioboro. Inget?” tanyanya. Aku berpikir sejenak, mencoba mengingat.
“Oh…yang anaknya imut itu kan?” tebakku.
“Betul. Aisyah itu anak manis yang serba bisa lho. Dia cantik, keibuan, pinter, penyabar, rajin dan juga aktifis BEM. Makanya sekarang dia jadi pengurus inti BEM di kampusnya.”
“Memang Aisyah kuliah dimana, Rat? Fakultas apa?”
“Mahasiswi ekonomi UGM. Ntar lagi lulus. Kemaren temen-temennya bilang kalo Aisyah diprediksikan jadi calon wisudawati terbaik tahun ini. Dan selain pinter di kampus, dia juga pinter di dapur lho…” tambahnya.
“Ohya…? Pinter masak dong?”
“Pinter banget. Dia masak apa aja bisa. Dari mulai masakan Padang sampe masakan luar negeripun bisa. Malah aku sering tuh minta resep sama Aisyah. Kebetulan dia sering main ke rumahku juga. Soalnya rumah kita deketan. Oh iya, dia juga pinter jahit lho, Jeng.” Jelas Ratih. Wah, kayaknya sih yang kayak gini nih tipenya si Doni, batinku.
Setelah ngobrol beberapa lama, kututup gagang telfon setelah mengucap salam. Tak sabar aku ingin segera menyampaikan hal tadi pada Doni. Akupun segera memanggil Doni yang sedang asik ngopi di kursi depan rumah
“Doni…Don…” panggilku. Tak ada jawaban. Aku coba panggil lagi. Tetap sama: nihil.
“Dooon…Doniiii. Sini bentar, Dek!!!” panggilku lagi dengan suara yang lebih tinggi.
“Ada apa sih, Mbak. Pagi-pagi gini kok tereak-tereak.” Jawabnya sambil muncul dari balik pintu.
“Lagian dari tadi Mbak panggil, kamunya nggak jawab-jawab.”
“Ohhh…sori deh, Mbak. Tadi Doni lagi dengerin walkman. He..he…” jawabnya tak berdosa. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala.
“Yaudah, duduk dulu.” Setelah dia duduk manis di sofa depanku, baru kuceritakan padanya semua yang kutahu tentang Aisyah.
“Mbak pernah kenal ya sama Aisyah?” tanyanya.
“Iya…Tapi kenalnya udah lama banget sih. Aisyah itu sepupunya teman Mbak. Tinggalnya di daerah Namburan Lor. Mbak masih inget-inget dikit.”
“Mbak punya fotonya?”
“Wah…nggak tuh, Don. Penasaran yaa…hayoo.”
“Mmm….nggak juga sih, cuman pengen tau aja.” Jawabnya sok acuh. Ini nih salah satu sifat si Doni yang bagiku paling menyebalkan. Gengsinya itu lho!!
“Oiya, Don. Besok lusa Mbak diundang ke rumah temen. Ada pesta kecil-kecilan katanya. Kamu temenin Mbak ya. Mbak males kalau sendirian. Bisa kan?”
“Bisa aja sih. Tapi bukan acara ibu-ibu kan? Doni males kalau itu.”
“Nggak. Acara aqiqah-an puteranya yang baru lahir kok. Jadi yang dateng nggak cuma ibu-ibu aja.”
“Oohh…iya deh. Insya Allah.”
***

