Islam Berideologi Patriarki; Benarkah...???  

Monday, October 8, 2007

Oleh: Aini Aryani

Pendahuluan
Islam kerap dipandang memiliki formulasi hukum yang cenderung menguntungkan kaum pria. Pandangan ini tak hanya bersumber dari Barat yang notabene non-Muslim, namun juga dari kalangan Muslim sendiri. Mereka beranggapan bahwa setting-an hukum Islam mengarah pada budaya patriarki dan memandang ‘sebelah-mata’ terhadap perempuan (misogyny). Berbagai stereotype yang dilekatkan kepadanya, serta aneka citra negatif memunculkan anggapan bahwa Islam memenjarakan kebebasan perempuan, memasung hak-haknya, bahkan menggiring kedudukannya ke bawah derajat kaum pria. Benarkah demikian?

Hukum warisan dalam Islam, hak penjatuhan thalaq bagi laki-laki, larangan bagi wanita mengimami laki-laki dalam sholat, aturan shaf dalam sholat yang mengharuskan wanita di belakang laki-laki, kewajiban patuh pada suami yang menjadi kepala keluarga, dll, Hukum-hukum Islam semacam ini seringkali dipandang patriarkal yang membuat sebagian muslimah merasa menjadi korban subordinasi dan marginalisasi. Kemudian menganggap hukum Islam tak lagi relevan dengan trend kekinian yang membuat pemeluknya menjadi terbelakang, khususnya perempuan muslim.

Semua itu menjadi stimulus munculnya pergerakan ‘Feminisme Islam’ dalam dunia feminisme yang mengacu pada konsistensi perjuangan dalam menghilangkan subordinasi, memusnahkan ideologi patriarki serta meluruskan pandangan misogyny dengan menggunakan paradigma Islam sebagai bahasan utama.

Gender Equality; Persamaan Porsi ataukah Nilai?
‘Feminisme Islam’ muncul pada pertengahan tahun 90-an sebagai terma baru dalam dunia feminisme, yang didefinisikan sebagai studi persamaan gender (gender equality) dan keadilan sosial dengan menggunakan paradigma Islam. Namun di sisi lain, feminisme seringkali menjadi mainstream (arus utama) yang menjebak aktivis perempuan menjadi bias dan bahkan cenderung keliru dalam memahami mengenai terminologi feminisme dan aliran-aliran yang berkembang didalamnya.

Dalam perjuangan dan pemikirannya, muslimah harus bergesekan dengan polemik dan trend kekinian yang sering menjebak, sehingga dalam perjalanannya terjadi polarisasi gerakan yang membentuk aliran berpikir yang dipengaruhi oleh ideologi Barat seperti Liberalisme dan Sosialisme-Marxis yang notabene sekuler. Kekecewaan mereka pada dominasi kaum pria di beberapa bidang dalam masyarakat membuat mereka menggugat syariat sebagai sumber hukum pertama, sehingga memunculkan keinginan untuk memformulasikan hukum yang (menurut mereka) menguntungkan.

Bukanlah dinamakan diskriminasi ketika wanita tidak diperbolehkan menjadi imam bagi laki-laki, atau ketika ia harus berdiri di shaf shalat yang berada di belakang laki-laki. Karena itu semata-mata bertujuan agar prosesi penyerahan diri dihadapan Tuhan berjalan dengan lebih tunduk, khusyu’ dan sakral. Bukan untuk ditafsirkan sebagai penempatan derajat wanita sebagai kelas kedua dalam kehidupan sosial. Demikian pula ketika isteri harus mematuhi suami yang menjadi kepala keluarganya, bukanlah berarti bahwa ia mengabdi dan tunduk pada pria, akan tetapi melaksanakan kewajibannya yang telah ditentukan Penciptanya.

Laki-laki tidaklah menjadi lebih tinggi dihadapan Allah hanya karena menjadi kepala rumah tangga, menjadi imam atau berdiri di shaf yang berada di depan wanita dalam shalat. Karena masing-masing tentunya mendapatkan ganjaran yang sama dalam melaksanakan tugas yang sudah dibagi oleh-Nya. Yang menjadi patokan hanyalah satu, yakni Tingkat Takwa, dan itu tak ada relasinya dengan gender. Siapapun mampu dan dipersilakan berlomba-lomba mencapainya. Tentunya manusia juga tidaklah lebih tau dari Tuhan dalam memandang mana yang lebih sesuai dan adil untuk mereka, karena sejatinya Allah-lah yang lebih mengetahui kapasitas ciptaan-Nya. Oleh karena itu tidaklah pantas bagi manusia untuk menggeser tongkat aturan agama dari porosnya.

