PUBLIC & PRIVATE COMPANIES  

Thursday, April 24, 2008

INTRODUCTION

a). Private Companies
Private companies are all companies that are not public companies. A private company is not permitted to offer its shares to the public. Due to the capitalization requirements, the vehicle tends to be used for smaller businesses. Where a private company is limited by its shares, shareholders are liable to contribute to the assets any unpaid amount on shares issued to that shareholder. The nominal value of the shares, including premiums payable on subscription, determines the amount which is payable. Where a private company is limited by guarantee, shareholders will be liable to contribute to the assets of the company the amount required for payment of the company’s debts and costs of winding up, up to the maximum set out in the memorandum.

b). Public Companies
A public company must be limited by shares; the memorandum must explicitly state that it is a public company. The name must end with “public limited company” or the abbreviation "PLC". If there is less than two shareholders of the company for more than six months, the single member will be jointly and severally liable with the company for its debts, thus limited liability protection will be lost, as the company does not satisfy the requirements of the Act.

DIFFERENCES BETWEEN THE TWO COMPANIES

1. Private company is privately held. This means that in most cases, the company is owned by the company's founders, management or a group of private investors. A public company, on the other hand, is a company that has sold a portion of itself to the public via an initial public offering of some of its stock, meaning shareholders have claim to part of the company's assets and profits.


2. A private company’s memorandum and articles of association need only be subscribed by two persons, and the members of a private company only incur personal liability for its debt if its membership falls bellow two. While a public company is not so.

3. A private company may commence business on its corporation, it does not hold a statutory meeting or issue a statutory report and it may issue shares and debentures without delivering a statement in lieu of prospectus to the Registrar of Companies. While a public company is not so.

4. A private company may not issue share warrants or freely renounceable letters of allotment in respect of its share. The Companies Act 1948 does not expressly so provide but no effective restriction could be imposed on the transfer of the company’s shares in compliance with the Companies Act 1948, if they were represented by share warrants or such letters of allotment. However, there is nothing in the Act to prevent a private company from issuing bearer debentures or from issuing renounceable letters of allotment in respect of its shares of debentures, provided in the case of shares, that they are subject to some restriction on their transferability both while letters of allotment are outstanding and when they are eventually registered in the register of members.
5. Formation of a public company requires a minimum of two directors. In general terms, anyone can be a company director, if they have fulfilled the required rules. On the other hand, a private company need have only one director. Two or more directors of a private company may be elected by a single resolution at general meeting, a director of a private company which is not subsidiary of a public company does not retire by operation of law at the annual meeting, nor is necessary for a resolution to elect or re-elect such a director.
6. Unless its articles otherwise provide the quorum at a general meeting of a private company is two persons present in person. A member may appoint only one proxy to represent him at such a meeting unless the articles permit the appointment of more than one, and any proxy may speak as well as vote at the meeting.

7. With its annual return a private company must send to the Registrar of Companies a certificate by signed by a director and the secretary that the company has not since the date of the preceding annual return, or, in the case of the first return, since the date of its incorporation issued an invitation to the public to subscribe for its shares or debentures and, if their company’s membership exceeds fifty a further certificate that the excess consists of members who are employees of the company or former employees who became members while employed by it.

8. Difference between the two types of companies deals with public disclosure. If it's a public U.S. company, which means it is trading on a U.S. stock exchange, it is typically required to file quarterly earnings reports (among other things) with the Securities and Exchange Commission (SEC). This information is also made available to shareholders and the public. Private companies, however, are not required to disclose their financial information to anyone since they do not trade stock on a stock exchange.

9. The difference in main advantage: Public company has ability to tap the financial markets by selling stock (equity) or bonds (debt) to raise capital (i.e. cash) for expansion and projects. While private company’s advantage is that its management doesn't have to answer to stockholders and isn't required to file disclosure statements with the SEC. However, a private company can't dip into the public capital markets and must therefore turn to private funding, which can boost the cost of capital and may limit expansion. It has been said often that private companies seek to minimize the tax bite, while public companies seek to increase profits for shareholders.

10. Private companies may issue stock and have shareholders. However, their shares do not trade on public exchanges and are not issued through an initial public offering. In general, the shares of these businesses are less liquid and the values are difficult to determine. A public company has sold a portion of the business to the public via an initial public offering. IPO can generate intense news coverage and going public can be seen as coming of age for companies in hot sectors.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


Adalah Wanita...  