Aku bersiap-siap untuk menghadiri undangan aqiqah putera pertama Ratih. Setelah merapikan jilbab, kuambil kunci mobil dan memanggil Doni. Doni baru saja keluar kamar, ketika aku hendak memanggilnya.
“Siap?”
“Siap, Mbak.”
“Nih kuncinya. Kamu yang nyetir ya” Kuserahkan kunci mobilku pada Doni.
“Siiip, Boss.” Jawabnya. Sesaat kemudian mobil kami meluncur menuju jalan Namburan Lor. Syukurlah jalanan tidak macet. Jadi kami bisa tiba secepatnya. Sesampai disana, kami disambut hangat oleh Ratih.
“Ini yang namanya Doni kan?” tebak Ratih sambil menunjuk kearah Doni.
“Iya, Rat.” Jawabku. Lalu kutoleh Doni. “Don, kenalin ini Mbak Ratih. Mbak Ratih ini dulu temen sekelas Mbak waktu masih kuliah dulu.” kukenalkan Ratih padanya. Setelah berbasa-basi sebentar, tiba-tiba Ratih melihat jam tangannya. Kemudian teringat bahwa acara akan segera dimulai.
“Jeng, saya permisi bentar ya. Acaranya mau dimulai.” Katanya.
“Oh iya, silakan.” Jawabku. Ratih beranjak menuju bayinya yang sedang digendong oleh eyangnya.
Kuperhatikan ruangan ini. Sepertinya tidak berubah. Masih sama dengan keadaan ketika aku kesini beberapa bulan lalu. Pandanganku juga tertuju kearah tempat hidangan yang sedang ditata oleh beberapa ibu-ibu dan….seorang gadis berjilbab. Cantik. Kalau kuperhatikan sekilas, sepertinya aku pernah kenal dengan gadis itu. Sesaat kemudian, kutoleh Doni. Ternyata pandangannya juga tertuju pada tempat yang sama denganku tadi.
“Ehheemm..” dehemku. Doni tak bergeming.
“Don…” panggilku sambil mengayunkan telapak tanganku di depan mukanya.
“Eh…iya, Mbak.” Jawabnya agak kaget.
“Ngelamun ya? Habis ngeliatin siapa hayo…Inget, jaga pandangan.”
“Ah. Enggak kok Mbak.” Jawabnya. Aku tersenyum.
Setelah acara inti selesai, para undangan dipersilakan menyantap hidangan yang telah disediakan panitia. Aku dan Doni duduk di sofa depan sambil menyantap hidangan makan siang. Tak lama kemudian aku melihat Ratih bersama seorang gadis cantik yang kulihat tadi. Mereka menuju tempat kami.
“Ajeng, ini lho yang namanya Aisyah. Masih inget kan?” katanya sambil mengenalkan gadis itu padaku.
“Ooohhh…iya, inget. Pantesan tadi waktu aku lihat sekilas, kok kayaknya pernah lihat dimana gitu.” Jawabku.
“Lho, memang lihat dimana tadi?” Tanya Ratih.
“Tadi, waktu Aisyah lagi sibuk menata meja hidangan sama ibu-ibu.” Jawabku.
Setelah saling berkenalan, kamipun terlibat dalam obrolan santai. Ternyata Aisyah gadis yang ramah dan humoris. Hingga kami cepat akrab dengannya meski belum kenal lama. Setelah berbincang-bincang, aku dan Doni pamit untuk pulang.
***