Maka, ‘Gender Equality’ tidaklah selalu bermakna persamaan hak dan kewajiban dalam bidang atau porsi yang benar-benar serupa, karena yang menjadi substansi dari persamaan itu adalah ‘Nilai’. Laki-laki yang ingin mendapatkan manisnya berjihad diberikan-Nya jalan dengan cara mempertaruhkan nyawa di medan perang atas nama agama Allah. Begitu pula wanita yang ingin mendapatkan manisnya berjihad diberikan-Nya jalan dengan cara mempertaruhkan nyawa ketika ia tengah melahirkan bayi dari rahimnya. Kadangkala laki-laki dan wanita ditempatkan di bidang atau porsi yang berbeda, namun tetap memiliki ‘nilai’ yang sama. Inilah sesungguhnya makna dari Gender Equality.

Penutup
Kadangkala kaum pria merasa dirinya lebih utama karena memiliki ukuran otak akal yang lebih besar, dan menganggap wanita memiliki kekurangan karena didominasi perasaan dan emosi. Atau, kaum pria merasa lebih superior dengan alasan memiliki fisik yang lebih kuat dari wanita, hingga menganggap bahwa laki-laki memang ditakdirkan untuk lebih diutamakan.

Lebih ironis lagi ketika sebagian kalangan memandang ajaran-ajaran agama menjurus pada ideologi patriarki. Perasaan inferior dan kekecewaanpun muncul dari kaum wanita dan memicu mereka untuk mengambil tindakan. Akhirnya muncul gerakan-gerakan yang menuntut persamaan hak dan kedudukan di berbagai bidang, termasuk merekonstruksi aturan agama yang sudah proporsional. Kemudian terciptalah terma-terma semacam Feminisme, Emansipasi, dan Gender Equality.

Padahal, sebenarnya bukan masalah persamaan yang menjadi inti utama dalam membahas feminisme, tapi proporsionalitas dalam melihatnya. Kelembutan perasaan adalah keistimewaan bagi wanita yang lebih memberikan potensi takwa. Bila ia disatukan dengan ilmu, akan menjadi kekuatan tersendiri. Sebaliknya, bila ia tidak disertai dengan ilmu, maka akan menjadi sumber kelabilan jiwa. Sangat disayangkan bila wanita menganggapnya sebagai kekurangan dan berusaha mengeliminasinya dengan rasio agar sama dan tak kalah dengan pria.

Akal wanita tidak kurang untuk mencerna ilmu. Sedangkan pria juga membutuhkan perasaan untuk bertafakkur. Pria juga membutuhkan kelembutan hati yang akan memberikan emosi stabil dalam menyertai rasionya saat berfikir. Tak ada yang harus merasa lebih dan menganggap yang lain berada di bawahnya.

Meminjam kalimat Bapak Hendri Tandjung, MA., MM., : “Ngeri juga kalau isi dunia hanya Hard Science. Karena Hard Science tanpa Soft Science ibarat manusia tanpa daging, hanya tengkorak...” Begitu juga rasio tanpa dibarengi perasaan ibarat raga tanpa daging, hanya tengkorak yang rapuh. Itulah mengapa Relasi Gender tak harus dipahami sebagai perseteruan dan pertarungan antar kelompok (class struggle). Melainkan dalam perspektif kerja-sama dan hubungan timbal-balik, dalam arti saling menopang dan bahu-membahu membangun keluarga, bangsa dan negara, saling mengisi, saling melengkapi, saling mengerti dan saling menghargai satu sama lain.
Wallahu a’lam bisshowab.

Referensi:
1. Anis Ahmad, Women and Social Justice: An Islamic Paradigm, Institute of Policy Studies, Shirkat Printing Press; Lahore 1991
2. Zahratunnisa, BA, Muslimah di Ruang Pemikiran, An-Nahdlah edisi Juni 2006

NB: Tulisan diatas pernah dimuat di Majalah Dinamika edisi September 2007, majalah yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI (Persatuan Pelajar & Mahasiswa Indonesia) di Pakistan.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Perempuan...  

Wednesday, August 15, 2007

Oleh: Aini Aryani M.


“HUH…CUMA PEREMPUAN!!!”
Desau meremehkan yang sering didengarnya dari mulut makhluk jumawa bernama LAKI-LAKI. Underestimate. Ia benci…!!! “Aku bukan perempuan biasa. Aku mampu menyaingi makhluk-makhluk pongah itu,” ikrarnya dalam hati. Kenapa tidak???? Bahkan dirinya pernah menyingkirkan sejumlah laki-laki dalam sebuah olimpiade sains dunia.