Monday, March 24, 2008

Oleh: Aini Aryani

Kekuatan dalam kelembutan,
Kesetiaan dalam kasih sayang,
Keperkasaan dalam pengorbanan,
Ketabahan dalam senyum,
Ketulusan dalam pengabdian,
Bahkan bahasa cinta dalam airmata,
Dialah…WANITA.

Para wanita sering menganggap bahwa dirinya lemah, tapi sebenarnya merekalah yang terkuat, namun tidak pernah menyadarinya. Seorang bahkan lebih dari 1 orang manusia pun bisa berada dalam rahim seorang wanita yang kemudian dilahirkannya ke dunia dengan keyakinan dan kekuatan.

Wanita diberi pula kesetiaan dalam kasih sayang, juga kepekaan untuk mampu menerjemahkan bahasa bayi yang belum mampu berucap. Seorang ibu sanggup bertahan untuk tidak terpejam ketika sang bayi mulai merengek di malam yang tua. Rasulullah bersabda bahwa Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur karena merawat anaknya yang sakit dengan penuh kasih sayang, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela Agama Allah SWT.

Wanita mulia diberikan keperkasaan dalam pengorbanan. Tatkala Asma binti Abu Bakar melihat Abdullah bin Zubair (puteranya) dibunuh dan disalib, dengan tegar Asma berucap; “Bukankah sudah saatnya prajurit berkuda ini turun dari tunggangannya?” Wanita mulia lain bernama Al-Khansa’ memiliki jiwa setegar karang dan ketulusan dalam pengorbanan. Ia telah menyumbangkan empat orang puteranya di jalan Allah. Ketika mereka terbunuh di medan perang, ia berucap; “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan menjadikan mereka sebagai syuhada di jalan-Nya.” Wanita bahkan diberi keperkasaan yang dapat membuatnya tetap bertahan saat semua orang sudah putus asa.

Wanita memiliki airmata untuk mengungkapkan begitu banyak perasaan yang ia miliki. Ia menangis dalam keharuan, bahagia, kebanggaan yang sangat, rindu yang menyeruak, penantian yang mencemaskan, penyesalan yang mengiris, atau dalam luka yang menyakitkan. Tak semua wanita mampu mengekspresikan perasaannya dalam kata ataupun laku, hingga hanya dengan airmata ia dapat meluapkan apa yang ia rasakan, meski hanya dia dan Tuhan yang tahu bahwa ia tengah menangis untuk seseorang atau sebuah peristiwa.

Betapa uniknya menjadi seorang wanita. Hingga dalam kelembutannya tersimpan kekuatan yang mampu melunakkan sikap lelaki yang membatu. Senyum seorang ibupun mampu mencairkan rasa cemas yang membeku di hati puteranya.

Wanita dianugerahi pula kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tidak pernah melukai isterinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling mengisi dan saling menyayangi. Wanita juga diberi kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sukar dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak..?[]

*Tulisan ini pernah diterbitkan oleh Buletin Dedikasi Pakistan, edisi Maret 2008

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


SEKELUMIT SANGSI  

Saturday, January 5, 2008

(Ketika Angin Atheisme Berhembus)
Oleh: Aini Aryani

Petang tak lagi jingga. Mendung menempatinya. Lalu perlahan menyulapnya dalam warna empedu. Pekat. Hitam menghalangi cerahnya. Ia mulai menerawang. Jauh…

Parmenides, George Wilhelm Friedrich Hegel, Karl Marx, Mao Tse tung, Friedrich Engels, Vladimir Ilyich Lenin, Joseph Stalin, Leon Trotsky, Ludwig Feuerbach, Bruno Bauer, dan berderet nama lain telah berhasil menjamah keyakinannya. Menderanya dalam keraguan. Bahkan mungkin merenggutnya. Yang tersisa hanyalah secuil. Mungkin. Ia melihat nama-nama itu dalam deretan para manusia yang berjejer dalam sebuah advokasi. Advokasi pengusung bendera tanpa tiang. Propaganda keyakinan tanpa iman.