Sejak saat itu aku sering melihat Doni akrab berbincang dengan Aisyah di telfon. Aku ikut senang. Semoga ini menjadi akhir perjuanganku melaksanakan permintaan Doni yang menurutku impossible itu.
Pagi tadi aku terima sms dari Ratih. Siang ini dia mengajakku jalan-jalan ke tempat-tempat wisata kota bersama keluarganya. Usul bagus menurutku karena Doni sebentar lagi harus kembali ke Surabaya. Jadi, bisa sekalian mengajaknya untuk melihat-lihat keindahan kota ini sebelum dia meninggalkan Jogja. Lagipula aku juga sedang tidak sibuk.
Beberapa jam kemudian, mobil Ratih tiba di halaman rumahku. Dia mengajak kami berdua untuk pergi dengan mobilnya saja. Kebetulan suaminya menyewa mobil yang kapasitas muatannya cukup banyak, dan masih ada dua seat yang masih kosong Rekreasipun dimulai. Monumen Jogja Kembali, Borobudur, Kaliurang dan Malioboro sudah kami singgahi semuanya. Selama perjalanan dari satu tempat lain, aku kerap mendapati tingkah Doni yang sering mencari peluang untuk bisa ngobrol dengan Aisyah. Mungkin Aisyah memang seperti yang Doni inginkan, batinku sambil tersenyum dalam hati.
Hari mulai sore ketika kami hendak pulang. Sayang sekali, jalanan menjadi macet. Hampir setiap sampai di pertigaan atau di perempatan, selalu saja lampu merah. AC mobilpun bersaing dengan cuaca sore yang menjadi sangat panas. Seakan-akan matahari marah sore ini. Semua mengeluh. Gerah. Hingga tiba-tiba ….
“Hhhh….hhhhh…hhhhh” Aisyah merasakan sesak.
“Astaghfirullah…Aisyah kenapa?” tanyaku panik.
“Penyakit asma Aisyah kambuh. Kita harus cepat ke rumah sakit.” Jawab Ratih. Mobilpun segera melaju menuju RS. Sayang sekali, jalan masih sangat macet. Aisyah tampak semakin pucat. Semua menjadi panik. Doni apalagi.
“Hhhh…..hhhhh…” suara Aisyah semakin pelan. Mungkin semakin kesulitan bernafas. Padahal kaca-kaca mobil sedang terbuka.
“Sabar, Ais. Bentar lagi kita sampe ya, Sayang.” Kata Ratih mencoba menguatkan. Namun akhirnya Aisyah tak mampu bertahan. Ia pingsan.
***
Minggu berganti. Namun Aisyah masih berbaring di kasur putih rumah sakit. Aku dan Doni menjenguknya dua hari yang lalu. Ternyata Aisyah telah lama mengidap asma kronis yang sulit disembuhkan. Sejak mengetahui hal tersebut, Doni selalu terlihat murung. Jarang makan. Bahkan sering tak memperhatikan perkataanku karena tatapan matanya selalu kosong. Akhirnya, dia memutuskan untuk kembali ke Surabaya.
“Mbak, Doni berangkat dulu.” Pamitnya setelah berkemas.
“Iya, hati-hati ya. Jangan sering ngelamun lagi lho. Bahaya. Kalo adek Mbak ini jadi kesurupan gimana hayo?” candaku. Dia tertawa kecil. Tapi gurat kesedihan di wajahnya masih terlihat. Doni yang kuat dan periang, ternyata juga tak mampu menyembunyikan kesedihannya sendiri. Semoga peristiwa ini dapat membuatnya berpikir lebih realistis dan mengakui bahwa manusia tidak ada yang sempurna, termasuk dirinya sendiri.
Setelah lima bulan sejak kepergian Doni, aku belum pernah mendengar kabarnya lagi. Mungkin masih sibuk. Terakhir aku terima smsnya tiga bulan lalu ketika Doni mengabarkan bahwa ia sedang bertugas keluar kota. Sengaja aku tidak menghubunginya, karena khawatir mengganggu kesibukannya. Namun, beberapa minggu kemudian dia menelfonku.
"Mbak Ajeng apa kabar?"
"Baik aja. Tumben kamu telfon. Kirain udah lupa kalo masih punya mbak di Jogja."
"Maaf Mbak. Doni kan kemaren-kemaren masih sibuk."
"Iya deh. Ngomong-ngomong kamu sendiri apa kabar?"
"Baik juga. Oh iya, Mbak kapan nih ke Surabaya. Gantian dong ngunjungin Doni."
"Mmmm…iya deh. Tapi ntar aja, kalo Mbak udah punya adek ipar. Gimana?" candaku. Tak ada respon. Aku tunggu beberapa saat. Doni masih diam. Kemudian…
"Tapi Mbak cariin buat Doni ya?" katanya.
"Lho, kan udah kemaren. Kamunya aja yang terlalu banyak pertimbangan."
"Emang Doni gitu ya Mbak?" tanyanya.
"Iya.." jawabku. "Don, orang itu pasti punya kekurangan. Siapapun itu. Termasuk diri kamu sendiri. Coba bayangin kalo orang lain nggak mau menerima dan nggak mau ngerti kekurangan kamu. Kamu juga harus sadar, berapapun banyaknya kelebihan yang kamu punyai, kamu pasti punya kekurangan. Itu pasti, Dek!" tambahku mencoba meyakinkan. Doni diam. Kuharap dia mencoba meresapi kata-kataku. Lalu…
"Mbak Ajeng bener." Katanya lirih. Aku tersenyum.
"Jadi?"
"Yaa…Mbak Ajeng cariin lagi dong." Katanya.
"Tapi kriterianya udah berubah kan?" tanyaku penuh harap.
"Masih yang kayak kemaren. Tapi…..yang nggak punya asma, he..he.." jawabnya asal. Huuuhhhh….Dasar Doni. Nyebelliiiin!!!! [Nie]

*tulisan ini pernah diterbitkan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Pakistan dalam buku antologi cerpen "Lembayung Sutera".



AddThis Social Bookmark Button

Email this post


 

Design by Amanda @ Blogger Buster