Perempuan paro baya itu tersenyum mendapati pernyataan seorang Sosialis hebat, Friedrich Engels yang merujuk pada teori Marxis klasik bahwa perubahan status perempuan hanya dapat terjadi melalui revolusi sosialis, perempuan akan mencapai keadilan sejati jika urusan domestikasi diubah bentuk menjadi industri sosial, dan mendidik anak menjadi urusan publik.

Yeah...konsep ini yang ia cari. Ia tak suka melihat para wanita menjadi abdi suami mereka, menjadikan diri mereka kelas kedua dalam rumah sendiri, dan hanya bisa diam ketika posisinya ditempatkan dibelakang laki-laki. Lihat saja dalam ritual shalat bersama. “Uffhh....budak kontemporer yang tunduk pada si Pemasung kebebasan perempuan” desisnya. Ia heran, mengapa begitu banyak wanita yang malah menikmati itu semua.

Gamang menyelusup di ruang dalam hatinya, lalu bermimpi andai dirinya sehebat Mary Wollstonecraft (Amerika), Helene Cixous (Prancis), Julia Kristeva (Bulgaria), Fatimah Mernissi (Maroko), Taslima Nasreen (Bangladesh), Riffat Hassan (Pakistan), Ashgar Ali Engineer (India), Huda Sya’rawi (Mesir), Aminah Wadud Muhsin (Malaysia), atau Gadis Arivia (Indonesia). Tentulah ia dapat memangkas cara berpikir kaumnya. Paling tidak, agar mereka tak lagi menjadi budak laki-laki. Dirinya sanggup berada di garda terdepan demi mengusung Gender Equality, di segala bidang kalau perlu. Ya...di segala bidang, tanpa diskriminasi...!!

Peristiwa The Love Boat...
Berbagai eksperimen untuk membuktikan bahwa PRIA DAN WANITA SERATUS PERSEN SAMA telah menyebabkan banyak kerugian. Tahun 1997 pemerintah Inggris memberlakukan “Gender Free Approach” dalam merekrut tentaranya dan mengadakan ujian fisik yang sama kepada kadet pria dan wanita. Yang terjadi adalah tingkat cedera yang tinggi di kalangan kadet wanita. Dalam Perang Teluk, satu per 10 kru wanita Kapal Perang Amerika USS Acadia dikembalikan karena hamil di perjalanan menuju atau di medan perang, sementara jumlah tentara pria yang dikembalikan: Nol. Kapal itu kemudian diolok-olok sebagai The Love Boat.

Hiyyy...ia merinding. Ternyata fisik wanita dan pria memang tak sama kuat. Tapi baginya itu bukanlah sebuah excuse untuk menjastifikasi superioritas laki-laki atas kaumnya. Lalu kenapa wanita mau memasung hak dan freedom-nya demi laki-laki??? Apa yang mereka cari??? Mengapa Tuhan menetapkan peraturan yang begitu patriarkal??? Adakah laki-laki lebih mulia dihadapan-Nya karena alasan itu??? Jika ia, sungguh malang dirinya dengan kodrat sebagai wanita. Haruskah dirinya berpaling pada agama lain yang mungkin meninggikan derajad kaumnya???.....Jiwanya merintih. Menggugat Tuhan. Meragukan keyakinan.

Talmud (kitab aturan kehidupan pribadi & peribadatan Yahudi):
“Berbahagialah orang-orang yang mempunyai anak laki-laki, dan celakalah orang-orang yang mempunyai anak perempuan.”

Aristoteles (Filosuf Yunani):
“Kekuasaan orang-orang yang bebas terhadap para budak adalah salah satu bentuk hukum alam; demikian pula kekuasaan kaum lelaki atas kaum perempuan....”

Kitab-kitab landasan perundang-undangan Hindu:
“Budak, istri (wanita) dan hamba sahaya tidak boleh memiliki harta.” (Manu 8:46).
“Wanita dan binatang mesti ditekan dengan kekerasan.” (Ramayana).
“Dengan wanita tidak boleh dilakukan persahabatan, karena hati wanita adalah lubang srigala.” (Regweda).

John Chrysostom (Pendeta Kristiani):
“Karena wanitalah, setan memperoleh kemenangan dan karena itu pula surga menjadi hilang. Dari segala binatang buas, perempuanlah yang paling berbahaya.”

Carl Vogt (Penganut Paham Darwinisme):
“Dimanapun kita merasakan pendekatan terhadap jenis binatang, perempuan lebih dekat dengannya daripada laki-laki...Oleh sebab itu, kita akan menemukan lebih banyak kemiripan (menyerupai kera) jika kita mengambil wanita sebagai patokan.”