Adalah Iman, satu mustika yang pernah dimilikinya. Dulu. Kini…?? Ah, ia tak tahu. Bukan karena tak mau tahu. Namun sungguh, isi benak yang pernah dipertahankannya telah mengangkasa. Ingin ia meraihnya kembali. Gagal. Ia kini telah menjadi begitu berjarak. Telampau jauh.Bagai nelayan kehilangan dayung atau si buta kehilangan tongkat, ia tak mampu melanjutkan langkah, hanya angin yang kemudian membawanya menuju arus Atheisme.

“Tuhan”…Satu kata itu memunculkan tanya di benaknya. Benarkah Dia ada? Ataukah seperti doktrin yang mereka percayai bahwa Tuhan hanya ada dalam otak manusia? Benarkah bahwa Dia tak nyata? Pernah ia didera rasa bimbang yang sangat oleh satu kalimat yang meniupkan ragu dalam jiwanya, “Coba kau buka cakrawala berpikirmu!! Teori-teori langit terlalu jauh untuk menjawab segala tanya. Kita harus logis, Kawan.”

Uffhh…Benarkah segala sesuatu harus selalu logis dan didasarkan pada akal manusia? Jika tidak, mengapa Tuhan menciptakan akal yang Dia tempatkan di otak manusia, tempat yang begitu sentralis?Pertanyaan-pertanyaan itu sekilas muncul. Terlebih ketika jiwanya digugah oleh sebuah teori ‘Rational Structure of the Absolute’ yang dinyatakan Hegel, seorang filosof Jerman yang terkenal hebat itu; “What is rational is real and what is real is rational…Reason is the Sovereign of the world.”

Hhhh…ia merasa goyah. Namun…tiba-tiba ia teringat lagi tentang satu uraian seseorang yang dulu pernah ia kagumi. Masih segar di benaknya, “Tak semua harus berdasarkan akal. Otak manusia terlampau terbatas untuk menjangkau segalanya.”

Bimbang lagi-lagi mendera. Mengerutkan dahinya. Membentuk tiga garis vertikal diantara kedua alisnya, hingga menautkan dua alis itu diatas sepasang mata elangnya. Ia menengadah ke atas. Ke arah atap bumi. Benar-benar ia telah gelap kini. Bola api penghias petang telah tertelan bulat-bulat oleh mulut malam yang tak sabar ingin menebar pesona dengan menghadirkan satu sabit. Sayang sekali, sang sabit tak mampu saingi kelamnya, hingga pesona itu tak ubahnya menjadi suasana pekat. Gelap. Segelap hatinya yang gundah. Tapi tunggu….bukankah ada nuansa indah dalam gelap??...Elegansi. Ya, tiba-tiba ada yang menggelitik hatinya untuk menyaksikan sekawanan bintang, juga merenungi galaksi lain dalam pesona gelap malam itu. Harmonisasi galaksi.

Jika segala sesuatu harus selalu didasarkan pada rasio, lalu mengapakah harmonisasi yang tercipta antar galaksi di angkasa begitu luar biasa? Tak adakah pengaturnya? Atau jika ada, lebih dari satukah Ia?...Mustahil..!!!
Jika Tuhan hanya ada dalam otak manusia, lalu bagaimanakah cara menjelaskan sebab tenggelamnya kapal Titanic yang katanya anti tenggelam itu?
Bagaimana menjelaskan begitu banyak rencana detail yang dibuat manusia kemudian hancur dalam sekejap?
Jika memang manusia tak butuh Tuhan untuk menuntun arah hidupnya, mengapa ilmu psikologi selalu berkembang ke arah yang menuntun manusia menjadi baik?
Mengapa orang-orang cerdas bisa berkumpul bunuh diri dalam sekte Heaven Gate?

Kini, tak satupun darinya dapat ia ingkari. Akhirnya, ia tiba pada satu keyakinan. Dia memang ada. Pasti. Sang Maha Mengatur. Pencipta segala yang dikehendakiNya. Segalanya tak lebih dari ‘makhluk’ yang suatu saat akan berakhir pada satu titik keniscayaan.[Nie]

*tulisan ini pernah diterbitkan oleh An-Nahdlah, buletin PCI-NU cabang Pakistan

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


 

Design by Amanda @ Blogger Buster