Perempuan itu merinding. Jiwanya bergetar. Geram. Hanya satu kata yang dapat mewakili perasaannya; “Biadab!!!”. Baginya, pandangan-pandangan itulah yang berporos budaya patriarki. Bahkan menganggap wanita sederajad dengan binatang. “Benar-benar inhuman,” pikirnya. Ternyata memang hanya agamanyalah yang memuliakan wanita.

Begitu banyak pelanggaran dalam islam yang hukumannya berupa membebaskan budak wanita. Begitu banyak pula adat-adat tak manusiawi yang dihapus oleh Islam, semacam Nikah ad-Dayzan , Nikah as-Syighār , Nikah al-Badal , Zawaj al-Istibdhā‘ , Nikah Mut’ah ,dll. Tidakkah itu artinya Islam datang dengan membawa kemuliaan bagi kaumnya??

Islam tidak memandang bahwa laki-laki lebih tinggi dihadapan Allah hanya karena menjadi kepala rumah tangga, imam atau berdiri di shaf depan wanita. Karena masing-masing tentunya mendapatkan ganjaran yang sama dalam melaksanakan tugas yang sudah dibagi-Nya. Yang menjadi patokan hanyalah satu: “Tingkat Takwa”, dan itu tak ada relasinya dengan gender. Siapapun mampu dan dipersilakan berlomba-lomba mencapainya.

Bagai salju di musim panas. Uraian tersebut sungguh menyejukkan hatinya. Menebas paradigma negatifnya hingga tumbang. Ya…kenapa ia baru menyadari itu semua di usianya yang setua ini. Hampir saja ia tergelincir ke jurang feminisme radikal. Padahal paham itu lahir dalam konteks sosio-historis khas di negara-negara Barat terutama abad XIX–XX M ketika wanita tertindas oleh sistem masyarakat liberal-kapitalistik yang cenderung eksploitatif. Sedangkan dirinya bukan bagian dari mereka.

Ah...sungguh beruntung menjadi seorang muslim/ah, memiliki budaya yang jauh beradab dari mereka yang mengaku beradab, tapi moral terbelakang. Buktinya....mereka menyamakan wanita dengan binatang, sementara mereka tak bisa hidup tanpa wanita.

Dalam remang, ia bersujud. Bersyukur Tuhan masih merengkuh hati dan otaknya. Man izdada ilman wa lam yazdad hudan, lam yazdad minaLLAHi illa bu’dan. Seseorang yang bertambah ilmunya tanpa hidayah, akan membuat jarak semakin jauh antara dirinya dengan Allah. Karena hati yang tak berdzikir adalah mati, sedangkan otak yang tak bertafakkur mendekati kufur. (Nie, Summer 2007))

Notes:
Nikah ad-Dayzan: bentuk nikah dimana anak sulung laki-laki dibolehkan menikahi janda mendiang ayahnya (ibu tiri).

Nikah as-Syighar: bentuk nikah dimana dua orang bapak/saudara laki-laki saling menyerahkan putrinya/saudari perempuannya masing-masing kepada satu sama lain untuk sama-sama dinikahinya tanpa mahar.

Nikah al-Badal: bentuk nikah dengan cara saling bertukar isteri hanya dengan kesepakatan kedua suami tanpa perlu membayar mahar.

Nikah Istibdha’: bentuk nikah dimana seorang suami boleh dengan paksa menyuruh isterinya untuk tidur dengan lelaki lain sampai hamil dan setelah hamil sang isteri dipaksa untuk kembali kepada suaminya semula, semata-mata karena mereka ingin mendapatkan bibit unggul dari orang lain yang dipandang mempunyai keistimewaan tertentu.

Nikah Mut’ah: bentuk nikah dimana masa penikahan hanya berlangsung sesuai perjanjian kedua belah pihak (semacam kawin kontrak)

*Tulisan diatas pernah dimuat di Buletin An-Nahdlah PCI-NU cabang Pakistan edisi Agustus 2007

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Menyibak Tabir di Rimbun Jati  

Saturday, August 11, 2007

Oleh: Aini Aryani

Pijar bola api meredup, menyisakan sedikit sinarnya di gumpalan awan barat, hingga senja terlukis dalam jingga yang mengagumkan. Seorang pemuda memandang lukisan alam tersebut penuh takjub, maha karya alam yang tak tertandingi oleh karya lukis manapun, mengingatkannya pada pelukisnya yang Maha Hebat, hingga terluncurlah pujian tulus sebagai ungkapan kekaguman yang sangat, “Subhanallah… Menakjubkan sekali” gumamnya.

Namun sudut matanya menangkap pemandangan yang sangat berbeda. Di lapangan cukup luas, beberapa orang membawa tumpeng serta beberapa makanan khas desa yang dihiasi kembang tujuh rupa. Mereka meletakkan sesajen tersebut di bawah sebuah pohon besar yang akan dipersembahkan untuk makhluk yang mereka percayai sebagai penghuni pohon tersebut. Aroma kemenyan menusuk penciumannya. Ia menatap pemandangan tersebut geram, “Kapankah kemusyrikan berhenti membodohi para penduduk desa ini, sementara mereka mengaku beriman kepadaNya…”
***

“Zim, makan, yuk. Tadi gue liat si Ipul masak cumi goreng sama tumis kangkung tuh di dapur…” ajak Aril. “Mmhh…aromanya menggoda selera, euy..!!!” celetuknya lagi seraya menuju ruang makan. Hazim mengekornya. Selesai menikmati sarapan, Hazim segera menuju surau. Ia diminta pemuda desa untuk mengisi mentor di surau yang berdekatan dengan lapangan. Sementara itu, Aril dan Ipul menuju sawah luas milik Pak Samsul, kepala desa Damar Jati untuk menemani beliau meninjau pekerja disana.

Seperti inilah kegiatan ketiga mahasiswa KKN tersebut di desa Damar Jati, Jawa Tengah yang memiliki panorama alam yang masih alami dan belum banyak tersentuh modernisasi. Tak heran kalau hutan yang berdekatan dengan desa tersebut terlihat begitu rimbun. Tapi, Hazim merasa ada sesuatu yang ganjil disana, hutan jati yang terletak di sebelah barat desa dikenal paling angker dibanding hutan sekitarnya. Usai mengisi mentor, Hazim menyusul kedua temannya. Namun, tiba-tiba ia tertarik untuk melihat sumber mata air di bawah sebuah pohon besar yang terletak di sebelah barat lapangan. Ia melihat mata air itu lebih dekat, kemudian tersenyum penuh arti.

“Eh, men, tadi Pak Samsul minta bantuan kita buat nyariin solusi gimana caranya biar para warga bisa nikmatin air bersih. Soalnya lu tau kan kalo gini hari lagi kemarau.” ujar Aril. Hazim terdiam sejenak lalu tersenyum.
“Kok malah tersenyum tho, Zim. Mbok ya ikut prihatin sama Pak Kades yang mikirin sawah warganya yang kekurangan air.” Ipul sebal melihat tingkah Hazim.
“Aku punya ide biar para penduduk bisa menikmati air bersih. Tadi sepulang dari surau, aku lihat ada mata air jernih di bawah pohon besar dekat lapangan sana. Aku pikir kita bisa membangun sarana air dibawah pohon agar warga bisa menikmati air tersebut.” Hazim tak sabar mengutarakan pendapatnya. Tapi,

“Pohon besar dekat lapangan bola?” tebak Aril. Hazim mengangguk. Aril dan Ipul saling pandang.
“Waduh, Zim. Orang-orang desa ndak akan ngizinin kita. Pohon itu kan pohon keramat. Nanti malah kita yang kena getahnya. Apa kamu ndak takut santetnya Mbah Suro?” ujar Ipul dengan logat jawanya yang medhok.
“Iya, Zim. Apa nggak ada solusi laen? Gue sih setuju aja dengan pendapat tadi. Tapi, tuh tugas cukup berat kayaknya .” Aril menimpali. Hazim mengerutkan dahi, menyisakan garis-garis vertikal diantara kedua alisnya.
“Kalian masih percaya tentang khurafat en tahayul?!” tanya Hazim heran.
“Yaa gue sih nggak percaya-percaya amat. Tapi… kalo boleh jujur, gue keder juga waktu ngeliat tampang Mbah Suro. Tapi, kalo lu emang maunya gitu, gue dukung kok.” jawab Aril mantap.
“Apa? Mbah Suro suka makan bubur kedele?” Penyakit telmi Ipul kumat. Hazim tersenyum geli. Aril menepuk dahinya.
”Oh God…bukan, Puuulll…maksud gue, kalo boleh jujur, gue keder juga…bukan ngomongin bubur kedele. Aduh, kapan sih lu berenti jadi orang TelMi.!!” kata Aril sebal.

Hazim menghela nafas. Ternyata sulit juga nyatuin persepsi dengan kawan yang berbeda karakter, pikirnya. Aril adalah pemuda kota yang jauh dari lingkungan bernuansa tahayyul. Berbeda dengan Ipul yang berasal dari desa semacam Damar Jati yang masih bernuansa kejawen. Mungkin itu sebabnya mengapa Ipul begitu penakut. Tapi Hazim telah membulatkan tekad untuk membangun sarana air di bawah pohon tersebut. Meski resiko yang mungkin akan ditanggungnya tidak gampang. Segera ia menuju rumah Pak Samsul untuk mengutarakan pendapatnya.
***

“Wah, itu tugas cukup berat, Nak Hazim. Pohon itu dianggap keramat oleh orang desa sini karena letaknya berdekatan dengan hutan jati. Apalagi kalo Mbah Suro sampai marah, bisa-bisa…” kalimat Pak Samsul terpotong. Tapi Hazim bisa menebak kalimat selanjutnya,
“Tapi, Pak. Bukankah itu suatu kemusyrikan? Tidak ada yang mampu melindungi manusia dari pengaruh buruk dunia ghaib kecuali Allah. Jika Dia berkehendak, tidak akan ada makhluk ghoib yang mampu mengganggu manusia. Karena manusia lebih mulia dari jin bahkan dari malaikat sekalipun.” ujar Hazim berapi-api.
“Betul, Pak. Saya setuju dengan pendapat Hazim. ” Tiba-tiba Firman, putera Pak Samsul muncul. “Dari dulu saya kurang suka melihat orang desa ini memuja-muja pohon itu, mendewakan Mbah Suro, bahkan tidak berani mendekati hutan jati itu. Sama sekali tidak rasional. “ lanjut Firman.
“Sebenarnya bapak juga sering memikirkan hal itu. Tapi bapak bingung bagaimana caranya menghilangkan ketakutan yang menghantui warga. Walaupun bapak adalah Kades disini, tapi mereka lebih mendengarkan Mbah Suro daripada bapak.” jelasnya lagi.
“Pak, saya jadi curiga kalo makhluk ghaib di hutan jati yang menimbulkan ketakutan warga cuma rekayasa beberapa oknum yang ingin mengeruk keuntungan tertentu.” jelasnya. Hazim mengangguk setuju. Hampir tidak percaya, ternyata pelosok desa seperti Damar Jati memiliki pemuda secerdas Firman.

“Saya setuju dengan pendapat Firman. Kalau Pak Samsul mengizinkan, saya ingin bekerja sama dengan Firman untuk menyingkap rahasia ini.” ujar Hazim.
“Bapak izinkan. Moga berhasil, Nak. Jangan lupa berdoa kepada Gusti Alloh.”

Sore itu juga Firman beserta ketiga mahasiswa itu menuju mata air yang dimaksud. Namun, langkah mereka terhenti oleh pemandangan aneh. Orang-orang tengah berkerumun tak jauh dari pohon besar. Ternyata, di bawah salah satu pohon jati tergeletak mayat seorang wanita setengah baya. Gaun abu-abu yang dikenakannya bersimbah warna merah darah. Tak ada yang berani mendekat karena pohon jati tersebut masih dalam kawasan hutan, kecuali Mbah Suro. Laki-laki tua itu membaca jampi-jampi kemudian membawa mayat itu ke dalam hutan setelah menyuruh penduduk kembali ke rumah masing-masing untuk membuat sesajen persembahan untuk jin penghuni pohon besar yang tengah kelaparan. Katanya, untuk meredam kemarahannya. Firman dan Hazim hanya bisa menertawakan dalam hati. Jin marah karena kelaparan, lalu membunuh seorang wanita? Benar-benar nonsense, batin mereka dalam hati.

Aril merasakan ada yang menggenggam tangannya kuat. Dia melirik ke belakang. O`o ternyata itu tangan Ipul yang tengah ketakutan.
“Eh, Pul. Ngapain pegang-pegang tangan gue…lu takut ya..!!” tanya Aril. Ipul segera melepaskan pegangannya, lalu menghapus keringat dingin yang membanjiri dahinya. Hazim tersenyum geli.
“Iy..Iya, ngeri banget, Ril. Aku ndak berani ikut campur…” jawabnya polos.
“Masa baru mulai langkah udah mau mundur lagi sih, Pul.” tantang Hazim.
“Kita ndak usah neko-neko, Zim. Sing penting kita slamet. Poko`e aku ndak berani ngelawan Mbah Suro.” katanya masih dengan nada cemas. Firman hanya geleng-geleng kepala. Penakut sekali pemuda ini, pikirnya.
***

Semburat merah mega muncul di ufuk, menghela sedikit demi sedikit warna hitam sekitarnya. Firman terbangun lalu berwudhu`, kemudian mulai melangkah menuju surau untuk mengumandangkan nama Sang Pencipta.
“Werrr…” angin menghembus, ia mendekapkan kedua tangannya berusaha mengurangi dingin shubuh yang menusuk. Tiba di surau, ia segera mengumandangkan adzan lalu menghadapNya khusyu`.

Namun saat ia melangkah untuk pulang, ia mendengar suara berisik yang berasal dari hutan jati yang berdekatan dengan pohon besar . Penasaran, Firman mendekat…
“Suro, jati di belakang rumahmu masih utuh, kan?” Suara seorang wanita yang berbicara dengan Mbah Suro membuat kening Firman berkerut.
“Nyonya ndak usah kawatir, dijamin ndak akan ada yang berani ngambil barang yang saya simpan” Suara berat yang tak asing lagi baginya, Suara Mbah Suro.
“Bagus. Sekarang kamu siap-siap. Bos mau bicara langsung dengan kamu.”
“Saya dipanggil ke Jakarta, Nya?!” tanya Mbah Suro. Wanita itu mengangguk.
“Iya, mungkin bos butuh sedikit bantuan kamu di pabrik meubelnya. Yaa sekitar tiga hari-lah.” jawabnya.
Tak lama setelah itu, truk besar segera menuju belakang rumah Mbah Suro dan mengangkut beberapa kayu jati berjumlah besar. Terdesak dengan rasa penasarannya, Firman mengintip dari balik pohon besar itu. Matanya menangkap wajah wanita setengah baya yang tengah menghembuskan asap rokoknya kemudian menyerahkan segepok rupiah ke tangan keriput Mbah Suro.
Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana? Tanya Firman dalam hati. Ia berpikir keras. Akhirnya ia ingat bahwa wanita tersebut adalah wanita bergaun abu-abu yang tergeletak di bawah pohon jati kemarin sore.

Pagi masih gelap ketika truk yang mengangkut jati-jati itu berlalu disusul Jeep hitam yang membawa Mbah Suro dan wanita tersebut, kemudian lenyap ditelan rimbunnya hutan. Firman segera menuju rumah Hazim dan kedua temannya.
***
“Apa? Wanita itu masih hidup? Berarti…” Hazim mulai menangkap keganjilan.
“Hiiyy..Itu pasti mayat hidup.” sahut Ipul ngeri.
“Huss… jangan sembarangan ngomong. Lu tuh mikirnya yang serem-serem mulu.” timpal Aril. Ipul memonyongkan bibirnya.
“Maksudku, kejadian kemaren itu bisa jadi cuma rekayasa Mbah Suro karena dia menyimpan kayu-kayu yang ditebang ilegal di belakang rumahnya. Makanya, dia meminta wanita itu untuk pura-pura mati agar para penduduk desa makin takut mendekati hutan jati itu. ” jelas Firman.
“Jadi, maksudmu Mbah Suro menyebar cerita menyeramkan agar para penduduk takut dan tidak berani berbuat macam-macam yang bisa membuat kejahatannya tercium?” tanya Hazim. Firman mengangguk mantap.
“Ooh…aku paham, pasti maksud kalian Mbah Suro itu juga penakut. Jadi, aku ndak apa-apa tho kalo takut juga. Lha wong Mbah Suro aja takut kok..” tebak Ipul sok tau. Aril menepuk jidat.
“Aduh, Pul…Pul…jangan keseringan sotoy alias sok tau gitu dong.?..”Aril sebal.
Tiba-tiba satu pertanyaan terlintas di benaknya. “Terus, wanita setengah baya itu siapa dong?!” tanyanya.
“Dari percakapan mereka, sepertinya wanita itu tangan kanan pengusaha Meubel di Jakarta yang membeli kayu jati ilegal dari Mbah Suro. Gimana kalau nanti malam kita datangi sekitar rumah Mbah Suro, siapa tau kita dapat informasi baru. Mumpung dia lagi ke Jakarta. Tapi untuk sementara ini jangan sampai ada yang tau rencana kita.” saran Firman. Hazim dan Aril mengangguk setuju. Mereka bertiga beralih menatap Ipul yang jadi salah tingkah.
“Eenng…tugasku masak aja ya? Sekalian jagain rumah…he..he…Bukannya takut lho, tapi…tapi cuma pengen nunggu rumah aja. Ndak apa-apa, tho? Mmhh…aku ke dapur dulu ya?” dalihnya seraya menuju dapur setengah berlari.
“Dasar penakut.” ejek Aril. “Oiya, gue kebetulan punya handy cam, kira-kira perlu dibawa nggak?” tambahnya. “Good idea.” jawab Firman.

Malamnya, rencana dilaksanakan. Seperti yang diduga, di belakang rumah Mbah Suro ditemukan batang-batang kayu jati, beberapa batang kemenyan, dan tulang-tulang seperti tulang ayam. Firman menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Pantas..!!” gumamnya pelan. “Pantas apanya, Fir?!” tanya Hazim.
“Waktu mengintip aksi mereka, aku sama sekali tidak melihat hidangan makanan di bawah pohon besar itu. Padahal, malamnya banyak para penduduk yang meletakkan sesajen seperti yang diperintahkan Mbah Suro kemaren sore.” jawabnya.
“Maksud kamu, yang menikmati hidangan-hidangan itu Mbah Suro?!” tanyanya lagi hampir tak percaya.
“Bisa jadi.” jawab Firman. Tiba-tiba…
“Men, liat nih apa yang di dalem rumahnya.” Teriak Aril. Mereka mengintip sebagian isi rumah dari jendela yang mungkin lupa dikunci oleh penghuninya. Mereka melihat sisa tumpeng dan beberapa makanan lainnya.
“Kayaknya mereka habis party tuh, tadi shubuh. Mungkin Mbah Suro tergesa-gesa perginya, makanya nggak sempet beresin sisa-sisanya.” Aril berpendapat.

Mereka pulang usai merekam beberapa hal penting. “Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ini bukan hanya membodohi masyarakat dan merugikan negara, tapi juga menodai agama dan membuat orang-orang desa terbawa arus kemusyrikan. Kita harus hentikan secepatnya. Insya Allah besok pagi aku akan berangkat ke kecamatan untuk melaporkan ke pihak yang berwenang sebelum Mbah Suro kembali dari Jakarta.” kata Firman.
“Perlu bantuan? Maksudku, kamu perlu teman kesana?” tawar Aril.
“Mmh…gimana kalo aku sendirian aja yang kesana, karena kalau salah satu dari kalian ikut, itu bisa mengundang kecurigaan. Oiya, Ril hasil rekaman kita tadi mungkin akan sangat berguna untuk bukti.” sarannya.
“Siiip, bawa aja. Nih…” Aril menyerahkan hasil rekamannya. Firman segera pulang dan mengabarkan semuanya pada ayahnya. Paginya, ia segera berangkat menuju kecamatan untuk melaporkan pada pihak berwenang.
**&&&**

“Angkat tangan…!!!” Seorang polisi dengan pistol di tangan menangkap basah laki-laki tua yang tengah menebang jati. Laki-laki itu berbalik lalu terkejut melihat beberapa polisi di sekelilingnya, terlebih ketika matanya bersirobok dengan sepasang mata milik Firman dan ketiga kawannya. Mbah Suro membuang parangnya lalu perlahan mengangkat tangannya tanpa mengalihkan tatapan geramnya pada keempat pemuda di depannya. Tak lama kemudian kedua tangan Mbah Suro terkunci dalam besi borgol.
Mereka tersenyum lega, akhirnya kemungkaran dapat terungkap. Rencana membangun sarana air di bawah pohon tersebut dapat terlaksana. Kekurangan air dapat diminimalisir dan ketakutan para penduduk akhirnya berhasil dilenyapkan.

Hazim kagum dengan kecerdasan dan keberanian Firman. Kehidupan yang jauh dari kebisingan kota tak membuatnya tertinggal dari para pemuda kota sebayanya. Justru itu membuatnya tampak bersahaja. Akhirnya Hazim tahu, ternyata Firman adalah alumnus Al-Azhar University di Mesir yang baru setengah tahun lalu menyelesaikan studinya. Ia menimba ilmu di negeri Ali Jinah tersebut dengan beasiswa karena index prestasinya selalu di atas 3,5. Benar-benar pribadi yang pantas dijadikan teladan.
***

Senja dalam jingganya yang mengagumkan terlukis lagi di langit sebelah barat. Menandakan pijar bola api mulai meredup, memberi kesempatan bagi galaksi lain untuk muncul. Untuk kesekian kalinya, pemuda itu menikmati alam terlukis di kanvas langit sana penuh takjub dan syukur. Seperti rasa syukurnya atas kebahagiaannya hari itu, karena Sang Pencipta lukisan alam tersebut telah mengembalikan kedamaian desanya dari nuansa khurafat yang berbau kemusyrikan. (Nie)

*Tulisan diatas pernah dimuat di Buletin NUN, yang diterbitkan oleh Dept. Media & Informasi PPMI Pakistan, edisi Maret 2007

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


 

Design by Amanda @ Blogger Buster